After Deleting Instagram

Seperti Apakah Mahasiswa Kewirausahaan SBM ITB?

Decluttering & Organizing Personal

Sebelumnya saya memang belum pernah membahas secara spesifik mengenai jurusan kewirausahaan SBM ITB. Pertimbangannya karena saya sendiri sekarang di jurusan manajemen dan tidak tahu secara detail mengenai jurusan ini.

Tadi sore, saya datang ke salah satu event yang diadakan oleh mahasiswa kewirausahaan angkatan saya di PVJ Bandung. Tujuan saya datang tentu saja sebagai salah satu bentuk support saya kepada mereka yang sedang berusaha merintis usaha dari nol, sama seperti saya yang sedang merintis @planme.id dari bawah saat ini. Saya juga ikut tertular energi positif saat bertemu mereka, saling sharing, memberi saran dan pendapat, atau sekedar tertawa bersama saling melepas penat dengan kesibukan masing-masing.

Saya pun tertarik mengulas tentang kewirausahaan dari sudut pandang saya secara pribadi. Mungkin saja beberapa adik SMA di luar sana sedang menjatuhkan hati untuk menjadi salah satu mahasiswa jurusan kewirausahaan SBM ITB.

Jurusan ini menitikberatkan mahasiswanya untuk membangun bisnis dari nol. Tak heran saat menginjak tingkat dua, tepatnya saat pemilihan jurusan, mereka yang berkeinginan untuk masuk jurusan ini harus melewati tahap wawancara terlebih dahulu, biasanya wawancara berisi berbagai pertanyaan tentang bisnis yang akan dirintis kedepan saat sudah masuk ke jurusan wirus.

Semester pertama di wirus, mereka biasanya ditugaskan untuk membuat business plan, disinilah para mahasiswa akhirnya memutuskan untuk membangun bisnis sendiri atau join dengan teman, biasanya mereka akan saling mencari teman-teman yang memiliki passion atau minat yang sama dengan mereka untuk saling bekerja sama dalam merintis bisnis. Ada yang berbisnis fashion, makanan, craft, dan lain-lain.

Di semester kedua, mereka akan mencoba menjalankan bisnis yang sudah mereka rancang dan meninjau apakah bisnis tersebut sudah layak untuk dipasarkan atau tidak, banyak diantara mereka yang menjalankan bisnis tersebut sampai akhir dan ada juga beberapa yang berpindah ke bidang lain atau malah berganti partner bisnis, bisa karena tidak cocok dengan teman sekarang, selisih paham, beda visi, atau bahkan beda karakter yang mencolok. Ini bukan sesuatu yang mengherankan terjadi, sangat wajar jika ada konflik terjadi dalam tim.

Semester ketiga, ketika mereka sudah meninjau kelayakan bisnis yang mereka rancang, bagi mereka yang sudah mantap dengan bisnis tersebut, maka mereka akan terus melanjutkannya sampai akhir. Selanjutnya, saat tingkat akhir nantinya, mereka akan menjadikan bisnis mereka sebagai topik skripsi mereka dengan meninjau berbagai proses yang terjadi dalam keberlangsungan bisnis tersebut.

Sebenarnya lokasi perkuliahan jurusan kewirausahaan terletak di Jatinangor, bukan di Bandung. Maka dari itu, saya tidak bisa leluasa bertemu dengan teman-teman saya di wirus seperti saat tingkat pertama dulu. Maka pada saat ada kesempatan, kami berusaha untuk kumpul dan saling bercerita berbagai hal bersama-sama. Hal menarik yang ingin saya sampaikan adalah saya melihat banyak sekali perubahan karakter yang dimiliki oleh anak-anak wirus, tentu ketika kita jarang bertemu dengan teman-teman kita, saat ada perubahan yang terjadi maka akan sangat mudah terlihat.

Saya merasa sikap mereka lebih tenang, lebih dewasa, dan lebih positif. Saya sempat menanyakan perihal ini kepada teman saya di wirus. Mereka mengatakan bahwa semua itu terbentuk seiring dengan berbagai masalah yang mereka hadapi saat membangun bisnis tersebut. Banyak sekali konflik internal yang terjadi dan berbagai masalah lainnya yang membuat mereka harus dipaksa berpikir dewasa secara mendadak. Saya sendiri sangat percaya bahwa bisnis itu sangat berkaitan dengan psikologi. Dan saya sendiri melihat langsung buktinya pada teman-teman saya ini yang sedang berjuang melawan godaan kenyamanan untuk berkarir di instansi atau perusahaan.

Saya secara pribadi juga sangat merasakan bahwa berbisnis itu sulit, sangat sulit. Dimulai dari saat mencetuskan ide bisnis hingga eksekusinya. Tak heran, beberapa orang putus asa dan akhirnya berhenti. Tapi mereka, teman-teman saya di kewirausahaan berusaha untuk memulainya dari sekarang, berharap saat mereka lulus dari bangku kuliah nanti mereka akan mendapatkan penghasilan yang setara dengan penghasilan pekerja kantoran, tanpa perlu berpikir atau “galau” lagi harus berkarir dimana.

Sejujurnya saya senang bercengkerama dengan mereka, minat saya juga sesungguhnya ada di bisnis, bergabung dengan mereka membuat saya memiliki lingkungan positif dimana kami bisa saling berbagi suka duka bersama, tanpa harus gengsi, merasa tidak enak saat dikritik, atau down ketika beberapa dari mereka berhasil, semua saling support, saling berbagi pengalaman, dan tentunya saling mendoakan agar bisnis yang sama-sama kami geluti sekarang bisa bertahan sampai akhir, tak lupa setiap rintangan yang sudah pasti ada di depan mata bisa dilewati seiring dengan karakter dan mental yang terbentuk semakin kuat.

Semangat berjuang teman-teman, semoga sharing kali ini bermanfaat, jangan lupa follow akun instagram bisnis saya ya @planme.id. 🙂

 

3 thoughts on “Seperti Apakah Mahasiswa Kewirausahaan SBM ITB?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.