How To Do a Personal Budget Planning-Challenge

Personal

Sejak mencoba menjalani hidup sehat dalam setahun ini, saya mulai merasa efeknya bagi tubuh saya, disamping tidak mudah sakit, saya menjadi lebih bersemangat, fresh, dan dapat berkonsentrasi dengan berbagai aktivitas saya. Namun di satu sisi, saya pribadi sulit menyangkal jika ingin hidup berbasis natural dan organik tidak mengeluarkan biaya lebih, atau mungkin saya yang belum tau triknya, dan saat ini pun saya sedang dalam proses mencari tau satu per satu tentang seluk beluk healthy living. Mungkin suatu saat saya akan mencoba mengubahnya sehingga tidak memberatkan saya yang notabene masih berstatus sebagai mahasiswa.

Untuk sekarang, saya hanya berusaha untuk belajar mengolah keuangan saya sebaik mungkin dengan mengatur uang kiriman bulanan saya, saya juga tidak mau memberatkan orang tua saya dengan pola hidup yang saya jalani, sembari secara tidak langsung saya mengenalkan kepada keluarga saya bahwa hidup sehat tidak menguras isi kantong yang lebih selama kita pandai mengatur finansial dengan baik. Itulah salah satu hal positif lain yang saya dapatkan dengan mengubah pola konsumsi saya, saya bisa menjadi lebih bijak dalam menggunakan uang.

Saya akui dulunya saya berbelanja makanan dan berbagai produk organik dengan sangat tidak terkontrol, asal ada sesuatu barang yang berembel-embel organik, saya akan langsung membelinya, mungkin ini efek awal ketika saya terlalu freak dengan hidup sehat, tidak mempedulikan needs or wants, sehingga saat saya mengecek saldo rekening saya beberapa bulan lalu, saya shock, kemana larinya duit saya selama ini? Maka dari itu, mulai saat itu saya mulai menahan diri dan mengatur duit saya, namun sayangnya GAGAL terus-terusan.

Seringkali saya tidak kuat menahan godaan untuk membeli berbagai produk, makanan, atau barang apapun. I am really a shopaholic one. Itulah alasan sederhana saya kenapa sampai saat ini saya masih kewalahan untuk mengatur keuangan dengan baik. Kalau melihat cara saya dalam menghemat pengeluaran dulu, memang bisa dibilang tidak realistis, saya memaksakan diri untuk hidup dengan nominal yang tidak mungkin dalam sebulan, saya gila-gilaan memangkas pengeluaran saya, alhasil belum sampai setengah bulan duit saya sudah habis. Ketika saya merasa bahwa usaha saya gagal saat itu, akhirnya saya pun tidak memikirkan lagi berapa budget yang sudah saya keluarkan dalam waktu sebulan tersebut.

Namun, belakangan ini saya mulai resah dan benar-benar ingin mengubah kesehatan fisik, pikiran, lingkungan, hingga keuangan saya dengan seoptimal mungkin. Saya pun akhirnya memberanikan untuk menantang diri saya untuk membuat budgeting program bulanan dimana setiap pengeluaran yang saya lakukan sudah memiliki alokasi dana dengan jumlah tertentu, dan tentunya realistis, tidak mengada-ngada.

Saya pernah membaca sebuah studi yang menjelaskan tentang seberapa banyak waktu yang diperlukan untuk seseorang membangun sebuah kebiasaan baru, hasilnya adalah bahwa kebiasaan yang baik itu harus dipaksakan dan untuk membuat kebaikan itu menjadi sebuah habit, maka kita harus memaksakan melakukan hal yang sama selama kurang lebih tiga bulan berturut-turut, nantinya kebiasaan ini dengan sendirinya akan sulit terlepas dari aktivitas kita sehari-hari.

Sebagai wujud keseriusan saya, akhirnya saya pun menantang diri saya dengan melakukan monthly budgeting program di bulan depan dan memaparkan hasilnya dengan jelas di dalam post di blog saya. Hal ini saya lakukan untuk semakin memfokuskan saya dan membuat saya benar-benar serius  untuk membenarkan keuangan saya yang semakin memprihatinkan.

Langkah awal yang saya lakukan adalah dengan mengkategorikan pengeluaran saya selama ini dan menentukan nominal realistis yang saya perlukan untuk membeli setiap keperluan saya. Pengeluaran bulanan saya berupa.

  1. Belanja Bahan Makanan Mingguan = 400.000/4 minggu
  2. Transportasi = 100.000
  3. Dorm fee = 210.000
  4. Jajan = 90.000
  5. Dana Sewa Hosting = 10.000
  6. Keperluan Bulanan = 90.000
  7. Dana Travelling = 100.000
  8. Budget untuk skin care = 200.000
  9. Sedekah = 50.000

Kalau dilihat dari list tersebut, memang tidak ada dana untuk membeli baju, sepatu, atau berbagai wish list saya lainnya. Namun saya mensiasatinya dengan menjadikan sisa uang yang tidak terpakai di akhir bulan dari kategori belanja mingguan, transportasi, jajan, dan keperluan bulanan untuk membeli wish list. Tentunya ini semakin menantang dan memberikan pelajaran bagi saya, bahwa ketika kita ingin sesuatu, maka harus ada yang dikorbankan. Saya akan mengakalinya dengan menyisihkan uang dengan tidak terlalu banyak jajan dan berjalan kaki kemana-mana, tentu ini berefek kepada tubuh saya juga bukan?

