College Life

Sistem Perkuliahan di SBM ITB

Berhubung saya pernah kuliah di jurusan dan universitas yang berbeda sebelumnya, sedikit banyak saya bisa melihat beberapa perbedaan dari segi sistem perkuliahannya, baik itu positif atau negatif. Sebelum kuliah di SBM ITB, saya pernah dua tahun kuliah di jurusan Teknik Industri Universitas Syiah Kuala Aceh, akhirnya saya memutuskan untuk pindah dengan alasan tertentu, untuk selengkapnya bisa baca disini.

Langsung aja ke topik utamanya. Tapi mungkin saya akan lebih banyak membahas mengenai jurusan Manajemen dibandingkan Kewirausahaan. Karena saya pribadi kurang tau sistem perkuliahan di jurusan tersebut.

Jadi sistem perkuliahan di SBM ITB itu menurut saya sangat padat. Setiap mata kuliah di bagi menjadi dua kelas, kelas Auditorium dan kelas Tutorial. Bedanya apa? Memang di kedua kelas tersebut dosen yang mengajarinya berbeda. Untuk kelas Auditorium, dosen yang bertanggung jawab mengajar biasanya mereka yang memang ilmunya lebih tinggi dibandingkan dosen-dosen tutorial, biasanya dosen-dosen tersebut adalah mereka yang sudah berumur yang lebih berpengalaman dan ilmunya sudah banyak. Sedangkan dosen-dosen di kelas tutorial kebanyakan dosen-dosen muda yang memang pengalaman mengajarnya tidak sebanyak dosen senior. Kelas Auditorium pun biasanya lebih banyak menampung mahasiswa dibandingkan kelas tutorial. Untuk satu kali kelas Auditorium jumlah mahasiswanya sebanyak kurang lebih 100 orang, namun untuk kelas tutorial di bagi menjadi 40 orang per kelas.

Gedung SBM itu terdiri dari tiga lantai, biasanya lantai pertama untuk mahasiswa tingkat 1, lantai 2 untuk mahasiswa tingkat 2 dan lantai 3 untuk mahasiswa tingkat 3. Dari 210 orang mahasiswa manajemen akan dipecah menjadi 6 kelas tutorial, setiap kelas terdiri dari kurang lebih 40 orang seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya. Mahasiswa biasanya akan berganti kelas tutorial sebanyak 1 kali dalam masa kuliah di SBM, yaitu pada tingkat dua, sehingga bisa sekelas dengan teman-teman yang berbeda dari sebelumnya.

Lalu, sebenarnya beda perkuliahan di auditorium dan di tutorial itu apa sih?

Jadi, untuk kelas Auditorium, biasanya dosen mengajarkan mengenai konsep dan teori dasar dari sebuah materi, di kelas ini memang dosen akan lebih aktif memberi materi kepada mahasiswa, sedangkan di Tutorial merupakan kelas pemantapan dimana mahasiswa lebih aktif dibandingkan dosen, di kelas tersebut mahasiswa akan lebih banyak membahas soal, mempraktekkan teori yang sudah diajarkan di Auditorium, dan melatih mahasiswa untuk terjun langsung ke lapangan untuk mengetahui pengalaman langsung akan materi yang sedang diajarkan. Kelas tutorial memang dijalankan sesuai dengan intruksi dari dosen senior atau dosen auditorium untuk menyelaraskan materi dan prakteknya. Maka tidak jarang pula kelas tutorial diadakan di luar ruang kelas. Menurut saya sistem ini bagus, dimana saat Auditorium, mahasiswa benar-benar dibekali dengan konsep dasar dan tujuan belajar materi tersebut sehingga mahasiswa tidak mengambang-ngambang dan mengerti secara perlahan tentang materi yang diajarkan.

Tak hanya itu, di kelas tutorial, dari 40 mahasiswa akan dibagi menjadi 6 discussion group. Jadi, tugas-tugas di SBM itu memang kebanyakan tugas kelompok. Nah biasanya pembagian tugas ini berdasarkan grup diskusi tersebut. Saya pribadi merasakan manfaat berbeda antara mengerjakan tugas individual dan tugas kelompok. Jika saat diberikan tugas individual kita bisa mengatur sendiri jadwal mengerjakan tugas tersebut, maka akan berbeda halnya ketika itu menyangkut tugas kelompok. Saya pribadi tipikal orang introvert yang lebih suka mengerjakan segala sesuatunya sendiri sehigga bisa menyesuaikan pengerjaannya sesuai dengan keinginan saya. Sedangkan tugas kelompok pressure-nya lebih banyak, kadang saat kita ingin mengerjakan tugas tersebut, teman sekelompok kita sedang tidak mood, atau tipikal teman sekelompok kita adalah teman-teman yang sering melimpahkan tugas kepada satu pihak saja, saya banyak belajar menghadapi karakter orang saat menghadapi berbagai tugas kelompok bersama discussion group saya sejauh ini, memang ini tantangan yang lebih besar ketika saya harus mengalahkan rasa nyaman saya yang lebih senang jika mengerjakan tugas sendiri.

