mindfulness-minum teh

Girls Compete Women Empower – Menjadi Wanita Inspiratif

Personal

Berawal tadi sore ketika saya sedang selonjoran di atas kasur sambil nonton video youtube. Saya akhirnya tidak sengaja membuka akun mbak amel dan menemukan video ini. Sebenarnya mbak amel punya beberapa quotes yang ia favoritkan, dan saya pribadi langsung merasa tersindir ketika mbak amel membacakan quote pertamanya.

Girls compete, Women empower

Kurang lebih maksud dari quote ini adalah kebanyakan cewek tuh sering banget berkompetisi dengan sesama mereka dalam berbagai hal, sedangkan wanita yang pemikirannya sudah dewasa malah melakukan hal sebaliknya, saling menyemangati rekan-rekan mereka walaupun bidang yang mereka geluti sangat berbeda jauh sekalipun, mereka tidak serakah ingin menjadi nomor 1.

Saya teringat ketika saya masih berstatus siswa SMA beberapa tahun yang lalu. Saya bisa dibilang salah satu dari mereka yang selalu ingin menjadi yang pertama dalam segala hal. Saya takut tersaingi, saya takut kalah dengan teman-teman saya, saya bersaing untuk mendapatkan PTN terbaik, semuanya kembali bagaimana saya bisa “terlihat” di hadapan banyak orang.

Baru saya sadari ketika umur saya sudah menginjak angka 20 tahun saat itu, saya merasa tidak tenang atau was-was dengan pola pikir saya seperti itu. Saya merasa tidak ikhlas untuk berbagi ilmu dengan orang lain dikarenakan takut tersaingi, hingga akhirnya teman-teman saya pun menjadi tidak nyaman berteman dengan saya, saya juga sering mengkambinghitamkan teman-teman saya yang memiliki nilai di atas saya dikarenakan mereka berbuat curang saat ujian, dan berbagai hal lainnya.

Saya cukup paham sekarang bahwa sikap saya saat itu 100% salah. Saya mengartikan ilmu sebagai sesuatu yang harus dikompetisikan, yang harus dibanding-bandingkan, dan yang menentukan derajat setiap orang. Sehingga secara tidak langsung saya berlaku tinggi hati dengan membandingkan diri saya dengan orang lain yang kurang mahir dibidang yang saya senangi.

Mungkin karena itulah, Allah menguji saya dengan menunda kelulusan saya di PTN yang saya idamkan sejak lama. Supaya saya mengerti bagaimana rasanya berada di bawah dan dipandang sebelah mata oleh orang lain. Sedikit demi sedikit saya mulai sadar bagaimana rusaknya cara berpikir saya tentang esensi ilmu saat itu.

Hingga sekarang, setelah saya pikir-pikir, kondisi saya saat ini hampir 180 derajat berbeda daripada di SMA dulu. Saya bahkan tidak terlalu memusingkan lagi perihal nilai akademik saya (IPK), saya lebih memfokuskan diri saya melakukan dan mempelajari berbagai hal yang saya minati.

Jika dulu saya akan sangat ketakutan ketika saya skip membuat tugas sekali saja atau memiliki nilai rendah di satu mata pelajaran tertentu. Maka sekarang saya malah sudah beberapa kali skip mengikuti quiz karena lebih memilih melakukan hal yang saya minati, dan saat itu saya malah berpikir, kenapa saya tidak risau sama sekali? padahal saat pengumuman nilai di akhir semester, nilai saya bisa dibilang tidak memuaskan sama sekali.

Bahkan sering kali saya lebih memilih untuk membuka smartphone saya, mencari inspirasi dari Youtube, Google, Pinterest, Tumblr dan lainnya, dibandingkan mendengarkan dosen didepan. Tapi ini hanya saya lakukan ketika mata kuliah yang sedang berlangsung bukan mata kuliah yang saya minati, bukan yang saya fokuskan, atau bisa dibilang mata kuliah yang sering membuat saya bertanya, “ini kepake gak sih di kerja ntar?” Kalau jawabannya tidak, maka saya akan lebih memilih untuk mencari inspirasi lain untuk menambah wawasan saya akan hal yang saya minati.

Tapi, bukan berarti hal ini 100% dibenarkan. Saya mempercayai bahwa di umur saya yang sekarang, saya seharusnya sudah bisa menentukan skala prioritas, jika memang saya bisa mendapatkan sesuatu yang lebih di luar kuliah, saya akan lebih memprioritaskan “hal lain” tersebut. Namun, saya tentunya juga harus bertanggung jawab terhadap orang tua dan terhadap diri saya sendiri untuk lulus tepat waktu dan memiliki masa depan yang cerah setelah lulus dari kampus, caranya dengan sebisa mungkin paham setiap mata kuliah yang ada (jika memang matkul tersebut tidak saya prioritaskan, maka saya tidak akan terlalu mendalaminya) dan menggeluti minat saya secara mendalam, blog ini salah satu realisasinya. Lain halnya jika saya skip kuliah dan hanya membuang-buang waktu untuk melakukan hal yang tidak bermanfaat. Itu salah besar.

Di satu sisi saya bersyukur, usaha saya untuk mengubah mindset saya terhadap ilmu akhirnya mulai berhasil. Saya tidak terlalu takut lagi mendapat nilai yang kurang memuaskan, saya sudah tidak terlalu memusingkan tentang persaingan walaupun teman-teman saya yang lain jauh lebih pintar dibandingkan saya dalam hal akademik. Malah terkadang saya melihat refleksi saya yang dulu pada teman-teman saya yang sekarang. Mereka cenderung tidak mau berteman dengan orang-orang yang mempunyai kapasitas di bawah mereka. Sungguh disayangkan. Hal itulah yang membuat saya semakin tau bagaimana rasanya berada di posisi bawah, bagaimana rasanya ketika orang lain menganggap kamu bodoh secara mutlak, bagaimana rasanya tidak dipercaya melakukan sesuatu karena ketidakmahiranmu, dan bagaimana rasanya tidak menjadi prioritas dalam hal akademik.

Padahal sejatinya setiap orang memiliki bakat, minat, dan fokus yang berbeda yang mempengaruhi bagaimana mereka mengambil keputusan, tidak semua orang ingin fokus akademik, mereka pasti punya pertimbangan masing-masing.

Terkadang kita memang butuh untuk ditegur dan membuka mata bahwa pilihan orang berbeda-beda, yang perlu setiap orang lakukan adalah mensupport setiap pilihan masing-masing, tidak menghakimi dan tidak membandingkan satu sama lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.