sehat-dalam-islam-1024x683

A Self-Confidence Crisis

Personal

Tepatnya mungkin setelah saya wisuda oktober lalu, saya mulai (bahkan mungkin semakin) kehilangan kepercayaan diri saya hampir pada hal apapun. Terlebih dengan status saya sebagai job seeker yang semakin membuat saya tidak punya nilai lebih untuk ditawarkan kepada perusahaan-perusahaan di luar sana.

Saat-saat seperti ini, tidak jarang saya merasa iri dengan orang lain, bahkan kepada mereka yang mungkin memiliki kemampuan biasa-biasa saja, tapi bisa tetap mengemas dan menampilkan diri sehingga tetap menarik di mata interviewer, apalagi dengan mereka yang datang dengan paket sempurna (menurut saya), otak pintar, penampilan menarik, dan pula didukung tingkat kepercayaan diri yang tinggi.

Saya menarik diri selama ini bukan hanya karena titel introvert, yang selalu saya gaung-gaungkan ketika orang lain bertanya kenapa saya terlalu pendiam, faktanya saya meyakini dan tidak berusaha menolak lagi, bahwa introvert tidak ada hubungannya sama sekali dengan rasa malu tampil, malu berbicara, dan lain sebagainya, karena melihat sendiri rekan kerja di kantor yang mengaku introvert, dan saya pun meyakininya, sangat berbeda dengan diri saya sendiri, dia tetap mampu bersosialisasi dengan baik dengan orang lain, walaupun pada banyak kondisi dia akan lebih banyak di mejanya sendiri.

Bedanya adalah tak ada tanggapan “aneh” dari orang lain yang disematkan kepada dirinya, karena nyatanya dia bisa “berhubungan” dengan baik dengan orang lain, beda dengan saya yang terlihat sekali menarik diri dari segerombol orang-orang yang tengah rehat kerja di sore hari dan saling bergurau di salah satu sudut ruangan, bahkan raut wajah tidak nyaman yang saya tampilkan ke orang lain ketika berinteraksi dengan mereka, mungkin mudah sekali terbaca.

Saya sedang berusaha merunut apa yang salah dan apa yang saya rasakan, ketika kondisi tidak nyaman itu datang. Jika teman-teman membaca tulisan saya sebelumnya, jelas sekali saya akui bahwa saya akan percaya diri untuk berbicara atau “tampil” saat kondisi yang saya hadapi nantinya adalah situasi yang membuat saya menang, indikasinya bisa karena saya meyakini bahwa saya akan punya banyak topik untuk diobrolkan, dalam artian pembicaraan yang sedang berjalan kebetulan adalah topik yang saya kuasai, atau mungkin kasus lain seperti saat saya yakin lawan mengobrol saya adalah mereka yang punya respek tingkat tinggi, dalam artian mereka yang dapat memandang saya “tidak berbeda”, atau mungkin jika tingkat respek mereka sudah terlampau tinggi, mereka yang percaya bahwa orang-orang seperti saya adalah orang-orang yang patut “ditolong”, untuk dilibatkan dalam pembicaraan agar saya bisa lebih berani untuk berinteraksi dengan orang lain.

Rumit sekali, ya.

Tapi serumit itulah saya terus berusaha untuk menyelesaikan permasalahan kepribadian saya yang satu ini. Kadang ini cukup bahkan sangat melelahkan, saya dihinggapi rasa takut berinteraksi dengan orang lain hingga menyebabkan penyakit baru, yaitu saya yang terlampau sulit percaya kepada orang lain. Terlampau sering orang menganggap saya aneh dan tidak asyik menyebabkan saya kerap kali membuat asumsi sendiri sebelum berbicara bahkan berhubungan dengan orang lain, bahwa apakah mereka nyaman berbicara dengan saya? Kadang miris rasanya melihat mereka tidak menatap mata saya ketika kami sedang mengobrol, yang saya anggap sebagai indikasi mereka sedang “awkward” dengan kondisi tersebut. Itu yang membuat saya tidak memaksakan diri berinteraksi terlalu lama dengan orang lain, menarik diri, duduk kembali ke meja, kamar, atau tempat saya pribadi dimana saya bisa menghelas nafas sangking lelahnya dengan kondisi seperti ini yang sudah berlangsung berkali-kali.

