wanita berkarir surga

Wanita Berkarir Surga by Felix Y. Siauw

Books to Read Journal

Tinggalkan kenikmatan semu, raih mahkota kemuliaanmu.

Dari awal saya tau buku ini, saya sudah membayangkan bahwa saya tidak akan tertarik untuk membacanya. Apalagi pas tau dari akun ummualila langsung kalau buku ini menuai pro dan kontra dari pembaca.

Setiap membahas soalan peran wanita pasti akan muncul pro dan kontra. Keberadaan buku ini pun nggak semua orang langsung bisa menerima pastinya. Karena seolah buku nya terkesan pro pada wanita yang tidak bekerja Padahal kalo dibaca dengan perasaan ikhlas, dengan hati yang bersih, buku ini hanya berusaha untuk menjaga wanita untuk tidak keluar dari fitrahnya. Menjadikan seorang wanita yang walaupun dia memilih untuk menjadi ibu rumah tangga, dijalaniny dengan ikhlas dan penuh rasa kebanggaan Dan untuk wanita yang sudah berumah tangga tapi memilih untuk bekerja, tidak melupakan kewajiban utamanya sebagai istri dan juga sebagai ibu bagi anak2ny dan juga kewajibannya sebagai seorang muslimah Buku ini penjabaran materi ust @felixsiauw yang berjudul "the best blessing to woman" yang bersama tim @hijabalila dibentuk menjadi sebuah buku Menjadi seorang wanita adalah karunia terindah yang Allah berikan kepada kita. Semoga buku @wanitaberkarirsurga bisa menemani sahabat2ku baik yang memilih untuk menjadi ibu rumah tangga maupun yang saat ini masih bekerja untuk membantu keluarga

A post shared by Ummu Alila, fatih, ghazi n aia (@ummualila) on

Dalam pikiran saya saat itu, pasti isinya mengekang wanita. Percayalah walaupun saya muslimah, saya pernah berpikir apakah memang islam mengekang wanita?

Apakah wanita tidak boleh bekerja?

Apakah wanita tidak boleh berpendidikan tinggi?

Apakah wanita memang tidak boleh keluar rumah?

Apakah wanita hanya dituntut untuk mengurus rumah, anak, dan suami saja?

Saya suka berkarya, lantas apakah saya sebagai wanita tidak boleh menyalurkan hobi saya untuk bekerja?

Apakah saya tidak boleh merantau keluar negeri untuk berpendidikan tinggi?

Sampai pertanyaan lain seperti, Sebenarnya apa hukum poligami pada dasarnya? Kenapa harus berpoligami? Bukankah adil itu sangat sulit?

Atau bahkan saya pernah sampai bertanya dalam hati saya, “iya ya, jaman sekarang mereka yang gak berkerudung aman-aman aja, gak ada yang ganggu, trus gimana dong padahal islam menyuruh menutup aurat untuk menjaga wanita dari fitnah?” Itu saya pertanyakan di benak saya, padahal saya adalah salah satu orang yang memakai kerudung.

Bahkan di lain waktu saya pernah merasakan, “duh, kok ribet dan berat banget ya jadi muslimah.”

wanita berkarir surga inside

Sejujurnya banyak sekali pertanyaan-pertanyaan dalam benak saya dimana saya terus dilanda kebingungan akan perasaan tentang islam yang seperti membatasi wanita.

Saya penasaran dengan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, namun di satu sisi saya takut ketika saya sudah terjun untuk mempelajari, maka saya harus menghadapi kenyataan jika jawaban sebenarnya di luar kemauan saya. Sampai saat itu, saya sendiri sebenarnya ingin sekali untuk membaca buku ini, tapi terlalu takut untuk menghadapi kenyataan.

Satu bulan..dua bulan.. rasa penasaran saya belum juga tersalurkan.. mungkin ini bentuk awal ketukan hati yang diberikan Allah untuk saya agar mau mencari tau lebih jauh melalui rasa gelisah, penasaran, dan ketakutan yang saya rasakan, maka obat untuk menenangkan hati salah satunya adalah dengan mencari tau secara langsung.

Namun pertanyaan lain yang ada di benak saya saat itu adalah bagaimana kalau saya semakin gelisah dengan aturan sebenarnya kalau-kalau memang aturan islam benar-benar sangat membatasi wanita?

Cukup sulit untuk saya mulai mencari tau masalah ini, saya takut dibatasi, karena di satu sisi saya ingin berkembang, ingin berkarir, walaupun pada hakikatnya saya tetap menomorsatukan keluarga. Insya Allah.

Akhirnya saat itu, saya pun membeli buku ini melalui distributor hijab alila bandung, setelah melawan rasa bimbang saya, yang tentunya merupakan bantuan Allah dalam membolak-balikkan hati manusia-Nya.

Sebelum saya membaca buku ini, saya berdoa, “Ya Allah, ikhlaskanlah hatiku untuk menerima apapun ketentuan-Mu, jangan keraskan hatiku, lunakkanlah ia, bantu ia mau menerima, ikhlas, damai, dan bahagia dengan segala ketentuan yang Engkau gariskan kepadaku setelah mendapat jawabannya dari buku ini. Bismillah.”

