Photo-by-Hermes-Rivera-on-Unsplash-1024x683

Starting My Zero Waste Lifestyle Journey

Home & Living

Pernahkah kita berpikir satu botol plastik yang kita konsumsi atau satu plastik yang kita dapatkan secara gratis dari pedagang di pasar atau supermarket kemanakah akhirnya?

Saya dulu sangat skeptis masalah lingkungan.

Saat tidak sengaja menonton salah satu video TedxTalk yang diisi oleh Lauren Singer, pada akhirnya saya menyadari bahwa tidak seharusnya saya seapatis itu dengan lingkungan saya.

Saya sangat merekomendasikan Anda untuk menonton video tersebut terlebih dahulu.

Lauren Singer adalah seorang wanita yang tinggal di New York, yang mendedikasikan hidupnya untuk peduli pada lingkungan dan bumi yang kita tinggali.

Saya tau, masalah lingkungan ini memang boring banget. Tapi saya berekspektasi setelah menonton video tersebut, Anda akan berpikir dua kali sebelum membuang botol plastik atau tas plastik ke tong sampah bahkan sembarang tempat.

Mungkin Anda pernah mendengar ini, atau bagi yang belum pernah dengar, saya jelaskan sedikit tentang fakta plastik.

Faktanya membutuhkan waktu sampai 100 tahun untuk menguraikan satu botol plastik yang kita buang tanpa pikir panjang ke tong sampah atau ke tanah. Bahkan ini melebihi umur rata-rata manusia hidup di dunia. πŸ™

Plastik inilah yang pada akhirnya mengendap di laut, menjadi makanan bagi ikan dan mahkluk laut lainnya, karena hewan tidak bisa menyortir mana yang seharusnya menjadi makanannya, mana yang merupakan potongan-potongan plastik (microplastics) yang tidak terurai yang tersebar di lautan sana.

Pada akhirnya, kita tidak hanya mencemari lingkungan, tapi juga mencemari tubuh kita dengan mengonsumsi sumber protein yang telah terkontaminasi dengan bahkan kimia berbahaya dari plastik.

Memang kalau dilihat sehari-hari, dari bangun tidur sampai tidur lagi, kita dihadapkan oleh fakta bahwa hampir semua produk yang kita pakai dan konsumsi packaged from plastics, right?

Beberapa tahun belakangan ini, diramalkan bahwa lautan di dunia akan berisi lebih banyak plastik dibandingkan ikan pada tahun 2050.

Solusi saat ini yang sedang dicanangkan adalah beralih menggunakan biodegradable plastic. Anda mungkin pernah melihat logo biodegrable yang sering digunakan di plastik yang diberi gratis di supermarket (bukan pasar). Lalu apakah ini benar-benar membantu?

Plastik jenis ini sering dibilang sebagai solusi ramah lingkungan bagi penggunaan plastik konvensional selama ini. Tapi laporan terbaru dari PBB malah mengatakan sebaliknya, plastik biodegradable hanya memberi pengaruh sedikit sekali dalam melindungi pencemaran lingkungan, khususnya makhluk laut. Plastik ini tidak terurai dengan mudah di laut. Kenapa? karena plastik ini mudah terurai hanya ketika suhunya 122 derajat fahreinheit, dan ini bukanlah suhu lautan, apalagi plastik yang ada di lautan tidak mengapung di atas laut, melainkan tenggelam, tertimbun atau melayang di dasar laut dalam yang tidak ada akses matahari di dalamnya. Dan sama saja, akhir dari plastik tersebut juga pada dasarnya adalah menjadi makanan bagi makhluk laut.

Solusi seharusnya adalah plastik tersebut dikompos oleh industri, namun sayangnya ini belum menjadi perhatian besar bagi kita semua. PBB mengatakan bahwa setiap menitnya satu truk sampah tumpah ke laut, rata-rata orang Indonesia mengonsumsi 700 kantong plastik per tahun, jika dihitung-hitung, sekitar 100Β  miliar kantong plastik yang dikonsumsi masyarakat indonesia berakhir sia-sia di tanah atau lautan setiap tahunnya. Dalam pembuatan plastik inipun tidak lepas dari faktor tidak ramah lingkungan, 12 juta barrel minyak bumi digunakan untuk membuat 100 miliar kantong plastik tersebut. Angka yang sangat besar bukan? πŸ™

Fakta lainnya, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Indonesia semakin terbatas, bahkan kita mungkin ingat kejadian longsor sampah di Leuwigajah, Bandung, tahun 2005 lalu.

Selain itu, Indonesia merupakan penyumpang plastik ke laut kedua terbesar di dunia setelah China.

Insight ini saya berikan supaya kita semakin sadar bahwa perjalanan plastik yang kita buang “tanpa sadar” ke tanah atau tong sampah sekalipun, sangatlah panjang.

ZERO WASTE ON UNSPLASH

For Lauren Singer, Living Zero Waste means that she doesn’t make any trash, so no sending anything to landfill, no sending anything in a garbage can, and no spitting gum on the ground and walking away.

Cara paling benar untuk mencegah pencemaran semakin berkembang ini adalah dengan mengurangi penggunaan plastik.

“Ok, so I try to reduce plastic.”

“I’ve got my grocery tote bag, and bring whenever I do grocery shopping.”

But, maybe in the back of our mind, we can’t help thinking, “Does any of this actually make a difference when it comes to climate change”?

Perlu kita tau, climate change is a massive problem.

Jadi, untuk pertanyaan Is my reusable bag really going to change the world?

Jawabannya adalah iya, kalau setiap orang di Indonesia setiap harinya mereduce penggunaan satu kantong plastik per harinya, maka dari 250 juta penduduk indonesia bisa mereduce 250 juta kesempatan plastik itu mengendap di tanah dan lautan kedepannya. Ini angka yang sangat besar.

Saya pernah mendengar kalimat seperti ini, “bawa botol air minum tuh gak ngubah banyak, toh lo masih pake plastik lainnya.”

Padahal menurut saya, hal remeh seperti ini yang sering membuat hal besar tidak pernah terjadi, seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, langkah terkecil yang kita ambil sangat mungkin mengubah “kesempatan satu plastik mengendap di tanah, yang memerlukan bertahun-tahun untuk terurai dan malah satu plastik bisa mengurai banyak kimia berbahaya yang membahayakan makhluk hidup di tanah dan di laut.”

That’s the massive shift toward a more sustainable future if everyone do the same thing.

Saat di titik ini, saya benar-benar berkeinginan besar untuk mereduce plastik dalam keseharian saya. Untuk cerita selengkapnya akan saya tulis di blog ini. Semoga sedikit banyak, tulisan ini bisa membuka mata kita tentang kepedulian terhadap lingkungan. Live consciously. My plastic, My responsibility.

2 thoughts on “Starting My Zero Waste Lifestyle Journey”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.