Suara – Part 1

Personal

Pras, kau tau, dulu ibuku pernah berkata “obat segala penyakit sangatlah dekat”, kata ibu, “ikhlas nak, dengan begitu langkahmu akan ringan, kau tak harus berteriak untuk menyampaikan jerihmu pada yang lain, cukup untukmu saja.”

Sekarang aku tau, kau begitupun aku, kadang lupa berpijak untuk rumah tangga ini, kau lelah, aku tau, Lila juga, akhir malam dia selalu terduduk di atas kasurnya, mempertanyakan apa arti dari setiap kalimat yang kau ucapkan untukku.

Sekecil apapun suara yang ku usahakan untuk keluar, helaan nafas beratku tak mampu untuk membuainya tidur kembali, dia tidak bersalah, Pras.

Sama sepertimu, mungkin. Kadang sering ku pertanyakan kapan yang dimaksud sebenar-benarnya “akhir”, sekarangkah? atau kemarin saat nyatanya hingga sekarang pun bahkan kita terus mengundur waktu untuk memutus arah, padahal jelas saja aku bahkan lupa kapan terakhir kali kita saling tatap saat berbicara. Oh, saat ini tentu saja. Kau melihatku.

Apa yang kau rasakan?
Pras, yang ku tau, alasan awal kita merajut tali ini dahulu ku tau sudah usut, aku tak melihat dan mendengarnya lagi. Sekarang benar-benar ku pertanyakan, alasanmu apakah hanya satu itu? atau mulai tumbuh alasan lainnya sejalan kita saling membersamai sejauh ini?

Aku telah bertemu batasku, mari ku beritahu jelasnya. Sembari ku membenahi apa yang salah, maka permudahlah dengan mengatakan yang sejujurnya dari hatimu. Sederhanakan saja, Pras.

-Bersambung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.