Tujuan dan Angka Tak Harus Selalu Berdampingan

Personal

Selamat hari sabtu, ya!

Hari ini saya ingin bercerita tentang salah satu aspek yang coba saya kenali lebih dalam tentang diri saya.

Beberapa tahun ini memang saya mulai ngerasa, saya harus kenal diri saya lebih baik, berikut dengan penerimaan segala lebih dan kurang yang saya miliki, atau lebih tepatnya meyakini bahwa saya punya lebih dan mengakui segala kurang yang saya miliki yang sepatutnya diubah atau mungkin beberapa, cukup diterima saja.

Jika banyak teman-teman saya sudah merumuskan berbagai tujuan hidupnya dari satu, dua, bahkan beberapa tahun kedepan mulai saat ini, saya adalah satu orang yang gagal melakukannya.

Beberapa kali saya tanyakan pada diri, apa yang salah dengan diri saya.

Beberapa kali juga ketika saya sudah menetapkan sesuatu, ada saja yang bergeser, ada saja yang harus digantikan, bahkan harus dihentikan sekalipun.

Sesederhana rencana-rencana kecil saya ingin travelling dengan teman saya beberapa bulan lalu, akhirnya tidak terjadi karena beberapa hambatan dari saya dan pun hambatan dari mereka. Beberapa keinginan saya untuk membeli barang yang lumayan menguras budget, yang sudah saya tabung jauh-jauh hari pun harus tertunda karena uangnya harus saya alihkan ke tempat lain dan Qadarullah saya juga kena tipu dan kehilangan uang dalam jumlah cukup banyak saat itu, bahkan keinginan kecil untuk bisa menulis pada hari tertentu, namun otak saya blank dan tak satupun kalimat di otak bisa dirangkai secara baik dalam bentuk tulisan.

Beberapa memang sesuai rencana, tapi lebih banyak yang mundur, lebih cepat, lebih lambat, malah tidak/belum terjadi pada waktu dan kondisi yang saya tetapkan dan inginkan saat itu.

Saya pun mulai berpikir, “apa saya bukan tipikal orang yang bisa stick pada satu rencana dan tujuan?”

Rupanya iya, bagi saya, lebih menenangkan untuk tidak terlalu terpaku pada sebuah angka waktu. Beberapa hal memang bisa lebih mudah saya tergetkan dan memang berhasil, tapi lebih banyak hal yang menurut saya lebih baik untuk saya menunggu waktu yang tepat dengan seiring saya menjalani apapun prosesnya dengan selalu mengusahakan, ketimbang menetapkan angka tertentu sebagai patokan. Saya tau ini akan sangat berkebalikan dengan teori yang ada di luar sana, yang mengatakan menetapkan target tertentu dalam kurun waktu tertentu akan lebih membuat kita termotivasi.

Dan lama-lama saya sadar, itu bukan saya.

Tidak pernah ada patokan waktu dalam setiap hajat yang saya inginkan, hanya ada keinginan-keinginan saya, segala upaya yang diusahakan, dan harapan yang dititipkan kepada Allah untuk dikabulkan.

Bukan berarti saya tidak berusaha. Dengan mengetahui apa keinginan saya dan menjalaninya sepenuh hati, entah didekatkan benar-benar pada apa yang saya inginkan nantinya atau tidak, atau mungkin digantikan dengan yang lebih baik, bagi saya lebih ringan menjalani hari demi hari tanpa sebuah “tekanan keharusan”. Keinginan tersebut bukan lagi jadi beban, namun setiap langkah yang saya anggap mendekatkan saya pada segala keinginan tersebut saya ubah menjadi rutinitas dan bagian dari gaya hidup.

Saya juga pernah menyangkal, “ah, itu kamu aja yang banyak alesan”.

Saya bilang “mungkin iya juga ya”.

Saat itu, saya pun mulai mengubah perilaku saya, tapi tetap saja, dalam prosesnya banyak sekali kejadian-kejadian kecil yang membuat saya mengubah atau menunda beberapa tindakan yang harusnya mendekatkan saya pada keinginan saya tersebut.

