predikat tukang galau

My Story Behind : Predikat “Tukang Galau” – Finding Life Purpose

Personal

Gak cuma sekali dua kali, saya bahkan uda gak bisa hitung lagi seberapa banyak orang yang bilang saya “tukang galau”. Banyak banget, karna emang predikat ini uda saya dapatkan sejak masa SMA dulu, dan sekarang umur saya sudah 22 tahun. Awalnya dari kegalauan saya dalam memilih jurusan kuliah dulu, bisa dibaca selengkapnya disini.

Dari situ, banyak orang yang melabeli saya sebagai orang yang tidak berprinsip, mudah bosanan, tidak punya ketetapan, dan lain sebagainya. Respon saya? dulu biasa aja.. saya tidak terlalu mempermasalahkan tentang hal tersebut, saya dulu mikir, orang-orang tidak mengerti bahwa saya belum bisa menentukan pilihan di umur remaja saya terkait ingin menjadi apa suatu hari nanti.

Sekarang? saya mulai risih, saat orang bilang “jangan banyak galau dong put, “kamu galauan banget sih anaknya”, “galauan apa sih put, banyak banget mikir deh”, rasanya pingin saya gunting itu mulut orang-orang sangking sebelnya. Saya sudah sampai di titik dimana saya luar biasa sebel saat orang melabeli saya tukang galau, kalau uda dibilang gitu, raut muka saya bisa tiba-tiba berubah jadi jutek atau minimal banget maksain senyum tapi diem aja.

Kenapa bisa risih? saya sadar di umur saya sekarang saya bukan remaja lagi, saya sudah bisa dibilang di fase beranjak ke umur dewasa. Kadang saya malu dicap tukang galau, saya gak tau apa memang fase kedewasaan kepribadian saya berjalan lebih lambat dibandingkan umur saya yang semakin bertambah. Karena tidak tahan lagi, saya sempat bertanya ke salah satu teman lama saya yang memang pemikirannya lebih dewasa daripada teman-teman saya yang lain, “Salah gak sih kalau aku galauan terus?”, dia bilang “wajar, umur 20-25 tahun orang-orang masih fase pembentukan karakter, wajar kalau masih galauan”. Saya ragu dengan jawaban yang ia berikan, melihat banyak teman-teman saya yang bisa dengan mudahnya menetapkan pilihan dan keputusan dengan tepat. Lalu saya bertanya pada diri sendiri? “Apa memang orang lain menutupi kegalauan mereka agar tidak diketahui orang? sedangkan saya dengan blak-blakan update sosial media, putar lagu-lagu melow, dan lain sebagainya?”

Saya tidak berani menjawab, saya tidak tau orang lain.

Tanggal 27 Februari yang lalu, umur saya genap 22 tahun, tidak ada yang spesial diumur ke 21 tahun yang lalu, saya masih galauan, labil, dan mudah terbawa perasaan daripada logika. Waktu itu orang yang pertama mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya adalah adik saya, ayi, saya tersentuh dengan doa-doa yang ia berikan.

“Selamat ulang tahun kakk putri, semoga panjang umur, diberi kesehatan dan kebahagiaan teruss. Semoga kakak menjadi orang yang sukses, dewasa, dan membahagiakan ayah dan mama. Dan semoga kakak dilindungi oleh Allah selalu dan setiap lagkah baik kakak diridhai Allah SWT. Amin, Wish you all the best :)”

Saya langsung menitikkan air mata saat itu, gak lebay, beneran, saya dan ayi umurnya terlampau jauh, kita terpaut 7 tahun, dari dulu sampai sekarang kita sering banget berantem karena hal remeh. Saya sadar betul bahwa sikap saya terlalu kekanan-kananakan. Seharusnya saya bisa menjadi panutan adik saya, lemah lembut, dan bisa berpikir secara dewasa. Saya belum menjadi sosok kakak yang baik, saya sering banget emosi saat adik saya melakukan sebuah kesalahan, padahal seharusnya yang saya lakukan adalah memberi contoh bagaimana melakukan sesuatu dengan cara yang benar. Karena terkadang hati yang keras bisa dilunakkan dengan kelembutan tingkah laku, tidak hanya dengan tutur kata yang menggurui atau kata-kata bijak yang belum pasti mencerminkan tingkah laku.

Kembali lagi ke topik awal.