Saya sangat lelah, jujur saja. Ini juga yang membuat saya sempat berhenti melamar kerja kemana-kemana, karena saya sudah terlampau stuck ketika dihadapkan terlebih dahulu akan pertanyaan “apa kelebihan dan kekurangan dirimu?”. Rasa-rasanya saya bisa merunut banyak sekali daftar kekurangan saya dan kesulitan dalam mengutarakan kelebihan saya sendiri, mungkin interviewer pun merasakannya, mereka pastilah sudah khatam membaca gerak gerik orang lain. Mengetahui hal ini, saya pun semakin terjerembab dalam kondisi lelah untuk maju karena saya belum bisa mengatasi perkara kepercayaan diri ini sampai tuntas.

Saya sering bertanya, kapan saya bisa sampai di titik saya bisa menampilkan diri sendiri apa adanya di depan orang lain? Kapan saya berani menampilkan tulisan-tulisan saya dilihat oleh teman-teman saya tanpa takut dihakimi? Kapan saya bisa bersikap tidak apa-apa kalau orang-orang sedang mengobrol tentang topik yang saya tidak tau, berani tampil dengan pakaian apapun yang saya sedang kenakan, berani menyuarakan pendapat tanpa takut diremehkan, berani datang menghampiri segerombolan orang yang sedang bercengkerama sesekali (karena saya tau terlalu banyak sosialisasi juga menguras energi saya, sampai saat ini, saya sudah tau batasnya seperti apa), atau berani mengajak obrol mereka yang lebih hebat dari saya, atau mereka yang punya selera humor tinggi tanpa harus minder duluan, saya benar-benar tidak senang di posisi awkward, namun seringnya, bukan saya yang memutus kondisi awkward itu di hampir semua kesempatan, ya, lebih banyak mereka yang terampil mengobrol, dan punya banyak topik untuk dibicarakan.

Saya masih terus mencari tau bagaimana cara sembuh dari kondisi ini, jika teman-teman pernah merasakan hal yang sama dan tau obatnya, saya dengan gembira mau menampungnya, mungkin kita punya healer yang sama.

Terima kasih sudah membaca sejauh ini, saya sudah sedikit rileks dengan jujur dan mengakuinya, tinggal mencari cara untuk sembuh dan menjadi makhluk sosial pada umumnya kembali setelahnya, sederhana sekali harusnya, ya.

4 thoughts on “A Self-Confidence Crisis”

  1. Hallo mbak salam kenal mbak. aku mungkin nggak punya soluso baik, tapi coba ajah memulai mbak. Tulisan mbak ini contohnya, baguss kok. Aku sneeng bacanya, enak bacanyaa 🤗😊😉 tetap smngat mbak

  2. hallo kak sepertinya beberapa masalah kakak pernah dan sedang aku rasakan, bedanya aku biasanya menarik diri dari lingkungan keluarga karena mereka rata2 mengenal aku sebagai pribadi yg pendiam dan gak banyak ngomong. satu waktu aku jenuh, kalau ketemu mereka paling cuman senyum,duduk ya udah membosankan. akhirnya aku coba untuk membuka diri dan menjadi sedikit banyak ngomong ternyata setelah dicoba tidak nihil malah diapresisai meskipun biasa saja, dan aku baru sadar beberapa hal, pertama aku memang introvet tp bukan berarti tersembunyi, kedua aku percaya bahwa diriku akan banyak bicara dan respect terhadap situasi tersebut ketika aku nyaman kalau memang aku tidak nyaman dan tidak dihargai maka tinggalkan, dan yg ketiga percayalah kak bahwa orang-orang yg benar-benar menghargai dan respect terhadap kita akan tetap selalu ada apapun kondisi kita, jadi saran aku cobalah untuk sedikit membuka diri dari hal yg kecil dahulu apapun itu kayak ketingalan bis atau ojek coba ceritakan keteman dll agar timbul perbincangan sehingga kita terbiasa, tapi jangan sampai merubah diri kakak hanya untuk menjadi sama karena spesies berbeda seperti kita memang harus ada dibumi buat jaga keseimbangan :)))

    1. Halo wulann, makasih, makasih banget untuk responmu terkait masalahku ya, jujuuurrr, aku seneng banget bacanya, terlebih tau kalau ada yang merasakan hal yang sama sepertiku, kamu benar, berada di tengah memang lebih baik, aku tau pendiamku bukan karena introvert, tapi karena penyakitku yang lain, yaitu issu percaya diri ini, terima kasih banyak sekali lagi, aku akan coba saranmu, kamu juga terus semangat ya untuk upgrade diri. 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.