Untuk dorm fee, biaya sewa hosting, dana travelling, dan budget untuk skin care, jumlahnya sudah saya tetapkan dalam sebulan, tidak boleh dipakai untuk keperluan yang lain. Pertama, saya memang harus membayar biaya asrama saya dengan jumlah tersebut dalam sebulan, lantas akumulasi dana biaya hosting saya per bulan nantinya akan saya gunakan untuk membayar biaya sewa hosting saya per tahun, begitu juga dengan dana travelling dan skin care, ketika saya mempunyai waktu libur nantinya, saya bisa menggunakan akumulasi tabungan saya per bulan tersebut untuk berjalan-jalan ke tempat-tempat yang sudah menjadi incaran saya sejak lama, dan ketika produk skin care saya habis, saya bisa langsung membelinya dari sumber dana yang sudah saya tabung jauh-jauh hari, sehingga saya bisa belajar menahan diri untuk hanya membeli skin care yang menjadi kebutuhan saya saja dan menyesuaikan dengan budget yang saya miliki.

Berhubung saya anak rantauan yang kemana-mana bermodalkan angkot, saya tentu perlu budget tersendiri untuk ongkos angkot kemana-mana. Memang selama ini saya sedang membiasakan diri untuk berjalan kaki kemana-mana berhubung saya tidak punya waktu banyak untuk berolahraga. Namun tetap saja saya harus menyiapkan dana untuk berjaga-jaga jika saya dihadapkan dalam kondisi tertentu yang tidak memungkinkan jika saya tidak naik angkot. Lagian, jika uangnya tidak terpakai, saya bisa gunakan untuk membeli barang-barang yang masuk kategori wishlist saya.

Saya juga menyisihkan uang untuk jajan dengan motif jaga-jaga jika sewaktu-waktu saya tidak sempat untuk menyiapkan makanan sendiri dari rumah atau ada kondisi tertentu dimana saya memang harus membeli makanan di luar, misalnya ketika saya yang awalnya tidak berekspektasi akan pulang lebih telat dari biasanya dan tidak membawa makanan dari rumah, maka saya harus membelinya di luar, saya tidak mungkin menahan lapar di jam makan saya.

Mengenai kebutuhan bulanan, saya sudah mendaftarkan beberapa barang-barang kebutuhan saya yang masuk ke dalam kategori biaya bulanan, seperti uang untuk membeli detergen, pembalut, dan lainnya. Karena jika saya mencampur barang-barang ini ke dalam budget mingguan saya, maka tidak akan realistis jika sisa dana yang didapat setelah membeli barang-barang kebutuhan bulanan, digunakan untuk membeli kebutuhan bahan makanan saya dalam seminggu, tidak akan cukup, maka dari itu saya memisahkan keperluan bahan makanan dengan barang-barang yang habis dalam jangka waktu bulanan yang harganya di atas 35 ribu.

Jika nominal dalam list tersebut dijumlahkan, berarti dalam sebulan saya memerlukan dana sebesar 1.250.000 rupiah, itulah uang yang harus saya gunakan sebaik-baiknya dalam waktu sebulan dan berusaha taat dengan aturan yang saya buat sendiri, saya akan langsung menarik tunai uang tersebut di setiap awal bulan, sehingga saya mudah dalam mengalokasikan dan mengaturnya secara manual. Saya takut terjadi kesalahan dan tergiur untuk mengambil uang lebih ketika harus menariknya berkali-kali di ATM. Tidak lupa dengan sedikit menyisahkan uang yang saya punya secara rutin untuk membantu orang lain supaya hati saya semakin tenang, berguna bagi orang lain, dan tidak hanya mementingkan diri sendiri.

Saya sendiri merasa bahwa setiap perempuan membutuhkan dan seharusnya menguasai budgeting skill ini dengan baik. Karena suatu saat mungkin saja pasangan kita mempercayakan keuangan keluarga kepada kita sehingga mau tidak mau kita harus melatihnya dari sekarang dengan mengontrol keuangan kita sendiri. Pembelajaran lain adalah menghindari saya dari perilaku konsumtif secara berlebihan dan tidak merasa bahwa segala keinginan bisa terpenuhi dengan mudah, tentu harus ada perjuangan dan harga yang harus dibayar.

Untuk hasilnya akan saya posting di post bulan depan. Wish me luck !

2 thoughts on “How To Do a Personal Budget Planning-Challenge”

  1. Ternyata seperti itu ya Bu,
    Bagaimana caranya mengatur budget dengan ketersediaan dana yang mepet ya?
    apa yang paling mungkin dikurangi ya, apa makannya, misalnya biasanya makan 3x sehari dikurangi jadi 1-2x sehari?

    terima kasih

    1. halo mas widoyo,
      saya rasa akan lebih bijak jika mas memilah mana kebutuhan dan mana keinginan. jika porsi makan mas dikurangi, itu sama sekali tidak menjawab masalah, karena makan 3x dalam sehari adalah kebutuhan, tidak mengada-ngada. mungkin langkah awalnya bisa dengan mengkategorikan pengeluaran mas selama ini kepada kelompok-kelompok kecil. lalu memangkas pengeluaran tidak sehat yang selama ini mas keluarkan, misalnya biaya untuk paket data telepon selelur yang tidak terkontrol, dsb. Cobalah untuk membuat budget sendiri untuk setiap pengeluaran seperti yang saya lakukan dalam post ini. semoga membantu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.