Di umur saya yang sudah 20 tahunan, saya mulai mempertanyakan banyak hal, saya mempertanyakan agama saya, tanggung jawab saya sebagai anak dan kakak, saya mempertanyakan berapa jumlah teman dekat yang saya miliki yang bisa saya ajak curhat secara blak-blakan, dan saya juga mempertanyakan kontribusi saya terhadap orang lain.

“Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain”

Bagaimana saya bisa berpengaruh terhadap orang lain sedangkan saya pribadi masih belum stabil? itu pertanyaan terbesar saya, maka mulai saat itu saya mulai berusaha untuk meredam emosi saya, berusaha berpikir matang sebelum memutuskan sesuatu, dan melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang, ini bukan sekedar resolusi 2017. Saya berharap fase pendewasaan diri saya bisa terus berkembang dari waktu ke waktu.

tukang galau
Photo by Alex Loup on Unsplash

Saya sering mempertanyakan berbagai hal selama ini. Terkait agama, saya berkali-kali mempertanyakan kenapa tato tidak dibolehkan dalam islam? kenapa sekedar mencukur alis itu haram? kenapa menutup aurat itu penting sedangkan orang lain yang tidak menutup aurat aman-aman saja? dan banyak hal lainnya, hingga saya saat itu merasa takut kalau saya ragu tentang Islam. Suatu ketika saya pun menceritakannya kepada dosen agama saya, Alhamdulillah beliau berkata,

“Tidak apa-apa kalau kamu mempertanyakan alasan dibalik semua yang diperintahkan Allah kepadamu, karena seharusnya ketika kamu mencari tau secara mendalam sebab-akibatnya maka keimananmu akan semakin bertambah, bahwa Islam melarang sesuatu karena ada mudharat dibalik itu semua, Islam adalah agama yang detail, yang mengurus hidup manusia dari hal kecil sampai kompleks sekalipun.”

Setelah mendapat jawaban tersebut saya mulai merasa tenang, Alhamdulillah saya pun masih merasa tenang dan tentram dengan Islam, pertanyaan-pertanyaan tersebut timbul karena sesungguhnya ilmu agama yang saya miliki masih sangat minim.

Saya juga super sering dibilang galauin jodoh, ngebet nikah, dll. Mungkin iya, semakin kesini saya berusaha belajar dan menerima bahwa jodoh saya sudah ada, saya hanya perlu menunggu dan berusaha terus memperbaiki diri. Sulit memang, kadang saya masih  fokus ke satu titik padahal belum tentu ia adalah jodoh saya. Saya berusaha menerima apapun itu dan tidak mengejar kesempurnaan, saya tidak lagi mematok kriteria jodoh, saya menanamkan pemikiran bahwa setiap orang punya kekurangan. Sesungguhnya pasangan itu saling mengajari tanpa menggurui, membenahi, dan memperbaiki diri ke arah yang lebih baik dengan cara saling mengajak ke arah kebaikan, bukan menuntut kesempurnaan.

Mungkin saya terlalu banyak menonton drama korea sehingga melihat sesuatu dengan cara yang salah bahwa akhir segalanya akan selalu bahagia. Tidak selalu memang, saya hanya berdoa, semoga siapapun itu, walaupun ia “biasa” dalam segala hal, namun ia adalah seseorang yang mau belajar, mau saling mengajak dan belajar menjadi orang yang lebih baik lagi, karena memang saya juga tidak sempurna, pengetahuan agama saya minim, akademik saya biasa-biasa saja, dan berbagai “hal biasa” lainnya yang saya miliki.

Semoga kita semua semakin berusaha untuk mengenal diri sendiri dengan lebih baik, semoga kita bisa menerima bahwa roda tidak selalu di atas, saat terjatuh pun kita masih bisa mengambil pelajaran dan hikmah akan itu semua, semua itu tidak terjadi kebetulan, saya bertemu teman-teman saya sekarang, saya lahir dari rahim ibu saya yang umurnya masih terlampu muda dibandingkan ibu-ibu lainnya dan memiliki ayah yang super penyabar berikut berbagai kekurangan-kekurangan yang mereka miliki, tentu semua ada hikmah dan tujuannya. Ada banyak pembelajaran ketimbang kita terus menyesali dan merutuki setiap proses pendewasaan yang kita alami yang seringkali di luar kehendak kita. Ada banyak peluang-peluang untuk terus memperbaiki diri, bukan hanya dari membaca buku pengembangan diri, namun berani untuk mengambil tindakan dan terjun dalam prosesnya langsung. Selamat berbenah diri 🙂

2 thoughts on “My Story Behind : Predikat “Tukang Galau” – Finding Life Purpose”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *