Better Me, Personal

Pembelajaran dari Kegagalan Masuk PTN Idaman

Udah lama gak nulis tema perkuliahan, jadi hari ini saya sempatin untuk buat tulisan ini.

Sebenarnya selama ini lumayan banyak yang nge-DM dan nge-email saya nanyain berbagai hal tentang topik perkuliahan ini.

Saya paling sering dapat curhatan adik-adik yang gagal SBMPTN dan pengen nyoba keberuntungan lainnya di tahun berikutnya.

Memang masa-masa SMA itu bisa dibilang fase awal seseorang mulai merakit mimpi, saya paham betul kondisi ini karena memang saya pernah di posisi tersebut.

Empat tahun yang lalu saya dikenal sebagai anak galau yang bingung mau ambil jurusan apa di kuliah, hingga sempat merasakan yang namanya salah jurusan dan memutuskan untuk pindah ke kampus yang sekarang, ceritanya bisa dibaca selengkapnya disini.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk menggurui, tapi sekedar berbagi pengalaman saya dahulu yang sempat gagal.

Perlu adik-adik tau bahwa kesuksesan bisa disebabkan oleh berbagai faktor. Bagi yang memiliki mimpi untuk masuk sebuah kampus favorit, tidak cukup dengan hanya belajar mati-matian atau berdoa mati-matian saja.

Sejak dulu saya selalu percaya bahwa kiat untuk sukses itu adalah usaha dan tawakal, dan saya pribadi meyakini bahwa bentuk dari usaha itu bukan hanya dengan belajar mati-matian, saya mempercayai yang namanya Faktor X.

Apa itu Faktor X?

Bagi saya faktor X adalah sebuah keberuntungan yang didapat dari hasil kebaikan yang kita lakukan yang tanpa kita sadari berujung kebaikan pula pada diri kita pada akhirnya.

Dulu saya tidak pernah tau tolak ukur usaha maksimal itu seperti apa, hingga saya dibuat bingung dan resah karena tidak tau usaha saya sudah mencapai batas maksimum atau tidak, karena memang saya sangat mengakui bahwa saat itu saya belajar tidak terlalu giat, saya baru intensif itu sekitar sebulanan sebelum SBMPTN. Sampai sekarang kadang saya masih tidak menyangka bahwa saya bisa lulus ITB dengan kemampuan yang saya miliki.

Namun dari situlah saya belajar “sesuatu”.

Saat itu saya memang belajar SBMPTN sambil kuliah. Dengan perkuliahan teknik yang padat, sulit sekali untuk meluangkan waktu untuk belajar SBMPTN. Jika ada waktu senggang pun rasanya ingin saya gunakan untuk istirahat atau mengerjakan aktivitas lain yang jauh dari berpikir, karena otak saya sudah diforsir di kampus. Di saat-saat seperti inilah kegalauan saya muncul. Saya pengen tes SBMPTN lagi tapi saya belum belajar maksimal. Sering sekali saya mempertanyakan hal tersebut.

Tapi setelah saya melihat sendiri bahwa saya lulus di ITB, saya menyadari bahwa usaha maksimal + tawakal itu benar-benar rumus mutlak yang tidak bisa diganggu gugat.

Kita sebagai manusia cuma bisa berusaha, itulah sesuatu yang bisa kita kontrol. Sedangkan hasilnya, bukan lagi sangkut paut dengan tangan manusia, itu sudah ketentuan Allah, salah satu hal yang tidak pernah bisa kita kontrol di dunia ini. Untuk itulah kita harus menyerahkan segalanya kepada Allah dengan bertawakal atau pasrah. Dengan begitu hidup kita lebih tenang dengan berprasangka positif bahwa Allah tidak pernah mengkhianati usaha hambanya, baik buruknya hanya Allahlah yang tau. Yang harus kita lakukan adalah berserah diri dan yakin bahwa usaha kita akan dibalas setimpal dalam bentuk yang sama dengan doa kita atau dalam bentuk lain yang lebih baik.

Yang saya sadari usaha maksimal itu tidak hanya dengan belajar giat, tapi dengan mengerahkan segala kemampuan yang kita miliki. Tidak melulu dengan belajar seharian suntuk tanpa jeda.

Saya beruntung dari dulu saya sadar dengan faktor x tersebut. Saat saya galau mempertanyakan apakah saya sudah mengerahkan segala yang saya punya atau belum, saya meyakini bahwa faktor x itu bisa dalam bentuk apa saja yang penting adalah kebaikan yang kita lakukan supaya Allah ridha kepada kita, dan itu juga bentuk usaha yang sangat sedikit orang sadari.

Misalnya saat kita dihadapkan pada tugas kuliah yang menuntut kerja kelompok yang sangat menyita waktu, tentu saat-saat seperti ini kita dibuat resah karena pada nyatanya kita ingin menggunakan waktu sebanyak-banyaknya untuk belajar SBMPTN ketimbang mengerjakan tugas kuliah yang belum tentu merupakan tujuan akhir kuliah kita. Namun kita meyakini bahwa hasil dari kerja keras kita dalam tugas kelompok tersebut menentukan hasil dari teman kita yang lain sehingga kita juga mengerahkan kemampuan yang kita punya untuk mengerjakan tugas tersebut secara totalitas walaupun waktu untuk belajar SBMPTN menjadi berkurang. Saya meyakini bahwa hal ini juga merupakan bentuk usaha maksimal walaupun bukan bentuk nyata yang mengarah kepada belajar SBMPTN.

Ketika kita berbuat baik, maka semesta akan baik pula pada kita, bisa dalam bentuk pertolongan kita dulu terhadap orang lain, membantu seseorang yang sedang kesusahan, dan lain sebagainya.

