slow_living

The Pleasures of Slow Living

Personal

Haloo, apa kabar semua? udah ngapain aja selama bulan ramadhan ini? Semoga masih pada semangat yaaa. 🙂

Saya lagi pengen bahas tentang topik yang dekat banget sama sehari-hari kita. Kalau zaman sekarang emang rasanya semua jadi dimudahkan dengan adanya teknologi ya, gak jauh jauh deh, gojek misalnya.

Kalau lagi lapar, tinggal mesen online, trus nunggu bentar di rumah, makanan dateng, langsung makan, perut kenyang, tanpa perlu effort untuk masak atau ganti baju lagi untuk pergi keluar.

Atau sesederhana belanja online, mau belanja di supermarket, tinggal pilih go-mart atau go shop, gak perlu susah-susah parkir atau kejebak macet di jalanan. Semua effort ini tergantikan perannya oleh orang lain, yaitu driver gojek, atau pihak online shop.

Atau kemarin pas kosan saya lagi pengen berbenah ulang, karna malas ngurus sendiri karena statusnya mahasiswa yang emang rata-rata pada sibuk di kampus, akhirnya tinggal panggil go-clean, tunggu beres, hasilnya kamar mandi jadi kinclong, dapur bersih, dan bagian rumah lainnya jadi super rapi.

Gak salah sih kalau dibilang technology bikin semuanya jadi lebih mudah, jaauuuuh lebih mudah.

Tapi berbarengan dengan rasa mudah ini, muncul perasaan baru dimana kita pengen banget segala aspek yang kita gak suka lakukan bisa tergantikan perannya oleh orang lain dalam segala hal. Dan asumsi saya gara-gara itu juga aplikasi gojek sekarang uda merambah ke banyak layanan lainnya.

Kalau jouska bilang, zaman sekarang bisnis itu bukan cuma buka lapangan kerja baru tapi juga membunuh sumber perekonomian pihak lain juga. Ini relatif sih ya, pastinya emang bakal ada untung lebihnya dalam segala hal.

Dan saya sebagai konsumen disini mencoba lebih bijaksana dalam menanggapi fenomena sekarang.

Saya pribadi jarang banget pakai go-ride dari gojek, saya lebih memilih angkot kalau emang gak terburu-buru banget, sambil duduk di dalam angkot, saya bisa nyambil baca artikel menarik di blog atau postingan instagram yang menarik. Kadang ini bikin otak jadi ke-refresh sendiri juga sih, sambil liat orang-orang sekitar yang sedang beraktivitas, dan rasa senang karena apa yang saya lakukan sedikit berkontribusi untuk sumber nafkah orang lain. Saya memang sedang mengaplikasikan slow living, dimana saya percaya kalau work harder, longer, and faster does not always mean better.

Saya berusaha untuk benar-benar merasa content dengan apa yang saya lakukan, kalau lagi lebih gak terburu-buru lagi, saya biasain ke kampus jalan kaki, ini bukan cuma masalah menghemat, tapi berusaha untuk tetap mengaktifkan tubuh saya. Kalau emang lagi lapar, lagi malas banget masak, tapi masih ada tenaga buat beli makan di luar, yaudah saya keluar, dan seringnya pas balik lagi ke kos, otak saya jadi lebih segar, karna mungkin efek jenuh itu gara-gara seharian cuma ada di kosan aja.

Tapi di satu sisi, kalau emang saya lagi butuh banget jasa go-ride, go-car, go-food dan lainnya, saya tetap bakal pakai. Ya ada yang bisa memudahkan kita selagi kemampuan kita terbatas ya digunain aja. Nah, inilah maksud saya dari itu, akan lebih baik jika kemudahan di sekitar kita disikapi dengan bijak, fasilitas ini digunakan benar-benar untuk kita yang emang benar-benar butuh, saya berusaha untuk berpikir, bersusah-susah diri sedikit bukan berarti selamanya buang-buang waktu atau meaningless kok. Nyambil bersihin kamar bisa denger kajian atau sejenis audiobooks misalnya, biasanya otak kita lebih ke riset kalau ada pengalihan seperti ini di tengah jenuhnya rutinitas sehari-hari kita.

Kadang masak itu juga bisa jadi metode refreshing sendiri, ya walaupun ini juga tergantung mood sih, apalagi kalau dapur lagi bersih, bahan makanan lagi lengkap. Saya juga sering banget jadiin ajang grocery shopping sebagai media me time saya, saya sering puter-puter lorong supermarket walaupun gak ada yang bakal saya beli juga disitu, tapi lihat sayur-sayuran segar dan bahan makanan yang masih fresh itu bikin hati senang, ya mungkin objek bisa beda-beda ya setiap orang, mungkin orang lain menerapkan hal ini dalam kegiatan lain, misalnya berkebun atau ke toko buku.

