sunday-feeling

That Sunday Feeling

Personal

Kalau hidup hanya berkutat pada hari minggu, untuk rutinitas kebanyakan orang yang padat merayap, ini merupakan hal yang paling diidam-idamkan ya.

Saya pun begitu.

Entah sejak kapan perasaan ini dimulai, tapi rasanya terkadang ada beban tersendiri ketika harus mengawali hari senin. Rasa tak rela meninggalkan hari minggu yang penuh keheningan di dalam rumah, sambil membaca buku, menonton video sambil duduk tenang menyesap teh hangat, what a wonderful day.

Saya sedang mengingat, kapan terakhir kali saya merasakan perasaan seperti itu?

Saya bahkan hampir tidak bisa mengingatnya secara jelas.

Apa kabar kedamaian?

Apa kabar ketentraman?

Apa kabar kesejukan pagi hari setiap kali membuka jendela kamar?

Ah, saya benar-benar kangen bandung banget, tapi rasanya kalau harus kembali ke rutinitas melelahkan itu tanpa support keluarga seperti sekarang, rasanya otak saya tetap saja gak ke-refresh dengan benar.

Apa ada yang merasakan hal serupa?

Saya kangen masa-masa dimana otak saya gak mikir banyak, gak kahawatir ini itu, fokus kepada hari ini, memaknai waktu pagi, sampai siang, sampai malam, menutup hari dengan senyuman karena melewati hari dengan penuh makna.

Apa kabar saya hari ini?

Seperti kali waktu yang lalu, hantaman tugas akhir saya masih sangat menyita otak, walaupun setiap orang yang saya tanyai, mereka selalu mengatakan bahwa mahasiswa akhir yang sedang menyusun final project pasti ada saja ujiannya, namun saya tetap saja melewatinya sendiri, cemas tidak bisa mencapai target, lantas saya takut pada akhirnya beasiswa saya ditarik karena tidak bisa lulus tepat waktu.

Putri overthinking lagi teman-teman. :’)

Living a slower, more mindful life, isn’t an overnight process. I know It’s really that hard for many people to slow down in a world that seems to move quicker and faster every day. Accompanied with fast food, a cup of coffee, fast ideas, fast thinking process, and fast routines constantly catching up on us, a slower life is definitely a big change.

Saya benar-benar kangen sepi, senyap, tanpa bombardir informasi, hiruk pikuk keributan tetangga, saya kangen hujan, saya kangen teduhnya pagi hari setelah malam sebelumnya bumi diguyur hujan, saya kangen tidur dalam pelukan senyap, pelukan angin sepoi-sepoi, tanpa headset di telinga, hanya perlu tidur dalam indahnya suara hujan di balik dinding rumah.

Selama liburan ini, saya jarang membuka aplikasi sosial media untuk berkomunikasi, khususnya line dan whatsapp. Entah lah, ada rasa insecure sendiri ketika saya membukanya, saya juga tidak banyak join buka bersama lagi dengan teman-teman setelah kali waktu saya sempat mengajak namun saya tidak menerima respon seperti yang saya ekspektasikan. Akhirnya saya harus mulai menyadari bahwa hidup kami sudah sendiri-sendiri tak perlu berharap banyak kumpul bersama seperti jaman SMA dulu. Toh juga saya tipikal orang yang tidak terlalu suka keramaian.

Postingan ini mungkin gak akan memberi makna apa-apa, saya hanya sekedar ingin curhat, gak papa kan ya? hehehe

Selamat malam untuk para pencari makna.

Selamat berjuang untuk para pelawan kemalasan.

Selamat memaknai hari-hari akhir ramadhan ini dengan penuh kesadaran.

Semoga takbir akbar nantinya betul-betul memenangkan kita semua dari keburukan yang telah kita usaha lewati.

Selamat menjemput keberkahan.

Salam hangat,

 

-Putri

 

 

2 thoughts on “That Sunday Feeling”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.