How to Lead a Well-Balanced Life – Mind, Body, Spiritual

HEALTH Personal

Sebelumnya, saya sudah menulis sebuah postingan serupa tentang konsep menyeimbangkan hidup di postingan a balanced-lifestyle by Lisa Namuri. Tulisan tersebut saya buat berdasarkan gaya hidup yang dijalan oleh Lisa Namuri, seorang private yoga instructor. Anda bisa membacanya terlebih dahulu untuk mengetahui dasar pola hidup seimbang yang Lisa ajarkan.

Pada tulisan kali ini, saya akan sedikit mendetailkan mengenai pola hidup seimbang ini berdasarkan sebuah buku yang saya baca yang berjudul 90% Penyakit Bisa Sembuh – Cerdas Menyikapi Sakit. Sebelumnya saya juga sudah menulis satu artikel yang saya adopsi dari buku tersebut yang berjudul Jangan Minum Obat Kalau Sakit dan memang saya berencana untuk terus mereview pengetahuan-pengetahuan baru yang saya dapatkan dari buku tersebut di blog saya kedepannya, karena memang buku tersebut sangat bagus untuk dibaca.

Pernahkah Anda merasa dalam keadaan “tidak enak badan”, namun saat Anda memerikasakan diri ke dokter, dokter mengatakan tidak ada yang salah dengan tubuh Anda?

Saya pribadi pernah mengalaminya. Saat itu, tubuh saya lemas, bernafas tidak teratur seperti sesak, pusing, mual, dan tidak bergairah melakukan berbagai hal, saya mengira bahwa saya menderita asma, namun rupanya dokter mengatakan bahwa saya tidak mengalami gejala asma sedikit pun, saat itu pun dokter bingung ketika saya mengatakan bahwa saya mengalami sesak napas. Rupanya ketika ditelaah lebih dalam, pernafasan saya tidak teratur karena angin di dalam tubuh saya meningkat atau biasa disebut asam lambung, walaupun saya tidak mengalami nyeri sakit lambung seperti yang dikeluhkan oleh mereka yang menderita maag, saat itu dokter mengatakan bahwa saya mungkin sedang dalam kondisi stress yang menyebabkan asam lambung meningkat.

Sejak saat itu saya mulai mencari tau lebih dalam mengenai cara mengelola stress. Saat itu, salah satu teman saya merekomendasikan buku ini untuk saya baca.

Mari saya jelaskan secara detail mengenai pola hidup yang diajarkan oleh Yutaka Okamoto yang merupakan penulis buku ini.

Keadaan “tidak enak badan” yang mungkin dialami oleh banyak orang kemungkinan besar diakibatkan oleh ketidakseimbangan sistem saraf otonom pada tubuh. Sistem saraf otonom adalah saraf-saraf yang mengatur sistem metabolisme, pernapasan, peredaran darah, pencernaan, hormon, reproduksi, mengatur suhu tubuh, dan mengeluarkan keringat.

Sistem saraf otonon ini terbagi menjadi dua jenis saraf yang bekerja berlawanan, yaitu saraf simpatik dan parasimpatik. Saraf simpatik bekerja lebih dominan saat tubuh sedang dalam kondisi terjaga, tepatnya saat tubuh sedang beraktivitas atau berada dalam kondisi tidak stabil (emosional), sedangkan saraf parasimpatik bekerja lebih dominan saat tubuh sedang beristirahat, bersantai, atau tidur. Sistem saraf otonom ini bekerja secara otomatis.

Ketika Anda dalam keadaan stress akan pekerjaan dan aktivitas Anda maka saraf simpatik akan menjadi lebih dominan. Sebaliknya, ketika Anda juga terlalu santai dalam menjalani aktivitas Anda, hanya berleha-leha saja, maka saraf parasimpatik akan mendominasi.

Dalam buku ini, menjelaskan bahwa menjaga keseimbangan kerja saraf simpatik dan parasimpatik merupakan hal yang sangat penting. Memang penyakit “tidak enak badan” dengan gejala yang saya sebutkan sebelumnya bukan merupakan penyakit yang berat, namun sayangnya jika terus dibiarkan, penyakit ini akan terus berkembang memicu “sel-sel jahat” yang bisa saja menimbulkan kanker. Jika stress mental ini dibiarkan terus menerus, makan bisa saja berkembang menjadi stress fisik yang diawali dengan gejala susah tidur.

Saat stress, saraf simpatik yang lebih dominan dapat menyebabkan tekanan darah meningkat dibandingkan biasanya, adrenalin akan meningkat yang berakibat pada denyut jantung dan dada berdenyut lebih cepat, saya sering mengalaminya ketika saya stress, saya menjadi mudah was-was, khawatir, dan tidak tenang. Adrenalin ini juga dapat meningkatkan tekanan dan gula di dalam darah serta menurunkan suhu tubuh yang mengakibatkan tubuh kekurangan oksigen. Itulah mengapa mereka yang stress terasa seperti sedang mengalami sesak napas. Kenaikan gula darah disebabkan karena gula tidak diserap secara efektif di dalam sel tubuh sehingga gula masih bercampur di dalam darah, gula darah yang berlebih ini dapat menjadi racun ketika bereaksi dengan protein di dalam tubuh, racun ini akan terus menumpuk di dalam tubuh karena tidak dapat dikeluarkan, racun inilah yang akan berkembang menjadi penyakit baru, seperti penyumbatan pembuluh darah.

Sebaliknya, saat saraf parasimpatik bekerja lebih dominan atau saat Anda terlalu santai menjalani hidup Anda, kerja saraf parasimpatik ini akan membuat pembuluh darah melebar yang menyebabkan volume darah meningkat. Hal ini membuat tekanan darah menjadi turun, denyut jantung melemah, dan badan menjadi lemas. Ketika tubuh Anda jarang digerakkan, Anda hanya berleha-leha selonjoran di atas kasur, bermalas-malasan di depan laptop, maka tubuh akan mudah mengalami penyakit “malas gerak”, seperti sembelit, diare, dan gangguan fungsi usus lainnya. Maka tidak heran mereka yang duduk terlalu lama mudah menderita sembelit.

Ketidakseimbangan dua saraf inilah yang berdampak pada terus melemahnya kondisi tubuh secara umum dan rentan terhadap penyakit. Anda mungkin tidak akan pernah tau penyebab penyakit yang Anda derita di kemudian hari, yang mungkin saja diakibatkan oleh stress yang tidak Anda kelola dengan baik. Untuk itu, belajarlah mengenali sinyal-sinyal yang diberikan oleh tubuh Anda, bekerjalah dengan produktif namun jangan lupa berikan hak tubuh Anda ketika tubuh Anda mulai lelah, jangan paksakan tubuh Anda di luar batas, karena tubuh adalah investasi jangka panjang. ๐Ÿ™‚

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.