I thought that life would pause for a bit

Sejauh saya hidup, beberapa kali pun pernah saya utarakan di tulisan-tulisan sebelumnya, saya hidup seperti di buru waktu. Saya tak nyaman melihat jam karena rasanya pagi dan siang berlalu begitu cepat dan saya bertemu dengan malam terkadang dalam kondisi bertanya “What have you been doing today?”

Saya juga terus menanti hari sabtu dan minggu ketika weekdays dan ketika berjumpa dengan weekend, saya merasa frustasi karena dua hari berlalu begitu cepat dan saya sudah berada di malam senin, seperti saat ini.

Bahkan di pertengahan awal bulan, terkadang saya tak sabar menunggu akhir bulan yang berarti waktu gajian telah tiba.

Dan setelah berbulan-bulan dengan cara berpikir seperti itu, bahkan saya akhirnya menyadari hal lain bahwa saya sudah di pertengahan tahun (lagi).

Saya tak bahagia dengan cara hidup seperti ini. Saya telah menyadarinya dan berusaha mencari tau apa yang salah. Dari mulai membenah diri dengan mengatur jadwal harian hingga membuat plan-plan lainnya agar resource yang saya punya seperti waktu, tenaga, dan apapun yang saya miliki sekarang tidak terbuang sia-sia.

Namun, tetap saja tak berjalan baik. Walaupun di beberapa kali saya mampu melaluinya seperti rencana awal. Namun saya tetap saja tak bersahabat dengan waktu. Setiap melakukan sesuatu rasanya saya seperti tidak menikmatinya, karena mood serta pikiran saya tak sejalan dengan apa yang sedang saya lakukan. Alhasil, semua terlalui tanpa pertinggal yang saya pahami dengan baik.

Tak selesai disitu, pikiran saya kadang carut marut memikirkan apa yang harus saya lakukan setelahnya, apa saja yang harus didahulukan, sehingga saya tidak fokus dengan apa yang sedang saya lakukan.

Saya benar-benar tidak menikmati aktivitas sehari-hari saya, saya berjalan melewatinya dengan ambisi yang tak perlu, agar tak ada waktu yang terbuang, agar semua berjalan sempurna dan seefektif mungkin. Terkadang akibatnya saya lupa apakah sudah melupakan salah satu step di kegiatan yang sedang saya lakukan saat itu. Konyol memang.

Namun beberapa hari ini semua bejalan dengan lebih baik.

Ketika saya pahami, saya mulai melepaskan segala pikiran-pikiran apapun perihal di luar apa yang sedang saya lakukan.

Dulu, saya benar-benar memaksa energi saya untuk menyelesaikan semua hal dalam satu waktu agar saya bisa berleyeh nyaman tanpa memikirkan apapun lagi setelahnya. Pemikiran ini tak pun bertahan lama, karena saya akan pula berjumpa dengan setumpuk aktivitas yang sama atau berbeda di hari berikutnya. Saya terus memiliki habit, perilaku dan pemikiran seperti itu, sampai saya menyadari Life doesn’t get put on pause while you’re finishing those stack of tasks.

Maka memaksakan diri untuk menyelesaikan suatu tugas dalam satu waktu padahal saya juga membutuhkan energi untuk berbagai tugas lain tak menyelesaikan masalah saya dengan baik. Karena setelahnya saya akan kelelahan dan berpikir bahwa saya butuh “reward” karena telah menyelesaikan semuanya (padahal saya berpaling untuk memikirkan ada berbagai tugas lain yang menanti pula untuk saya kerjakan). Saya tidak bagus dalam menentukan prioritas sejak dulu.

Maka untuk itu, saya sedang berusaha untuk bersahabat dengan rutinitas saya sendiri. Saya mencoba untuk menanamkan mindset agar menerima hari itu apa adanya, yang menyenangkan sampai yang melelahkan dan menyebalkan sekalipun. Saya mencoba fleksibel untuk melihat aktivitas-aktivitas saya dan paham betul apa yang menjadi prioritas.

Seringnya saya mengalihkan energi untuk mengerjakan hal lain sampai selelah-lelahnya hanya untuk lari dari mengerjakan aktivitas yang tidak saya senangi. Parahnya dengan lelahnya saya tersebut, saya masih saja menuntut reward untuk berleyeh-leyeh bermain HP seharian tak kenal waktu. Dan ujung-ujungnya saya tetap saja menutup hari dengan tidak bahagia/puas. Karena saya tau, saya meluputkan diri tentang apa yang essential dan prioritas. Secara kasat mata, saya seperti menolak memikirkannya dan fokus mengerjakan apa yang saya nyaman saja.

Semenjak mengakui kesalahan itu, hari-hari saya berjalan mulai produktif, perlahan saya memaksakan diri memulai apa yang seharusnya saya lakukan. Saya mengupayakan untuk tidak menyibukkan diri dan menghabiskan energi untuk hal-hal yang tidak dibutuhkan saat itu juga. Dan lebih dari itu, saya sedang berusaha menikmati setiap aktivitas itu sebaik yang saya bisa, dengan tetap melakukannya dengan totalitas.

Meletakkan kesadaran diri pada aktivitas itu juga saya rasa penting. Maka dengan itu, saya sadar diri untuk mengenal pasti kapan harus menekan tombol pause pada diri sendiri dan kapan harus melanjutkannya kembali.

Dengan itu, walaupun hari tak berjalan semaksimal plan yang saya buat karena saya masih punya banyak distraksi dari dalam dan luar diri, namun setidaknya saya tau, saya sudah mencicilnya satu per satu.

Apapun itu, menurut saya yang terpenting adalah

  1. Be conscious.
  2. Set Priorities
  3. Try to enjoy whatever we have to face at that time
  4. Focus on essential things; to get things done, to learn something from that, because there is always something we can learn whether it’s something we like or hate though.

Ya, saya berusaha men-set mindset untuk totalitas mengerjakan sesuatu, sesederhana faktor pemacunya adalah agar saya bisa mempelajari sesuatu dari itu.

Perjalanan mengenal dan berbenah diri terkadang melelahkan. Namun asalkan kita selalu dalam mindset ingin terus berbenah, saya rasa tidak ada yang sia-sia walapun seperti kasus saya sendiri, yang mana bertahun kebelakang saya telah melalui hari dengan susah payah bahkan mungkin tak meninggalkan bekas yang berarti sekalipun. Namun dengan pemahaman ini, saya pun tau, yang sudah berlalu juga rupanya berarti untuk pemahaman yang saya dapatkan hari ini.

Tulisan ini mungkin akan terkesan complicated bagi sebagian orang, mungkin bahkan sudah ada yang memberi label kepada saya yang berkaitan dengan itu. Namun karakter manusia benar-benar unik dan berbeda. Kita semua sedang mencari celah untuk memahami diri sendiri. Dan memang mungkin tulisan ini akan relate hanya untuk beberapa orang saja.

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.