Adulthood and Its Innumerable Responsibilities

Kurang lebih kalau di hitung, saya sudah hampir 5 tahun merantau, pulang kampung setidaknya 2x dalam setahun, saat lebaran dan libur akhir tahun. Dari masa ke masa, sejak zaman kuliah di bandung sampai kerja di Jakarta, rasanya beban yang harus dipikul bertambah satu per satu, bahkan tanpa saya sadari.

Dimulai dari keuangan, orang tua saya sepenuhnya lepas terhadap tanggung jawab secara finansial kepada diri saya. Dengan pendapatan yang saya dapatkan, saya harus benar-benar mengelolanya sebaik mungkin. Tentu mengelola uang bukan hal baru bagi saya, karena sejak kuliah saya sudah curi start terlebih dahulu. Namun yang berbeda, ada perasaan tambahan yang terlibat disana. Merasakan sekali sulitnya untuk bertarung di pagi hari untuk berangkat kerja, bersabar di dalam busway yang sesak, bertahan untuk terus produktif bahkan ketika yang saya inginkan adalah goleran di atas kasur karena sedang bad mood, dan berbagai hal lainnya. Rasanya sedikit tidak rela untuk mengeluarkan uang, rasanya sedikit merasa bersalah ketika saya terlanjur membeli barang secara impulsif lalu rupanya tidak saya butuhkan. Karena berarti, saya telah menyia-nyiakan hasil keringat saya sendiri.

Ditambah lagi dengan komitmen saya untuk tetap mengurus urusan domestik saya sendiri di kos, di mulai dari memasak, mencuci baju dengan tangan, membersihkan kamar, membersihkan kamar mandi, belanja ke pasar, dll. Rasanya tak ada yang benar-benar selesai dikerjakan, ada saja yang menunggu untuk dituntaskan segera dalam waktu dekat. Dengan beban kerja kantor yang cukup signifikan pula, saya terkadang lelah bukan main, dan sedih bersamaan.

Rasanya pun untuk mengalah dan melonggarkan rutinitas tersebut saya pun belum kepikiran, karena dari dalam diri saya sangat ingin bisa mengerjakannya. Pada hari-hari tertentu, saya cukup menikmati mengerjakan rutinitas tersebut sepenuh hati. Namun memang tak setiap hari keadaan berjalan semulus itu. Yang paling sering menghambat adalah rasa malas dan keinginan untuk bersantai selama mungkin, atau sesederhana karena saya benar-benar lelah dengan rutinitan sebelumnya secara mental dan fisik.

Saya seperti tidak bersahabat melihat jam, waktu begitu cepat bergulir, sedangkan saya belum melakukan apapun yang butuh dituntaskan segera. Setiap kali saya melihat jam, rasanya 15 menit bermain HP dengan membaca buku kenapa kecepatannya berbeda, konyol memang, tapi dengan memikirkan itu saja, saya terkadang kesal sendiri.

Saya pernah membayangkan akan selelah apa jika situasinya nanti adalah saya berperan sebagai ibu dan istri, bahkan pekerja sekaligus. Mungkin jika tidak terlatih dari sekarang, saya akan semakin kesulitan nantinya.

Rasanya idealisme saya untuk mampu mengurus urusan domestik sendiri sehingga saya bisa menyajikan yang terbaik dan tersehat untuk saya dan keluarga saya adalah nilai terpening yang saya adopsi sejak lama, tentu saja saya terbuka dengan kemungkinan yang lain jika situasi tidak sekondusif yang saya pikirkan. Namun untuk sekarang, ketika saya masih sendiri, saya bahagia jika saya bisa menyajikan makanan sendiri dan tidak mengeluarkan budget tambahan untuk beli makan di luar, saya senang jika saya sudah menuntaskan mencuci pakaian, saya senang jika kamar saya rapi. Walaupun besoknya saya akan menemui rutinitas tersebut lagi dengan mood yang sama atau tidak, kadang semua terasa ringan, kadang juga sekedar mencuci piring saja rasanya berat sekali.

Ditambah lagi saya berbagi tempat tinggal bersama orang lain di kosan saya sekarang, otomatis ritmenya terkadang harus disesuaikan dengan orang lain, saya terkadang tidak bisa memasak di jam yang saya tentukan karena harus menunggu orang lain selesai terlebih dahulu menggunakan dapur umum, begitu pun dengan mencuci pakaian di tempat cuci bersama, sampai berjemur pun kadang spotnya tidak ada.

Rasanya berandai-andai untuk memiliki tempat tinggal sendiri selalu muncul di kepala saya. Dan saya sudah seharusnya tidak terus mengejar keidealan itu, jika belum mampu secara finansial, waktu, kondisi, dll, rasaya memang saya harus terus bersabar, ikhlas, dan mencoba menikmati proses ini sebaik mungkin agar saya tidak terus melihat masa depan dan menggerutu di momen sekarang.

Selama kita memiliki hari-hari bahagia sesekali waktu, kita pun berarti masih bisa menghadapinya, walaupun awalnya berat untuk dilalui, namun rasanya puas jika berhasil di lakukan. Dan memang, hari-hari saya bertarung untuk menyelasaikan pekerjaan domestik, pekerjaan kantor, dan mencoba menyelipkannnya dengan beberapa hal yang saya senangi, terus begitu, dan hal lain yang harus saya peluk erat untuk tidak memimpin saya penuh adalah rasa bosan. Saya memang harus berteman baik dengannya agar kami tidak terus berperang untuk menghentikan salah satu, mungkin saya hanya perlu mencari cara agar kedua keinginan untuk produktif dan menjeda ini tetap terpenuhi, yang sedang terus saya cari tau caranya bagaimana.

Hal-hal domestik seperti ini kadang bisa mempengaruhi mood saya di kantor, untuk itu saya pun benar-benar sedang melepaskaskan segala keterikatan dengan situasi, saya mencoba fleksibel dan tak terlalu perfectionist lagi. Saya berusaha untuk melakukan apa yang bisa, namun jika itu tidak berjalan baik, maka terima dan jalani saja. Ini cukup membantu, kata “selalu dan harus” itu benar-benar mengerikan jika menjadi landasan hidup saya terus menerus, kecuali di beberapa hal tertentu yang benar-benar wajib untuk manusia, seperti ibadah. Namun terlepas dari itu, ikhtiar dan tawakal saja, rumus hidup di kondisi apapun untuk saya dan kita semua.

Related Post

2 Replies to “Adulthood and Its Innumerable Responsibilities”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.