cita-citaku-1024x683

Mau Jadi Apa Kamu?

Personal

Berawal dari gak sengaja sebenarnya, awalnya gak pernah ngeuh sama salah satu youtuber cantik ini, padahal tiap nonton video youtube, video-video gita selalu ada di beranda youtube saya, bahkan direkomendasi sama youtube buat ditonton. Tapi nggak tau kenapa, saya tetap nggak tertarik sama sekali untuk nonton, dulu mikirnya, paling video-video itu isinya gak bermanfaat, cuma ngomongin hal yang gak penting, cuap-cuap gak jelas.

Sampai beberapa waktu lalu, karena penasaran kenapa video gita selalu ada di beranda, akhirnya saya coba tonton salah satu videonya yang berjudul “kuliah di jerman”, salah satu video gita yang viewersnya sampe ratusan ribu, berhubung emang pernah niat banget untuk kuliah di jerman dulu, hehehe.

Kesan pertama? Gila, nih orang outlier banget! Dari satu video sampe berlanjut dengan video-video selanjutnya, saya nonton sampai hampir tamat.

Mungkin karena emang saya ngerasa kalau karakter gita hampir sama seperti saya, cenderung beda sama orang lain dalam hal pemikiran atau bertingkah laku.

Salah satu video gita yang paling saya suka adalah video yang membahas mengenai “cita-cita” ini.

Berbeda dengan gita, kalau dari kecil ia belum tau ingin jadi apa bahkan sampai beranjak SMA, saya pribadi sudah tau ingin menjadi apa suatu hari nanti, tapi sayangnya keputusan itu saya ambil tanpa pikir panjang dan matang, hanya terpengaruh dengan teman-teman saya yang ingin menjadikan berbagai profesi bergengsi sebagai jenjang karir mereka suatu hari nanti. Sehingga dulu saya mikir, saya gak boleh kalah dari mereka, kalau mereka bisa jadi dokter saya juga harus bisa jadi dokter, kalo mereka bisa jadi engineer saya juga harus bisa jadi engineer. Itulah masa-masa terlabil saya dimana saya tidak bisa fokus ke dalam satu hal, serakah, ingin semua bisa, ingin dipandang, ingin dilihat orang lain, ingin dibilang hebat, ingin ini, ingin itu. Kalau Anda baca postingan saya mengenai pengalaman saya salah jurusan, tentu Anda tau jurusan-jurusan apa saja yang sempat mangkir dipikiran saya saat saya kecil hingga remaja kala itu.

Dulu mikirnya, mungkin emang wajib kali ya punya gambaran mau jadi apa di masa depan nanti, alhasil, saya membayangkan terus menerus sepanjang masa SMA saya akan jadi apa saya suatu hari nanti, profesi apa yang bisa mengangkat derajat saya di mata orang lain, profesi apa yang paling bergengsi, profesi apa yang bisa bikin saya kaya raya. Saya aja sampe ngeri sendiri saat mengetik kalimat ini, benar-benar serakah dan mengejar status sosial sekali. Menyedihkan sekali, masa remaja saya dihabiskan dengan meraba-raba hal yang sama sekali tidak berfaedah yang bahkan membuat saya harus mengulang beberapa semester kuliah karena salah jurusan. Itu salah satu kesalahan yang membawa banyak sekali pelajaran bagi saya sendiri.

Alasan saya masuk manajemen sebenarnya karena suatu saat pengen banget jadi pebisnis yang bisa membuka lapangan kerja bagi orang lain. Awalnya saya kira itu passion saya, saya pikir mendalami passion dengan menjadikannya pekerjaan merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri. Sampai ketika saya mulai membuka usaha kecil saya sendiri sekarang, saya mulai stuck, mulai bosan dan jenuh, terus mikir lagi, apa emang ini bukan passion aku sebenarnya ya? Astaghfirullah, galau banget yaaa.. Sama halnya dengan menulis di blog, selain untuk memberikan konten yang bermanfaat bagi orang lain, saya juga gak munafik kalau suatu saat nanti saya pengen menjadi blogger yang mandiri secara finansial yang bisa menghasilkan income dari blog, disamping saya tetap menyajikan konten-konten yang informatif dan berkualitas kepada pembaca. Rupanya hal yang sama terjadi, saya stuck, bosan, dan jenuh ketika menulis, saya gak bisa merancang kata-kata selancar biasanya, saya malas belajar mengenai cara mengatur SEO blog, menulis dengan benar, dan lainnya.

Hingga saya sadar

Kalau mendalami passion itu bukan berarti gak ada lika-liku, bukan berarti aman-aman aja, bukan berarti bisa terus bahagia ketika menjalaninya, masalah pasti dateng, nggak mungkin nggak, yang kadang bisa bikin kita goyah, bosan, jenuh, bahkan jadi gak produktif sama sekali.

