kuat-di-perantauan-683x1024

Getting More VS Getting Better – How I Look at Money!

Decluttering & Organizing Home & Living

Kalau lagi ngomongin masalah masa depan, orientasi setiap orang pasti cenderung berbeda-beda ya. Tapi intinya setiap orang pasti pengen mencapai level ternyaman dalam hidupnya, begitu pun juga saya.

Karena uda ngerasain dalam beberapa tahun ini gimana rasanya jadi orang susah, dulu saya mikirnya kalau uda dewasa nanti saya pengen punya pekerjaan yang mapan, bisa beli apa yang dipengenin tanpa harus nunggu atau nahan diri lagi kayak sekarang.

Trus orientasi itu perlahan berubah, seiring dengan saya yang mulai pengen nata hidup lebih baik lagi di berbagai aspek hidup saya. Saya mulai kenal yang namanya gaya hidup sehat, hidup minimalis, dan hidup berkesadaran. Dari situ saya mulai belajar bahwa  materi bukan segalanya. Saya mulai belajar menempatkan diri ketika berbicara tentang uang, saya berusaha dan belajar terus untuk bersikap netral tentang yang namanya “uang”, dalam artian uang bukanlah satu-satunya hal yang membuat saya bahagia, dan juga uang bukanlah faktor utama yang membuat saya atau siapapun terpuruk.

“Yakin gak put kalau uda punya duit banyak, bisa beli ini itu, trus bisa bahagia terus2an?”

Trus, pas balik lagi ke masa sekarang saya juga mikir, “apa ia kamu terpuruk sekarang cuma karena masalah uang doang?”

Yang saya sadari belakangan ini, ini masalah sikap saya aja yang salah, kalau terpuruk karena uang, yakin penyebabnya gara-gara uang? bukannya karena saya yang gak bisa nahan nafsu? terlalu ngikutin gengsi?uang itu benda, gak ada sifat apa-apa, yang salah adalah saya yang salah dalam menyikapinya.

Saya terkadang terlalu meng-elu-elu-kan pengeluaran banget, rasanya kayak strict banget sama duit, setiap pengeluaran itu dipikirin banget buat apa, kesannya uda kayak pelit sama diri sendiri, beneran saya uda sampai fase ini belakangan lalu. Rupanya mindset saya uda buruk dalam memandang materi, saya menjadi tipikal orang yang lebih suka nimbun harta, kalau duit di rekening banyak rasanya jadi seneng, karena kelihatannya hidup bakal aman. Kalau duit lagi dikit, cenderung overthinking, cemas ini itu, padahal kerja aja belom, masih dikirimin uang bulanan dari orang tua juga. Kadang buat budgeting duit untuk sedekah aja mikirnya panjang bangeeettt.

Ada yang kayak saya juga gak sih? 🙁

Dalam islam aja setau saya gak dianjurin buat nimbun harta ya, harta itu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk keperluan yang bijaksana.

Ini pada akhirnya merubah juga pandangan saya dalam melihat saya di masa depan, insya Allah dalam beberapa tahun lagi ya, lah ini uda umur 23 th aja.

Kalau saya mikirnya gini, selama uang yang saya keluarin itu memang benar-benar ke sesuatu hal yang memang saya butuh, maka saya gak pikir panjang banget buat dikeluarin. Ya tapi tetep, biasanya tiap bulan, saya nge-list dulu kebutuhan saya yang uda habis apa aja, jadi prioritas uang bulanan langsung saya alihin kesitu dulu pas orang tua uda ngirim uang bulanan. Nah, karena memang saya uda nganut gaya hidup minimalis dalam setahun belakangan ini, saya tetap strict dengan segala hal yang saya “gak butuhkan” atau “sekedar pengen yang seringnya dua hari setelahnya langsung lupa.”

Saya menjadi orang yang gak terlalu impulsif lagi dengan barang, materi, atau hal lainnya. Kalau masih ada yang masih bisa dimanfaatkan atau dipakai di rumah, yaudah pakai itu aja dulu, sampai rusak atau hilang fungsinya, atau saya uda ditahap yang benar-benar bosan, baru saya ganti baru.

Dan sikap ini menurut saya penting, kita di satu sisi dilatih untuk gak pelit sama diri sendiri dimana semua kebutuhan tetap tercover dengan baik, pengeluaran tetap ke tempat yang bijaksana. Beda cerita kalau saya nahan-nahan diri dari sekarang, padahal ada yang butuh tapi gak dibeli, kalau pun nabung itu biasanya buat sesuatu hal yang lebih bisa dibilang sebagai keinginan bukan kebutuhan, pas barangnya uda dibeli, duit habis, jadinya malah kebutuhan yang gak tercover karena duit uda abis buat barang yang dipengen tersebut. Kalau sifat ini masih dipelihara sampe nanti, alhasil pas saya uda dapat penghasilan sendiri nantinya, saya pasti bablas, mikirnya “dulu aku uda nahan diri, lah sekarang uda ada gaji sendiri, harus dimanfaatin buat menuhin keinginan yang ditahan2 dulu lah.”

Balik lagi ke topik masa depan, saya mulai pikir, saya mau gimana menyikapi hidup nanti? setelah saya bekerja dan punya penghasilan sendiri maksudnya.

Balik ke judul : Getting More or Getting Better?

Kalau saya mikirnya sekarang, saya pengen taraf hidup saya di masa depan jadi lebih baik, kalau sekarang saya belum mampu makan organik selalu, suatu saat saya pengen beralih sepenuhnya ke organik. Tapi dengan mulai belajar mengendalikan keinginan dari sekarang, saya tetap pada pola yang sama di masa depan, kalau gak butuh tas baru, ya jangan dibeli, kalau skin care lama masih ada, ya gak perlu beli yang baru, dan berbagai pertimbangan lain yang mulai saya latih dari sekarang.

Tapi tetap, semakin tinggi taraf hidup seseorang maka pengeluarannya juga akan lebih banyak, saya gak menampik statement ini. Tapi titik perhatiannya adalah di Getting Better, bukan Getting More. Saya makan jauh lebih baik dengan mengalokasikan keuangan untuk membeli bahan makanan yang lebih variatif dan berkualitas dibandingkan sekarang, saya membeli barang-barang yang lebih berkualitas dibandingkan dulu, tapi tetap dengan garis bawah : saya butuh!

I’m trying not to obsessed with stuffs, but experiences!

Duitnya saya alihin buat travelling mungkin, ngikutin private class untuk menambah skill tertentu, dan lainnya. Karena saya sadar banget, gantungin rasa bahagia pada barang atau materi adalah never ending story, karena ini kaitannya dengan nafsu, nafsu kalau diturutin makin menjadi-jadi kan ya.

Tapi sekali lagi, ini proses ya, saya juga lagi belajar ke tahap itu, supaya di masa depan saya sudah siap menghadapi berbagai bombardir iklan, promosi, ajakan, review dari temen, dan lain sebagainya dengan sikap yang lebih bijak. Tulisan ini semoga bisa saya baca lagi beberapa tahun kedepan sebagai pengingat bahwa saya pernah memiliki pemikiran seperti ini dan sudah semestinya saya bersikap yang sama ketika nafsu mulai bersarang di otak. Jadi itu dulu sharing kali ini, semoga bermanfaat. 🙂

 

1 thought on “Getting More VS Getting Better – How I Look at Money!”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.