Saya mencoba berpikir kembali tentang pendekataan saya terhadap tubuh, kehidupan, dan lingkungan sekitar saya. Slow living itu juga bukan berarti always doing things slow, melainkan ya kalau emang kegiatan saat itu mendukung kita untuk slow, ya slow aja. Tapi di lain waktu, kalau kita lagi ngehadapin sesuatu yang menuntut kita untuk bertindak cepat dan tanggap, ya atur ritme kita supaya bisa selaras dengan kegiatan tersebut. Belajar membedakan untuk hidup perlahan dan cepat itu membantu kita agar tidak terlalu tertekan menjalani hidup.

Di lingkungan kita rasanya segala sesuatu harus dilakukan secara cepat, efisien, dan efektif, deadlinenya masih jauh, tapi dituntut selesain dalam waktu singkat. Pengertian kita tentang “tidak boleh ada waktu yang terbuang dan harus produktif” menurut saya harus direvisi ulang, terkadang gara-gara ini kita tidak memberi hak tubuh untuk berisitirahat, padahal warning nya uda mulai keliatan, bisa lemas, jenuh, susah tidur, atau tiba-tiba kena flu, dsb. Padahal ketika kita benar-benar meresapi apa yang sedang kita lakukan, hasilnya pasti akan jauh lebih maksimal, karena kegiatan tersebut dilakukan dengan penuh penghayatan, bukan dikerjakan karena alasan “itu tuntutan” dimana kita harus memaksakan diri menyelesaikan pekerjaan itu segera.

Dulu saya berpikir, jalan kaki atau masak sendiri di rumah itu membuang waktu, waktu masak atau jalan kaki itu bisa saya alihin untuk belajar dan lakuin hal “bermanfaat” lainnya. Padahal inilah yang mengakibatkan otak saya mudah jenuh, karena saya tidak memiliki waktu untuk menyayangi diri sendiri dengan lebih baik. Rasanya waktu saya hanya boleh dipakai untuk menunjang segala kegiatan yang berbau prestasi, akademik, karir, dsb. Saya lebih mending makan di luar dan gunain waktu itu untuk belajar atau ngurusin usaha. Padahal ada masanya saya lagi pengen banget masak tapi harus ditahan karena ada tuntutan tugas yang tidak bisa ditinggal. Dan saat tugas itu selesai, saya sudah di fase gak mood lagi untuk ngapa-ngapain, karena otak saya rasanya jenuh banget setelah menyelesaikan tugas sebelumnya, pengennya tiduran di kasur aja.

Belakangan ini, saya mulai menyadari bahwa ritme tubuh saya menolak aktivitas saya yang seperti ini, saya seperti merasa hidup saya dituntut banyak hal, padahal bukan orang lain yang melakukan hal ini, melainkan otak saya sendiri. Kadang tekanan melihat orang lain yang uda jauh di depan dari saya dalam berbagai hal juga sedikit banyak membuat saya sering worry. Dari dulu saya gak pernah suka kompetisi karena efeknya ke saya gak bagus, sampai sekarang perasaan-perasaan seperti ini masih sering muncul.

Saya berusaha tetap menjadikan diri saya sebagai pembanding, bukan orang lain. Sudahkah saya baik daripada sebelumnya? bukannya, sudahkah saya lebih baik daripada mereka? Karena orientasi seperti ini kadang yang membuat saya terus-terusan membaca orang lain, mencari kesalahan mereka, lantas berbahagia ketika ada kecacatan yang dimiliki orang lain. Ketika saya mencoba membandingkan diri sendiri hari ini dengan sebelumnya, walaupun terlihatnya saya jauh di bawah orang lain, tapi pada dasarnya saya jauh lebih baik daripada diri saya yang sebelumnya, dan satu lagi, kita gak pernah tau orang 100%, jadi tidak ada kuasa bagi kita untuk menilai benar 100% orang lain dari kaca mata kita sendiri.

Jadi pada masa ini, saya sedang melatih untuk merasa “hidup” dengan apapun yang saya lakukan, saya berusaha menghindari multitasking untuk aktivitas-aktivitas tertentu. Saya harus mulai sadar bahwa keseluruhan waktu saya gak bisa dipake 100% untuk produktif bekerja, ketika ritme tubuh saya sedang gak bagus, saya memang sudah waktunya untuk pause. Walaupun orang lain sudah jauh di atas saya sekalipun, saya berusaha untuk menerima bahwa hidup saya punya jalurnya sendiri, tidak bisa disamakan. Melatih diri untuk hidup damai pada diri sendiri memang susah, tapi itu sangat perlu untuk dilatih di tengah dunia sekarang yang pergerakannya makin cepat.

Ambisi itu terkadang perlu ditekan untuk tidak terlalu menggebu-gebu, menjalani segala prosesnya secara perlahan tapi pasti, karena apa yang lebih indah daripada hidup yang penuh keteduhan, kedamaian, dan kelembutan? dan sudah pasti itu harus saya mulai dari diri sendiri.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.