tukang galau

Untuk 23 Tahun Hidup – Deal with the Ups and Downs of Life

Personal

Kepada Hati

yang tengah kebingungan akan banyak hal..

yang tengah tersakiti akan hasil akan niat baik yang terintepretasi salah

yang tengah gelisah akan banyak hal yang belum terjawab

yang sering menutup diri ketika kabut kelam menghampiri

yang terkadang menyimpan banyak duka sendiri, disana, tanpa banyak orang tau.

Yang tak suka basa basi, cenderung mengeluarkan isi hati.

 

Kepada pikiran

yang tak pernah berhenti bekerja untuk menelaah

yang terus mencari tau apa yang salah, apa yang benar

yang terus berusaha melakukan pembenaran walaupun salah

atau malah yang terus melakukan penyesalan padahal kata “cukup” sudah berlalu lalang di dalam kepala

yang rentan untuk tumbuh tinggi ketika ditimpa pujian

yang mudah ciut ketika diterpa badai “perbedaan”

yang sering mempertimbangkan banyak hal, ini salah apa benar

yang kadang salah mengambil keputusan akan buah pikiran yang tak matang

 

Kepada jiwa

yang rentan rapuh saat diterpa badai

yang selalu berharap untuk terus diisi kedamaian oleh Sang Maha Pembolak Balik Hati

yang terus menangis ketika bisik-bisik di belakang menerpa

yang butuh disayangi, dilembuti, dan didengar

 

Kepada hati, pikiran, dan jiwa yang terus menuntut ini dan itu

Kepada hati, pikiran, dan jiwa, yang terus menemani kala tubuh ini terus mencari tau kebenaran dari berbagai sisi.

 

Terima kasih untuk kekuatanmu selama ini yang ada semata-mata karena ilham Sang Ilahi.

Terima Kasih untuk terus berusaha menjadi kuat bersamaku..

Terima kasih untuk 23 tahun ini.

Aku mencintaimu..

Temanilah aku lagi mengarungi hidup ini dengan lebih baik lagi,

Untuk mencapai Ridha-Nya

Untuk Menyongsong kedamaian Hidup dalam bingkai aturan Pencipta.

Untuk Mencapai Kebahagiaan yang Hakiki Milik Sang Pemberi.

 

Dua bulan yang lalu saya genap berusia 23 tahun, bukan remaja lagi, tapi juga saya belum bisa mengatakan sudah dewasa sepenuhnya, mental, cara berpikir, dan perasaan saya belum pantas disamakan dengan mereka yang sama usianya seperti saya (mungkin ?).

Banyak yang terjadi belakangan ini, banyak hal yang terkadang membuat saya tertawa, tersenyum, dan banyak juga yang menyebabkan saya bisa diam secara tiba-tiba, menarik diri, di kamar saja, tidak mau berinteraksi dengan orang lain.

Kata orang, saya labil.

“Lagi bahagia ya put?” Kata seseorang, sindiran halus pertama setelah kali waktu lalu saya diam tiba-tiba. Mungkin pikirnya, kemarin diam, sekarang ketawa bahagia, alangkah labilnya ini orang.

Sudahlah, sudah terlalu sering. Faktanya mungkin iya, mungkin juga tidak. Ah, saya tau apa? masih belajar tentang hidup gini kok, apalagi kamu, iya gak? benar atau benar?

Namun, yang pasti saya sedang mencoba, mencoba banyak hal, mana yang seharusnya saya lakukan saat seperti ini, seperti itu, mana yang seharusnya saya hindari, mana yang seharusnya saya rangkul.

Maka dari itu, belakangan ini saya memilih diam.

Ada yang sakit hati? saya minta maaf, mungkin ini memang ujian bagi saya, menarik diri terlebih dahulu, menyaring mana asumsi mana fakta, dan mungkin dalam proses ini saya akan banyak kehilangan sesuatu atau seseorang.

Ketika pikiran ini terlalu banyak berputar-putar, pikir hal ini, pikir hal itu, malah ujung-ujungnya salah mengeluarkan kata, pendapat, dan sikap.

Pada akhirnya saya mencoba merangkul diri saya yang lemah ini seorang diri, tidak apa, lebih tepatnya saya mencoba tidak apa, mencoba berpikir, mungkin ini ujian saya. “Ok putri, kamu sedang diuji.” Sudah cukup, insya Allah saya bisa merasa sedikit lebih tenang, kata saya dalam hati.

Semoga setelah ini saya semakin matang, tau apa yang harus saya lakukan secara benar, yah walaupun ujian tidak ada habisnya, tapi minimal, saya bisa mengendalikan diri ini, menguatkan hati, pikiran, dan jiwa yang teramat rapuh pada saat-saat tertentu.

Dulu saya hampir selalu berdoa di setiap akhir solat agar saya diberikan kekuatan hati, pikiran, dan perasaan oleh Sang Pencipta. Bah, tak kira-kira, cobaan saya belakangan ini rupanya sangat menguji hati, pikiran, dan perasaan saya. Saya diuji melalui kesalahan yang saya lakukan sendiri. Ah, kata orang, ustadz, ustadzah, buku bahkan Al quran yang saya baca, orang yang diuji adalah orang yang disayang Allah. Doa saya pada akhirnya adalah semoga Engkau benar-benar menjadikanku umat yang benar-benar Engkau sayangi Ya Allah. Terima aku tuntun aku selalu dalam kebingungan ini.

Pada titik ini, saya berusaha untuk sadar dan menerima kekurangan saya, bahwa mungkin saya lebih terlambat dari orang lain dalam berbagai hal, terlambat memilih keputusan yang benar, terlambat tau hikmah akan sebuah peristiwa, terlambat belajar dari masalah sekecil apapun itu, terlambat dalam mengubah diri,atau banyak hal lain. Saya coba lepas ikatan saya terhadap masa lalu, merangkai untaian baru untuk hidup kedepannya, sedikit demi sedikit, sakit demi sakit, mencoba tenang ketika melakukan kesalahan lagi. Ah, mau ngomong apa sih kamu, 20 tahun hidupmu belum melakukan yang seharusnya, berubah langsung dalam waktu sekejap? sudah put jangan bermimpi, kita coba ulangi dan lanjutkan lagi. Oke?

Untuk Putri Nuzulil, sang pencari, sang pemikir, sang perasa, tetap kuat bersama saya, kita sama-sama berubah menjadi sosok yang kuat untuk dirimu sendiri, lalu semoga bisa untuk orang lain juga pada saatnya nanti. Selamat menjalani hidup, aku selalu bersamamu.

 

Tertanda,

Dari dan Untuk Hati, Pikiran, dan Jiwa sang pemilik nama.

4 thoughts on “Untuk 23 Tahun Hidup – Deal with the Ups and Downs of Life”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.