Meraih kesuksesan seringkali melibatkan pengembangan diri, banyak sekali hal yang mendewasakan kita dalam proses yang kita jalani, saya sendiri sangat merasakannya, ada banyak fakta baru yang saya terima dan sadari dan menjadi bekal hikmah untuk saya menjadi orang yang lebih baik.

Intinya adalah usaha + tawakal, sembari dalam prosesnya teruslah memperbaiki diri dengan mengerjakan kebaikan dalam bentuk apapun agar Allah ridha terhadap kita.

Jangan sampai kita dibutakan oleh mimpi dan melupakan peran dan kewajiban kita yang lain. Ingatlah bahwa peran kita di dunia ini bukan hanya sebagai siswa, kita juga adalah anak, mungkin kakak, abang, adik, teman, dan makhluk tuhan yang memiliki kewajiban yang harus diselesaikan. Jangan membutakan diri dengan hanya melibatkan diri  pada satu sisi. Seringkali mereka yang sedang berusaha mencapai mimpi melupakan peran dan kewajibannya yang lain, karena ingin belajar SBMPTN malah menunda atau bahkan melupakan solat, karena ingin belajar SBMPTN malah ngurung diri di kamar dan tidak berinteraksi dengan orang tua atau orang lain, karena ingin belajar SBMPTN malah lupa makan dan menzalimi diri sendiri, karena ingin belajar SBMPTN malah merugikan orang lain, dan masih banyak hal lainnya lagi.

Tentu Anda pernah mendengar bahwa keburukan yang kita lakukan menghalangi datangnya kebaikan kepada kita bukan?

Maka dari itu perkaya diri dengan hal positif, usaha, dan tawakallah kepada Allah SWT.

Satu lagi, jangan sampai kita menzalimi orang lain ketika sedang mengejar mimpi kita.

Saya sampai beberapa kali dapat curhatan adik-adik yang sudah lulus di sebuah jurusan namun enggan untuk melanjuti dan memilih untuk tes lagi di tahun berikutnya atau mereka tetap melanjutkan kuliah di tempat tersebut namun tidak serius karena sudah berniat tes lagi tahun depan. Walaupun saya dulunya seperti ini, tapi dengan tulisan ini saya harap adik-adik di luar sana merenungi lagi jika berkeinginan untuk melakukannya, saya sendiri sungguh menyesal dengan pola pikir saya yang dulu. Satu bangku yang kita sia-siakan mungkin merupakan kesempatan besar yang sulit dicapai oleh teman-teman kita yang lain, inilah yang namanya menzalimi secara tidak langsung. Dan terkadang inilah yang menghalangi kebaikan itu datang kepada kita, bisa dalam bentuk perwujudan mimpi besar kita.

Maka dari itu, pilihlah apa yang memang kita inginkan dari semua pilihan jurusan yang tersedia saat mendaftar SBMPTN atau SNMPTN atau ujian lainnya, usaha maksimal dan tawakal kepada Allah. Jangan sampai kita melakukan kesalahan yang sama, “gak papa deh, coba-coba aja untuk cadangan”, kita mungkin tidak sadar bahwa sesuatu yang menurut kita hanya untuk percobaan mungkin harus diwujudkan dengan usaha keras bagi orang lain. Jangan sampai kita egois dan menghalangi orang lain untuk sukses. Inilah malah yang menghalangi kita untuk sukses.

Harapannya saat kita lulus di pilihan ketiga pun nantinya, itu tetap merupakan jurusan yang kita impikan. Seringkali orang meletakkan pilihan pertama sebagai pilihan yang paling diinginkan, sedangkan pilihan kedua dan ketiga hanya cadangan saja menghindari takut tidak diterima dimanapun, sayangnya mereka malah melepas jurusan yang mereka dapatkan saat mereka dinyatakan lulus di pilihan kedua atau ketiga, ini karena jurusan tersebut tidak betul-betul diinginkan. Lain halnya saat kita memilih semua jurusan sesuai dengan apa yang kita inginkan, walau tidak lulus ketiga-tiganya, kita jauh lebih mudah dalam mengambil kesimpulan bahwa mungkin memang jurusan tersebut bukan yang terbaik untuk kita atau mungkin kita belum berusaha maksimal, sehingga kita tau harus mengambil keputusan apa lagi selanjutnya, tes lagi tahun depan atau memantapkan hati untuk memilih alternatif pilihan lain, kalau memilih asal-asalan seperti itu, malah kita dibuat bingung dan bertanya-tanya semakin jauh, apa jadinya kalau aku pilih jurusan “itu” di pilihan kedua atau ketiga, lulus gak ya?”, pikiran-pikiran seperti ini yang kita hindari, karena keputusan kita membuat kita menyesal di kemudian hari, kita akan terus menduga-duga tanpa batas.

Kita mungkin tidak pernah sadar bahwa mungkin saja kegagalan kita sebelumnya karena kesalahan yang kita lakukan. Saat ujian belangsung, Allah bisa saja dengan mudahnya menghilangkan ingatan kita sejenak akan materi yang sudah kita pelajari yang membuat kita gagal. Maka dari itu untuk kelancaran akhir nanti, pada proses yang sedang kita jalani ini, bangun hubungan yang baik dengan Allah dengan terus berusaha dalam bentuk apapun dan bertawakal kepada Allah. Jangan khawatir, kalau Anda sudah melakukan itu semua, insya Allah Anda sudah mengerahkan segala upaya yang Anda miliki untuk mencapai mimpi Anda selama ini. Mantapkan hati, jangan ragu, selamat berjuang 🙂

Leave a Reply

Required fields are marked*