Suka dukanya seimbang sih, di satu sisi, lebih banyak kepala yang berpikir akan lebih berbobot juga hasil kerja yang didapatkan, namun tetap saja situasi real-nya tidak sesederhana itu, sekali lagi karakter orang berbeda-beda, dengan perkuliahan yang sangat padat dari pagi sampai sore, kadang orang-orang sudah sangat capek untuk meluangkan waktu di luar jam kuliah untuk sama-sama mengerjakan tugas, alhasil kadang masalah-masalah baru timbul. Syukur sekali zaman sekarang dimudahkan dengan adanya LINE, Whatsapp, sehingga setiap orang bisa bertukar informasi dengan mudah, akhirnya terkadang jika memang kami bisa mengerjakan tugas secara pribadi sesuai dengan bagiannya tanpa harus bertemu langsung, maka kami akan lebih memilih untuk membagi tugas saja. Tak jarang karena memang kami harus membahas secara langsung, kami harus mengorbankan jatah libur, sabtu minggu, untuk mengerjakan tugas. Ini yang tidak enaknya, saya pribadi malas mengorbankan hari libur untuk bekerja, tapi apa boleh buat ketika jadwal kosong yang saya miliki berbeda dengan teman-teman sekelompok saya. Memang di SBM sangat dituntut untuk bisa fleksibel menghadapi berbagai situasi.

Jadi sekarang saya ingin menjelaskan lebih detail mengenai tugas-tugas di SBM itu seperti apa.

Tahun pertama, saya benar-benar merasa bahwa mata kuliah yang diajarkan kepada mahasiswa untuk meningkatkan soft skill mahasiswa dalam berkomunikasi di depan umum, meningkatkan kepercayaan diri, dan menghadapi kerja dalam tim dengan berbagai karakter manusia. Selengkapnya bisa baca di postingan saya yang ini. Tahun kedua baru mahasiswa dihadapkan dengan berbagai mata kuliah tentang dasar Operation, Finance, Marketing, dan Human Resource, sesuai dengan pembagian konsentrasi di jurusan manajemen. Tahun ketiga baru setiap mahasiswa memilih ingin mendalami konsentrasi yang mana yang juga menentukan topik skripsi yang akan diambil.

Saya senang karena di SBM lebih banyak praktek di bandingkan teori, saya sering mengerjakan tugas-tugas bersama grup diskusi saya di lapangan untuk bisa mendalami mata kuliah yang diajarkan. Kami pernah terjun langsung ke desa terpencil di Sukabumi yang fasilitas toiletnya saja masih memakai sumur untuk mendalami perbedaan antara kehidupan kota dan di desa, saya banyak belajar tentang kerendahan hati ketika di posisikan di tempat yang jauh dari kata nyaman, saya pernah membahas itu disini.

Bahkan kami harus membangun bisnis sendiri bersama tim di tingkat dua untuk bisa mendalami konsentrasi yang akan kami ambil di tingkat akhir nanti dan bagaimana rasanya kerja dalam satu tim dengan karakter berbeda. Di bisnis tersebut, mahasiswa akan dibagi kedalam beberapa jabatan dan divisi, ada yang menjadi CEO, CMO (Chief Marketing Officer), CFO (Chief Financial Officer), COO (Chief Operating Officer), dan anggota-anggota dari divisi-divisi tersebut. Saya banyak belajar bahwa mencari partner bisnis itu tidak mudah, visi sangat menentukan proses, seperti halnya yang saya alami dengan kelompok saya, dimana ada beberapa orang yang benar-benar menjalani proses membangun bisnis ini agar benar-benar belajar mencari pengalaman membangun bisnis dari nol, bertabrakan dengan mereka yang melakukannya hanya untuk mengejar nilai yang membuat mereka menjalankannya dengan setengah hati, tak jarang ini menimbulkan masalah-masalah kecil hingga kompleks dalam keberjalanan bisnis tersebut.

