When I Stop Setting and Chasing Life Goals

When I Stop Chasing Life Goals

Saya tau, kalimat di judul di atas tidak akan relevan diucapkan saat saya masih SMA atau bangku kuliah dulu. Sejak dulu, selalu ada keinginan spesifik yang saya ingin capai dengan tenggat waktu atau situasi tertentu.

Perubahan ini semakin tertanam semenjak saya berumur pertengahan dua puluh tahunan. Saya mulai melepaskan segala pemikiran tentang bentuk masa depan yang saya ingin raih.

Hal ini mungkin didorong oleh rasa nyaman sederhana yang saya rasakan ketika saya berhasil menaklukkan hari (sesekali) dengan beberapa atau banyak kebaikan dan kebermanfaatan. Beberapa kali setelah dilewati di antara berbagai hari yang tak produktif, saya mulai berpikir, “ini aja udah bikin seneng banget ya rupanya.”

Saya mulai mengenal rasa puas, penuh, dan membuncah dalam diri ketika hari-hari yang saya lalui berhasil saya jalani dengan penuh kesungguhan, dan pun dengan itu, saya sudah sangat nyaman beristirahat di malamnya dengan perasaan damai.

Saya mulai memanjatkan doa kepada Allah agar saya dikaruniai kenikmatan dalam kebaikan, kebenaran, dan kebermanfaat yang saya lakukan, sehingga saya bisa ketagihan untuk melakukannya lagi dan lagi tanpa butuh dorongan dari manusia atau untuk mendapatkan atensi manusia (lagi).

Saya terus berharap Allah terus membimbing hati, pikiran, dan perilaku saya untuk terus memilih arah yang baik, berkah, benar, dan bermanfaat dan meminta ketenangan batin dari sana, walaupun saya sedang terhambat dalam sebuah/banyak persoalan hidup sekalipun.

Selain itu, saya pun tak lupa menyelipkan doa agar saya terus diberi petunjuk untuk terus percaya akan garis kehidupan yang Allah berikan kepada saya. Karena sejujurnya ketika saya melihat ke belakang, rasanya saya benar-benar sok tau melabeli masalah sebagai petaka dan kesenangan sebagai berkah semata. Karena setelah dijalani lagi beberapa hari, minggu, bulan, dan tahun setelahnya, rupanya ada yang berujung sebaliknya ketika telah dilalui.

Maka itu, saya benar-benar sedang berusaha untuk melepaskan segala keterikatan saya terhadap masa depan yang menghambat saya untuk melakukan kebaikan dan kebermanfaatan di saat ini karena terlalu banyak cemas dan banyak pikir yang mempercepat hari terlewati begitu saja. Karena menurut saya, inti dari kehidupan ini adalah ikhtiar dan tawakal di jalan apapun yang sedang digariskan Allah kepada kita. Untuk apapun yang tersedia di depan mata, berusahalah sungguh-sungguh dan berserah dirilah untuk itu. Dan itu sudah sangat cukup untuk membuat saya bahagia. Semoga kita terus diberi petunjuk untuk terus percaya kepada-Nya. Amin

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.