“Instagram dan Eksistensi”

Personal

Seperti beberapa postingan sebelumnya, saya memang senang sekali menonton berbagai video youtube yang bisa membangun mood positif. Kali ini video inspirasi saya berasal dari salah satu youtuber asal Malaysia, Joanna Soh, saya sudah pernah membahasnya disini.

Dulu, saya tipikal orang yang senang sekali mengunggah foto selfie melalui social media, terutama instagram, yang belakangan saya sadari kegiatan saya saat itu secara langsung atau tidak langsung menjurus kepada kesan pamer. Maka dari itu, beberapa bulan terakhir saya mulai menghapus postingan-postingan lama saya yang cenderung tidak bermanfaat, seperti foto selfie tidak penting. Belakangan saya mulai memposting berbagai foto-foto yang saya anggap menarik, sehingga feed saya tidak hanya berisi foto selfie saja, bahkan saya sudah jarang mengunggah foto selfie sendiri, karena saya pun mulai malu memperlihatkan foto saya yang terkesan fake karena efek kamera yang cenderung mempercantik seseorang. Apalagi setelah menonton video ini, saya mulai sadar sekali bahwa media sosial saat ini cenderung mengumbar privasi setiap orang tanpa batas, dan harusnya setiap orang bisa mengendalikan diri mereka sehingga tidak membawa pengaruh negatif untuk orang lain.

Pengaruh sosial media pulalah yang membuat setiap orang bisa dengan mudahnya mengakses informasi dan aktivitas sehari-hari orang lain sehingga terkadang sadar atau tidak sadar, kita cenderung membandingkan diri kita dengan orang lain, emang ada yang mau unggah foto wajah urak-urakan mereka yang baru bangun tidur? tidak semua orang berani melakukannya. Setiap orang cenderung memilih untuk mengunggah foto yang mereka anggap bagus dibandingkan foto-foto konyol mereka dan inilah yang seringkali mampu mengundang rasa iri dari orang lain atas “kesempurnaan” yang belum tentu benar tersebut.

Saya seringkali melihat mereka yang memiliki paras cantik tampan, namun sayangnya memiliki aura negatif yang mudah sekali tertular kepada orang lain. Ada juga mereka yang memiliki paras biasa saja, namun setiap melihatnya saya merasa teduh sehingga setiap orang yang dekat dengannya merasa nyaman, tidak risih, dan tidak sungkan untuk berinteraksi dengan mereka. Tentu pada akhirnya ini kembali lagi kepada diri kita sendiri, tapi yang pastinya saya sendiri ingin sekali mengubah kebiasaan saya yang sering kali melihat orang lain lantas membandingkan apa yang saya miliki dan apa yang orang lain miliki, malah parahnya dulu saya seringkali bahkan mencari kelemahan orang sehingga saya bisa memastikan bahwa saya memiliki apa yang dia tidak punya, sangat disayangkan bukan?

Saya rekomendasi banget kamu untuk nonton video ini, sangat inspiratif. 🙂

Unfollow Akun yang Tidak Membawa Pengaruh Positif

Beberapa waktu yang lalu, saya mulai mendeclutter akun sosial media saya, salah satunya mengunfollow akun-akun yang tidak penting. Saya hanya menfollow keluarga, teman, dan akun-akun yang dapat memberikan value kepada pengembangan diri saya, misalnya orang-orang yang memiliki minat dalam hal fotografi, kesehatan, bahkan ustdz (ini penting banget, kita perlu disadarkan setiap hari agar tidak terlalu condong duniawi), dan lainnya, sehingga setiap membuka akun sosial media, saya menjadi tertular dampak positif dari mereka dan ingin melakukan hal-hal bermanfaat juga versi saya sendiri, and it is really true. Saya tidak ingin memfollow orang-orang yang hanya concern terhadap apa yang terlihat dibandingkan dengan memposting hal-hal yang memberi faedah bagi followernya.

Stop Comparing YOU to Others

What you know about a person is only through the lens. Benar sekali, setiap orang cenderung memilih untuk mengumbar kesempurnaan hidupnya di media sosial, sesuai kenyataan atau tidak, we dont really know, tapi saya yakin kalau tidak selamanya itu benar, tidak ada orang yang benar-benar memiliki kehidupan sempurna, mereka memiliki kekurangan, dan saya pun memiliki kekurangan, mungkin di hal yang sama ataupun berbeda. Terkadang kita membandingkan orang lain yang memiliki jumlah follower dan like lebih banyak dan cenderung membandingkan dengan kita sendiri. Setiap postingan yang memiliki jumlah likes sedikit, kita cenderung berpikir dan menduga-duga apakah postingan kita buruk atau tidak. Hal inilah yang membuat banyak orang memilih untuk mengunggah fake photos dengan tujuan untuk dilihat orang lain, contohnya mengedit foto dengan sangat niat yang membuat kenyataan jauh berbeda dengan yang diposting.

Lebih baik kita memposting hal-hal positif yang benar-benar menggambarkan diri kita sendiri, no fake, dan berbagi inspirasi-inspirasi yang mungkin saja tidak hanya menginspirasi diri kita melainkan juga orang lain. Pada akhirnya kita sendiri yang memutuskan untuk membangun image seperti apa di mata orang lain, tentu bukan berarti kita bisa bertindak palsu, namun benar-benar menunjukkan diri kita sendiri, tanpa edit, tanpa pencitraan, dan tanpa sombong-sombongan.

Ini juga salah satu bentuk reminder bagi diri saya, share yang bermanfaat, itu saja. Belakangan saya lihat semenjak ada insta strories, kita semakin tidak memfilter postingan yang kita upload di instagram, kalau postingan biasa mungkin kita akan sedikit mempertimbangkan “sesuatu”, tapi saya lihat bahkan saya sendiri terkadang merasa “untuk apa dia posting hal-hal kayak gini?”, “untuk apa gue posting gini-ginian yah? penting banget emang?”

Saya tuh salah satu orang yang sering banget hapus-hapus foto atau insta stories tak lama setelah upload, karena seringnya saya tersadar tiba-tiba, “lah ini penting emang?”.

Saya sedang berusaha, semoga teman-teman yang lainnya juga ya, saya pengen banget sebenarnya lingkungan kita semakin aware terhadap pengaruh sosial media ini kepada diri kita dan orang lain. Kontrol diri itu penting banget. Jadi, yuk lah ya nyebar yang positif-positif aja, yang sekiranya bisa membuat orang terinspirasi dengan apa yang kita posting. 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.