Saya sering banget ngerasain yang kayak gini. Yang saya sadari, selama ini saya bekerja merintis bisnis saya dari awal dan merintis blog ini bukan karena minat atau bakat, saya gak pinter jualan, gak pinter menarik orang, gak pinter ngomong, gaya menulis saya masih kacau dan tidak tertata. Tapi alasan saya sebenarnya adalah karena saya pengen, saya pengen mandiri secara finansial, saya pengen gak terikat dengan orang lain saat bekerja, dan yang paling utama, saya pengen memprioritaskan keluarga saya nantinya walaupun saya harus nyambil di sela bekerja. Keputusan menjadi pebisnis dan blogger itu saya rancang karena saya ingin menjadikan keluarga sebagai fokus utama, bukan karena passion saya berjualan atau menulis, bahkan saya masih harus banyak belajar lagi mengenai dunia bisnis dan blog.

Sama halnya ketika saya memutuskan untuk pindah universitas. Saya pindah ke ITB itu setelah pikir panjang. Selain karena memang ingin merasakan berinteraksi dengan banyak orang dengan latar belakang berbeda, saya penasaran gimana sih rasanya kuliah di ITB yang dibangga-banggakan orang. Kenapa ITB itu terkenal? Kenapa banyak orang yang mengidam-idamkan masuk ITB? Apa yang ITB tawarkan sampai orang-orang berusaha sangat keras untuk bisa masuk ke kampus ganesha ini?

Saya pernah ngerasain pengalaman menarik. Waktu itu teman ayah saya pernah nanya, “kuliah dimana put?”, “Manajemen pak”, saya sengaja nggak bilang kalau saya kuliah di ITB, pengen tau respon beliau gimana. Lanjut, beliau ngomong lagi, “Wah kenapa nggak masuk kedokteran aja, sayang uda sekolah di SMA bagus kok malah masuk IPS.” Jreeng jreeeng, maksud lo? Terus ayah saya datang, beliau bilang “nggak papa, daripada dia stress, biar dia ngejalanin apa yang dia suka, uda syukur masuk ITB”. Si bapak ngomong lagi, “oh putri kuliah di ITB?” dan raut wajahnya dari yang skeptis langsung kaget.

Sedih sih, orang-orang mikir kalau kuliah itu menggambarkan status orang, yang kuliah di kedokteran itu yang paling hebat, yang kuliah di ITB itu paling hebat. Padahal banyak sekali dokter sekarang yang nganggur, yang stress karena dia salah jurusan karena terlalu mengejar status sosial dulunya, banyak juga kok anak ITB yang nganggur, yang gak punya pekerjaan, yang harus tetap bersaing ketat dengan sarjana-sarjana dari universitas lain.

Sekali lagi, jangan sampai kita salah langkah, saya jujur sampai sekarang masih susah ngubah sifat saya yang terlalu pemikir dan perasa mengenai apa yang akan orang pikirkan mengenai saya saat saya melakukan sesuatu. Saya bahkan sebenarnya belum 100% percaya diri membuat dan menulis di blog ini, saya membayangkan apa yang akan dipikirkan oleh teman-teman saya ketika membaca postingan-postingan saya, mungkin ada yang mikir “duh, si putri sok-sokan banget deh jadi blogger, ngereview ini itu, sok-sokan kayak gita savitri, andra alodita”, dan berbagai bandingan-bandigan lainnya. Tapi saya mencoba berkomitmen untuk konsisten menulis blog, sebagai bentuk latihan mental dan menguatkan hati saya atas omongan orang lain, berusaha untuk selalu berpikir positif, cuek, dan fokus ke hal yang bermanfaat. Gak mudah emang, kadang saat saya sedang mengetik sebuah tulisan, saya sering menghapusnya lagi dan merangkai ulang kata-kata baru karena takut teman-teman saya yang membacanya akan beranggapan negatif terhadap saya. Saya sedang mencoba mengubah sikap negatif yang paling dominan pada diri saya ini, saya gak mau tertekan, saya gak mau melakukan sesuatu karena orang lain, I dont want to please everyone. Saya ingin belajar memunculkan karakter saya yang sebenarnya di depan orang lain, tidak bermuka dua.

Untuk teman-teman semua yang sedang bingung, jangan lupa libatkan Allah dalam setiap langkah yang diambil, apapun itu asalnya dari Allah, mohon ridha-Nya, jangan sampai kita salah langkah. 🙂

4 thoughts on “Mau Jadi Apa Kamu?”

  1. Berawal dari kegalauan saya tentang akan jadi apa saya di masa depan. setelah membaca postingan ini, saya merasa menemukan teman yang ‘sejenis’. saya membaca hampir semua postingan kakak dan merasa sangat termotivasi kembali dan lebih memaknai arti kehidupan.
    Terimakasih dan semangat terus ya kak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.