Saya sangat jujur mengatakan bahwa banyak sekali pembelajaran baru di luar proses perkuliahan formal yang saya dapatkan ketika kuliah di SBM. Saya yang sekarang mulai berani berbicara di depan umum, bisa menatap lawan bicara saat berkomunikasi, tidak mudah grogi dan bisa mengendalikan diri dalam kerumunan orang, karena sesungguhnya hal-hal tersebut sangat dijauhi oleh para introvert. Walaupun belum terlepas sepenuhnya dari rasa panik jika dihadapkan pada situasi ramai, tapi setidaknya ada perubahan yang saya rasakan dibandingkan jaman SMA dulu dimana saya hanya orang-orang dibelakang layar yang lebih suka berkutat dengan buku dibandingkan praktek.

Satu hal lain yang menjadi tantangan besar bagi saya saat kuliah disini adalah sistem mengajar dan belajarnya dituntut menggunakan bahasa inggris. Dosen akan mengajar dalam bahasa inggris dan mahasiswa juga dituntut berinteraksi dengan dosen di jam kuliah dalam bahasa inggris, serta ketika mengerjakan tugas juga harus menggunakan bahasa inggris. Setiap ada tugas presentasi, mahasiswa diwajibkan untuk menyampaikannya dalam bahasa inggris. Saya jujur tidak terlalu lancar berbicara dalam bahasa inggris dan juga banyak teman-teman saya yang lain mengalami tingkat struggle yang sama dengan saya, sama-sama belajar, karena memang skripsi di SBM menggunakan bahasa inggris saat pengerjaan laporan dan juga saat presentasi terhadap dosen, jadi mau tidak mau mahasiswa dituntut untuk melatihnya dari awal sejak kuliah berlangsung.

Banyak sekali yang berbeda antara kuliah saya di universitas sebelumnya dan sekarang, masih banyak pengalaman lainnya yang tidak mungkin saya jelaskan semua disini, dan semua proses yang saya jalani sejauh ini cukup banyak menguras mental saya yang terlalu dangkal ini dalam menghadapi banyak situasi yang beragam dengan berbagai sifat dan tingkah orang yang berbeda pula. Saya tidak ragu untuk mengatakan bahwa saya tidak menyesal ketika pindah ke SBM walaupun harus memulai semuanya dari awal kembali. Semoga saya semakin memanfaatkan masa-masa kuliah saya di SBM dan ITB dengan sebaik-baiknya untuk terus meningkatkan hardskill dan sofskill saya. Selamat berjuang 🙂

6 Comments

  1. Hari

    Hallo kak.
    Saya skrg sdg kuliah di slh satu PTN ternama di Indo dan sdh masuk semester 2. Ada yg mengganggu pikiran dan hati kecil saya, apakah sy salah jurusan atau memang ga bergairah dlm menjalani kuliah di sini. Dan yg terbesit dlm hati ketika semester pertama adlh untuk mencoba lg di SBM ITB. Menurut kaka gmn? Minta saran dr kaka dong

    1. putrinuzulil

      Halo, salam kenal Hari, sejujurnya saya pernah di posisi kamu, tanpa lupa bersyukur dengan apa yang sudah kamu dapatkan sekarang, coba telaah lagi alasan sebenarnya kamu merasa tidak nyaman dengan jurusan kamu sekarang karena apa. Sekedar jenuh dengan rutinitas kuliah yang padat? Banyak mata kuliah yang tidak kamu pahami? Lingkungan yang tidak kondusif? coba hubungkan dengan tujuan kamu ke depan. Kamu ingin menjadi apa? Situasi seperti ini memang membingungkan, saya juga pernah merasakan hal yang sama, namun satu hal yang membuat saya keukeuh untuk pindah saat itu adalah tidak ada relasi sama sekali antara kuliah dan lingkungan kampus saya yang dulu dengan apa yang saya inginkan di masa depan. Semoga membantu. 🙂

      1. Hari

        Kak, maaf bisa saya hubungi lewat email?

        1. putrinuzulil

          boleh, silahkan..

  2. Stefani

    Halo kak… kak aku mau tanya rapot semester 2 kelas 12 itu msh di butuhkan ato ga ya buat pendaftaran ulang gitu ??

    1. Putri

      Halooo.. setauku masih.. dari kelas 1 malah..

Leave a Reply

Required fields are marked*