Tentang Peluang Kebalikan

Personal

Terakhir kali yang saya amati, kecenderungan untuk merasa bersyukur bisa lebih mudah saya rasakan ketika sesuatu yang datang menghampiri saya adalah yang ” bernilai tambahan”, “hal yang tak disangka-sangka”, “jerih payah yang berwujud hasil memuaskan”, atau lebih kurang jika saya uraikan adalah saya cenderung bersyukur ketika sesuatu yang terjadi bisa mudah dilihat dan dirasa secara langsung.

Contohnya mendapat posisi baru yang lebih tinggi di kantor, mendapat bonus tahunan, dan lain sebagainya.

Upaya tulisan-tulisan bijak selama ini yang menitikberatkan untuk mensyukuri hal kecil yang datang dalam hidup sekalipun mulai berdampak banyak bagi sebagian orang yang sering membaca buku-buku pengembangan diri, mendengar podcast, atau rajin mencari quotes unik di halaman pinterest atau google.

Namun, ketika rasanya hidup sedang datar-datar saja, seringkali saya lupa untuk tetap mensyukuri perjalanan tersebut. Padahal ada peluang lain yang mungkin saja terjadi yang luput untuk saya syukuri. Yang saya anggap datar-datar saja akan berubah jadi kesedihan jika yang terjadi adalah kebalikannya, sesuatu yang saya anggap buruk.

Kehidupan kantor yang membosankan mungkin akan berdampak lain ketika kita tiba-tiba menjadi salah satu kandidat yang dimutasikan atau diberhentikan dari kantor tersebut karena satu lain hal yang mungkin sudah kita tebak-tebak sebelumnya atau mungkin juga informasi tersebut tersimpan erat di meja direksi.

Atau sangat sering terjadi adalah saya luput mensyukuri kesehatan saya yang sebenarnya masih bugar saja walaupun dalam berbulan-bulan ini saya memberi makan ia dengan makanan yang sangat minim nutrisi. Tapi ia tetap bugar, tetap bisa saya ajak berproduktif bersama, apa jadinya jika ia mulai diserang batuk pilek, demam tinggi, lemas bukan main, tentu segala daya upaya untuk memaksakan diri beraktivitas harus ditunda terlebih dahulu.

Memang, jika sesuatu tersebut tidak bisa dirasa, dilihat, atau didengar secara langsung, sulit untuk memusatkan pikiran kepada peluang sebaliknya, maka mengeluh adalah efek yang sering saya rasakan ketika saya luput untuk mensyukuri peluang kebalikan ini.

Perjalanan mudik yang lancar juga sesuatu yang sangat bisa kita syukuri jika kita berpikir peluang sebaliknya pesawat itu bisa saja jatuh atau gagal darat di perjalanan. Atau sebaliknya kegagalan saya masuk PTN di luar kota yang saya impikan beberapa tahun lalu rupanya amat bisa disyukuri ketika saya mengingat kembali peluang saya tidak bisa menyaksikan almarhumah adik saya menghembuskan nafas terakhirnya di Aceh saat itu.

Rupanya, yang datar dan tak berarti bisa sangat bermakna ketika kita mengubah alur berpikir sedikit melihat peluang sebaliknya, banyak hal-hal “aman dan lancar” yang sudah kita lalui, pulang kantor tanpa dijambret dan jatuh dari motor adalah contoh sederhana yang lain.

Saya pribadi membutuhkan waktu senyap sendiri untuk memusatkan pikiran memutar ulang kejadian-kejadian di kehidupan yang saya jalani sejauh ini. Karena jujur saja, di tengah kehidupan super cepat ini, menelaah pikiran sendiri sungguh sangat sulit karena berbagai hantaman pikiran lain yang cukup hingga sangat menyita atensi, manusia cenderung luput menilai dan memperhatikan hal kecil bukan?

Sedikit waktu di malam hari sebelum tidur adalah langkah sederhana untuk memulai. Walaupun sulit, ditambah lagi upaya membanding-bandingkan diri dengan orang lain yang tak bisa dihentikan sesegera kita sadar bahwa itu salah, namun semua memang harus dilatih. Karena mengarungi kehidupan sudah sangat melelahkan jika kita terus naik dan menanjak tanpa istirahat sebentar memulihkan tenaga.

Bahkan yang kita anggap tak berarti rupanya bisa sangat berarti jika kondisi sebaliknya terjadi, kalau pesawat kita jatuh, apa masih bisa berpikir untuk memanjat stage kehidupan yang lainnya lagi? Karena nyatanya hidup kita di dunia pun sangat mungkin selesai seketika waktu, secepat itu.

Berapa kali dalam Al-Quran dikatakan bahwa manusia adalah makhluk yang penuh nafsu untuk dipenuhi, padahal sebenarnya apa yang kita dapatkan sekarang sudah sangat “cukup” untuk menghidupi kehidupan kita yang singkat ini. Jelas tugas kita di dunia bukanlah semata untuk memenuhi nafsu, namun lebih daripada itu, memenuhi kebutuhan batin untuk mencapai tenangnya dengan beribadah, berbuat baik, dan hidup dengan sebaik-baiknya di dunia.

Memusatkan pikiran untuk hal-hal yang bisa kontrol mungkin salah satu caranya, orang lain di kantor bukanlah area kuasa kita, entah itu bos, ataupun rekan kerja, yang bisa kita lakukan mensyukuri pekerjaan sekarang dan menjalaninya dengan sepenuh hati dengan niat murni untuk belajar, beribadah, dan mencari nafkah, bukan embel-embel status dunia yang lain.

Hal yang luput disyukuri adalah apabila yang terjadi di kehidupan kita adalah peluang sebaliknya, jika selama ini sehat, bagaimana jika sebaliknya kita sakit saat ini?Apa saja yang akan terhambat?

Sulit, tapi mari kita coba perlahan mulai sekarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.