Saya hanya berharap, semoga setelah mendapat jawabannya, saya mau menerima dan menjalani.

wanita berkarir surga inside 2

Satu per satu halaman saya baca hingga rampung dalam waktu kurang lebih dua jam.

Hasilnya.

Saya mulai tenang. Ust. Felix benar-benar menjabarkannya dengan sangat apik, mudah dicerna hingga pembaca yang berkepala batu seperti saya sekalipun pada akhirnya mau berusaha menerima dengan bijak isi buku ini. Semuanya masuk logika saya sekali. Saya bahkan sedikit sekali membatin dalam benak saya, “Tapi kan…, atau “Loh, kan semua tergantung.., atau ” Ya, kan jaman sekarang beda.”

Jawaban dari pertanyaan saya satu per satu terjawab. Rupanya paham feminisme atau gender equality telah merasuk secara halus dalam diri saya.

Menurut saya, sebelum membaca buku ini, netralkan hati kita, jangan terlalu memihak kepada salah satu sisi, dengan begitu pemahaman itu akan mudah masuk ke dalam pikiran kita, niscaya rasa penerimaan akan garis yang telah diatur oleh Allah akan mudah untuk kita sanggupi dengan ikhlas.

Rupanya islam sangat memuliakan wanita. Kita sebagai manusia terkadang terlalu bersikap “sok tau” menghakimi ini dan itu kenapa begini dan begitu, tanpa mau mencari ilmunya terlebih dahulu dalam bentuk “alasan” kenapa sesuatu itu dilarang atau dianjurkan.

Saya jujur semakin paham hakikat wanita sebenarnya dalam islam. Sungguh wanita dan pria itu tidak bisa disamaratakan, kita punya kelebihan dan kekurangan masing-masing yang menghantarkan kepada peran masing-masing kita seharusnya di dunia ini.

Wanita bukan di atas atau dibawah lelaki, melainkan seharusnya mendampingi satu sama lain, saling menutup kekurangan dengan kelebihan dari masing-masing pihak.

Apakah wanita tidak boleh berkarir? Boleh, tapi harus sesuai syariat, dengan ridha suami, dan tidak melanggar peran utamanya sebagai ibu dan istri di dalam rumah.

Apakah wanita tidak boleh berpendidikan tinggi? Malah sangat dianjurkan, karena ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya dan anak tentunya lebih banyak bertemu ibunya dalam keseharian. Maka dengan pengalaman dan ilmu yang didapat, niscaya suatu saat nanti kita akan lebih mudah menjawab berbagai pertanyaan yang anak kita berikan kepada kita.

Bahkan hingga topik tentang poligami yang sedang hangat-hangatnya diperbincangkan di luar sana, akhirnya saya tau semua bukan karena salah aturan dasarnya, namun manusialah yang menjadikan aturan itu seperti ternodai dan salah kaprah. Padahal jika manusia itu beriman, maka akan berpikir berpuluh-puluh kali untuk berpoligami karena tuntutan “adil” yang harus dipenuhi.

Saya sangat menyarankan buku ini dibaca oleh banyak perempuan di luar sana. Wanita itu santun, lembut, anggun, dan menang di fitrahnya sendiri. Begitu juga dengan lelaki yang memiliki fitrahnya sendiri yang tidak bisa disamakan dengan perempuan.

Kelak, seseungguhnya ketika kedua belah pihak tau kodrat dan fitrah mereka masing-masing.

Maka tidak akan ada lagi rasa kesal ketika istri mengomel atau cerewet di dalam rumah, tidak ada lagi sang istri yang berlaku kesal karena pria terkadang kurang peka terhadap sinyal yang diberikan istri, tidak ada lagi cek cok karena gaji istri lebih tinggi daripada gaji suami, dan lain sebagainya.

Semuanya dibahas di buku ini dengan sejelas-jelasnya, bahkan melibatkan penelitian ilmiah terkait. Sesungguhnya selalu ada alasan kenapa sesuatu dilarang atau dianjurkan di dalam islam, dan semua itu sebenarnya baik untuk umatnya. Rasa berat dalam menjalni aturan tersebut pada dasarnya bisa sirna ketika kita tau balasan apa yang menanti di depan sana untuk mereka yang terus berjuang tetap pada jalan-Nya. Ukuran pahala memang hanya Allah yang menjamin dan mengukur dengan seadil-adilnya, namun bukankah semakin berat ujian yang kita lakukan maka semakin besar pula pahala yang menanti kita pada akhir nanti?

Namun kita manusia terkadang tidak mau menerima karena terlalu menjadikan dunia sebagai kiblat hidup.

Bukan berarti saya sudah baik dalam memahami semuanya, ada beberapa poin yang ingin saya cari tau lebih lanjut. Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, sedikit sekali saya membatin kenapa ini dan itu tidak boleh tapi bukan berarti tidak ada. Setidaknya yang saya syukuri, ketakutan yang saya rasakan di awal dulu mulai hilang, digantikan dengan rasa ikhlas dan mau menerima serta mau mencari tau lebih lanjut, yang sungguh sangat melegakan untuk saya yang sangat achiever dan keras kepala ini.

Itu dulu pembahasan review buku ketiga yang saya bahas di blog ini ya, semoga sharing kali ini bermanfaat. 🙂

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.