Our ‘Behind’ Version

Pagi ini, setelah (sayangnya) bangun agak telat, tapi memaksakan diri untuk langsung mandi dibandingkan terus rebahan nyaman di kasur sambil nonton youtube, setelahnya saya lanjut buat nasi goreng dari sisa nasi yang saya simpan di kulkas dengan lauk ikan yang juga nyisa dari masakan yang saya buat kemarin, lalu ditambah dengan lalapan kol supaya (sedikit) menambah porsi sayur pada menu sarapan saya tadi. Akhirnya saya bisa sarapan sambil nonton video youtube dari anniejaffrey. Nikmat bangeeett, akhirnya saya tutup sarapan hari ini dengan nyeduh kopi hitam dan diminum hangat-hangat sampai dingin sambil baca artikel TFD dan terlintas untuk membuat satu tulisan tentang apa yang sedang saya pikirkan belakangan ini.

Sambil mencoba menikmati masa work from home, saya juga ingin menjadikan momen ini untuk banyak berdiam dan memahami perasaan-perasaan yang sering saya rasakan dari dulu, entah itu yang berhubungan dengan diri sendiri ataupun orang lain.

Dan sampailah pada sebuah pemahaman tentang salah satu sifat buruk yang luput saya akui sampai saat ini (pun) yang mana saya sulit sekali memaafkan orang lain yang berbuat salah kepada saya, tentunya pada kadar yang sulit saya tolerir, contohnya jika itu berdampak besar pada kehidupan saya.

Dan dengan mengakui itu, saya pula akhirnya mencari tau lebih dalam bagaimana untuk menangani perasaan-perasaan tidak nyaman kepada seseorang itu seiring waktu. Dan setelah melalui berbagai kesalahan-kesalahan pula yang saya perbuat kepada orang lain, sengaja atau tidak, saya akhirnya belajar untuk memahami sisi belakang orang lain yang mungkin saya tidak tau 100% benar atau tidaknya, namun (sudah barang tentu) sebatas asumsi saya.

Seiring dengan berbagai kesalahan yang saya perbuat tersebut, sekali lagi entah itu sadar atau tidak sadar, saya sempat berharap bahwa orang akan mengerti bahwa saya terlanjur berbuat sebuah kesalahan karena ada penyebab di belakangnya, yang mungkin enggan saya katakan atau pun dikarenakan saya tidak menyadarinya, atau belum ingin mengakuinya karena alasan tertentu.

Ada berbagai karakter yang (terlajur) melekat pada diri saya, yang kadang tertanam tanpa saya sadari atau tidak, entah saya menanamkannya karena sebuah intention khusus atau mungkin memang karena pengaruh pola asuh, keadaan di masa lalu, pengalaman hidup sebelumnya, dan berbagai hal yang mampir didalam hidup saya di hari-hari lalu yang memberi bekas pada hidup saya sebagai karakter yang terbentuk secara sendirinya, entah baik atau buruk pun itu.

Saya mencoba berdamai dengan memberi pengertian bahwa saya tak akan mungkin memahami segala ungkapan bijak yang hadir di buku-buku self improvement atau banyak diperbincangkan orang-orang saat ini sekaligus dalam satu waktu saat saya terlahir di bumi ini, masa terus bergulir dengan sendirinya berikut dengan berbagai apa yang terjadi setelahnya.

Dengan perasaan dan pemikiran tersebut, saya mulai melihat orang lain dengan berbeda. Entah ia melakukan kesalahan secara sadar atatu tidak, saya mencoba untuk mengerti bahwa sangat mungkin ia dan kita melakukan kesalahan sekedar karena kita (masih) tidak tau atau tidak sadar atau sadar tapi terlajur melakukan, atau bahkan karena kita sedang di luar kontrol karena berbagai masalah yang sedang menimpa diri sehingga mimik wajah beserta intonasi bicara tidak sanggup dikendalikan secara benar lagi.

Saya pun sering (kali) melakukannya, dan mungkin pun kita semua pernah melakukannya. Memahami versi belakang orang lain, sekalipun itu hanyalah asumsi sebatas apa yang kita pahami berdasarkan pengalaman pribadi, cukup mampu untuk membuat kita lebih manusiawi melihat keburukan dan kelemahan orang lain.

Dengan itu, akan lebih mudah untuk memaafkan dan menerima satu sama lain kembali ketika ego, nafsu, dan emosi itu mereda. Karena yang mengerikan setelah pergolakan itu terjadi adalah bekas luka dan emosi yang tertinggal yang mungkin mengancam hubungan satu sama lain kedepannya.

Kita benar-benar sedang berjalan di fase kehidupan yang sangat berbeda dengan orang lain. Pemahaman dan perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh garis belakang yang mereka telah lewati. Seburuk-buruknya segala perbuatan, pemikiran, dan perasaan dari orang lain yang mampir di dalam hidup kita, mungkin tak akan mampu benar-benar kita pahami secara baik dan benar mengapa itu bisa terjadi.

Tapi berasumsi baik dengan membaca situasi di belakang mereka, dan mencoba mengambil jeda untuk belajar memaafkannya akan sangat membantu untuk mengobati perasaan luka yang sempat tertoreh pada diri dan juga perasaan benci yang menggerogoti sekian lamanya.

Kita terbentuk dari berbagai perasaan bahagia, sedih, takut, khawatir, marah yang tertimbun dalam diri, yang seringnya sangat sulit menyortirnya dengan baik dan rapi berdasarkan logika. Mereka kasat mata dan seringnya sulit untuk dicerna oleh logika diri, apalagi orang lain.

Di umur saya yang ke 25 tahun ini juga bisa menjadi gambaran bahwa ada 25 tahun fase hidup yang telah saya lewati yang setiap menitnya saya sadar atau tidak sangat mungkin membentuk karakter saya secara perlahan sampai saat ini, saya tetap saja manusia yang tak pernah luput dari satu sifat buruk pun, entah itu kadarnya dominan atau sedikit.

Dan semoga kita mampu melihatnya dengan bijak, tidak terlampau kecewa melihat diri dan orang lain yang terlanjur berbuat salah satu sama lain atau sesederhana manusiawi dalam melihat sebuah ‘karakter yang tak habis pikir’ melekat pada seseorang, karena sesangat aneh atau buruk pun itu berarti ada sesuatu yang ‘sangat aneh dan buruk’ yang terjadi di lampau harinya yang lalu, logika dan asumsi sederhana yang perlu kita pelajari dan tanamakn terus menerus pula pada diri kita.

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.