Ketika saya sudah menetapkan suatu keinginan, seringkali pikiran saya harus teralihkan lebih dahulu untuk memfokuskan diri pada satu kondisi yang datang tiba-tiba di hidup saya, atau saya harus merevisi ulang karena saya merasa saya harus menuntaskan sesuatu dulu untuk dipahami sebelum berjibaku pada kondisi yang saya inginkan nantinya, atau malah “itu sudah tidak relevan jika saya terus menuntut.

Banyak yang datang dan pergi dalam proses tersebut dalam bentuk apapun; materi, masalah, pola pikir, kesadaran, prioritas yang harus diubah, semuanya menjadi bumbu-bumbu dalam prosesnya yang menyebabkan saya kadang lelah jika menuntut angka tertentu atau kondisi tertentu menjadi ukuran saya sudah harus menjadi orang yang seperti ini atau seperti itu pada masanya nanti.

Dengan kesadaran tersebut saya pun bisa lebih tenang untuk menjalani masa sekarang dan lega jika segala sesuatu berubah besok, lusa, dan seterusnya. Lebih menenangkan ketika saya mengatakan pada diri sendiri, “mari menjalani apapun dengan sepenuh hati, ikhlas, dengan cara yang baik dan berbonus pahala disana”, entah itu pada akhirnya mendatangkan keinginan saya untuk terwujud atau tidak, yang penting hari-hari kebelakang yang telah saya lewati diisi dengan kebermanfaatan,tidak ada penyesalan bahwa saya kenapa begini dan begitu, karena saya pun bukannya tidak berusaha, tapi alur hidup tak selamanya lurus, banyak hal yang datang dan pergi, dan pun masa depan tak akan pasti, saya ingin menjalaninya dengan penuh kesadaran bahwa saya pun harus terus hidup bergairah, walaupun dalam prosesnya banyak yang rupanya harus berbelok atau ditunda.

Masa depan belum tentu milik saya, dan alur hidup saya sudah ada skenario baik yang sudah ada penciptanya.

Dan lagi, kesadaran bahwa hidup saya tidak boleh terpaku pada duniawi saja semakin membesarkan hati saya bahwa di setiap apapun yang saya jalani, sesuai atau tidak dengan yang saya harap dan inginkan, saya usahakan untuk terus menambah nilai tambah yang memberikan pahala disitu, dengan meluruskan niat dan ikhlas dalam menjalani setiap hal yang hadir dalam kehidupan saya, serta menghadirkan Allah di setiap jerih dan payahnya.

Pemahaman ini pun membuat saya mampu berbesar hati bertoleransi dengan perbedaan saya dan orang lain dalam melihat masa depan. Saya tak harus sama polanya dengan yang lain, asalkan saya tidak melakukan sesuatu yang di luar norma dan aturan, saya rasa setiap orang patut dihargai dengan cara apapun mereka bersikap.

Dan entah teman-teman sadar atau tidak, saya berkali-kali mengulang kata-kata yang sama sepanjang tulisan ini. Ada yang tau?

Yep. KESADARAN.

Karena bagi saya, sadar akan segala sesuatu yang kita lakukan, membuat kita lebih mampu mengontrol diri dan memahami dengan lebih baik segala yang terjadi pada saat itu, tak diburu-buru, dan tak menghilangkan “momen” yang seharusnya dirasa, agar sepanjang hari hati tak merasa kosong, agar ujung hari tak keluar kalimat berujung tanya, “apa yang telah ku lakukan sepanjang waktu ini?”

Sadar sedang menyantap sarapan, sadar sedang berjalan, sadar ketika sedang beribadah, sadar ketika ada emosi tertentu hadir di hati dan pikiran. Semuanya lebih mampu dikontrol ketimbang semua berjalan tanpa “rasa” apapun. Sayang sekali jika ujung hari di tutup dengan hati yang hampa.

Sekali lagi, baca pola teman-teman sendiri, kita tak harus sama, tapi semoga selalu ada nilai baik di setiap hari yang kita jalaninya, ya. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.