wisuda

Pendidikan Ideal : Bertahan dalam Sistem Pendidikan Indonesia

Personal

Belakangan saya banyak merenung, di sela-sela ke-hectic-an kuliah saya yang semakin menjadi-jadi.

Dari saya SD sampai kuliah sekarang, rasa-rasanya saya masih belum mendapatkan esensi yang benar dari makna pendidikan.

Saya kuliah di ITB.

Faktanya kuliah di ITB itu luar biasa berat, padat, dan kadang memang bisa membuat mahasiswa down dengan berbagai tugas, quiz, dan ujian-ujian lainnya yang bisa dibilang “tidak ada henti-hentinya”.

Saya kadang bingung, apa saya yang salah membagi waktu, atau apakah saya boleh menyalahkan sistem pendidikan secara langsung?

Saya ingat sekali dulu waktu saya SD, saya sekolah dari jam 8 sampai jam 12 saja. Sedangkan sekarang? anak SD saja sudah mulai pulang sore, belum lagi tuntutan les tambahan lainnya yang menanti setelahnya.

Saya mulai berpikir, sepertinya ada yang salah disini.

Saya sering menghadapi kondisi dimana saya benar-benar down dengan berbagai rutinitas kampus saya. Setiap hari pasti ada saja satu tugas baru dan kadang setiap satu minggu dan dua minggu sekali quiz serta setiap dua bulan sekali UTS dan UAS. Rasanya otak saya stuck, jenuh, dan antara waras dan tidak dengan berbagai tuntutan ini.

Lalu apa saya tidak senang kuliah di ITB.

Tidak, bukan itu maksud saya, ini pembahasan lain. Saya tetap salah satu orang yang sangat bersyukur bisa kuliah disini diajari oleh dosen-dosen yang berkompeten dengan lingkungan yang sangat kondusif untuk pengembangan diri saya.

Tapi, saya mengeluhkan tentang “sistem pendidikan”nya.

Apa pendidikan selalu harus identik dengan stress, rasa terbeban, dan kejenuhan?

Dulu saya berpikir bahwa hanya saya yang merasakan hal ini, namun setelah melihat teman-teman saya yang lain, rasanya bukan cuma saya yang merasakan hal yang sama, banyak  dari mereka bahkan mungkin siswa dan mahasiswa di luar ITB yang sering stress dengan tuntutan sekolah dan kuliah.

Lalu bagaimana yang idealnya?

Saya salah satu orang yang mempercayai bahwa untuk melakukan segala sesuatu kita harus enjoy dan menikmati aktivitas yang kita lakukan, maka esensinya akan lebih terasa. Rasa tertekan membuat perasaan dan pikiran kita tertutup, otak kita hanya berfokus pada tekanan tersebut, padahal dibalik tekanan itu ada yang namanya “manfaat dan fungsi mempelajari ilmu” tersebut yang bahkan terlupa.

Menurut saya, terkadang dengan banyaknya tuntutan seperti tugas dan ujian, malah mahasiswa menjadi jenuh dan kehilangan esensi untuk menerima ilmu dengan baik karena rasa terbeban jauh lebih dominan dibandingkan rasa menikmati proses belajar tersebut. Alhasil, ilmu hanya sebatas tulisan di kertas saat membuat tugas atau menjawab ujian. Setelah itu? hmmm, saya ragu satu bulan kedepan kita masih mengingatnya.

Lalu apakah tugas dan ujian itu tidak boleh ada?

Tidak, saya juga tidak setuju dengan hal ini, namun ada batasnya, mahasiswa juga manusia, punya keterbatasan berpikir. Saya tidak heran, makin kesini angka depresi masyarakat Indonesia semakin tinggi dalam kurun waktu dekat ini.

Padahal, peran dan kewajiban seseorang tidak hanya sebagai mahasiswa yang harus kuliah. Mereka punya tuntutan dan kewajiban yang lain. Hampir bisa dipastikan saat masa kuliah, 80% waktu mahasiswa adalah untuk aktivitas kuliah, dari aktivitas di kampus, mengerjakan tugas, belajar, dan lain sebagainya.

Lalu kemana kita bawa peran kita yang lain sebagai seorang anak yang butuh membantu orang tua, seorang kakak yang seharusnya mengajari adiknya belajar dan menemani adiknya bermain, seorang makhluk sosial yang butuh membantu orang lain, seorang makhluk Tuhan yang butuh terus belajar mendekat kepada-Nya, seorang pemimpi yang butuh mendalami passionnya lebih jauh, atau bahkan seorang manusia yang punya banyak keterbatasan yang kadang butuh rehat sejenak untuk menikmati hidup, melihat sekitar, bermain, dsb.

bangku kuliah
Photo by Christian Fregnan on Unsplash

Apakah Anda akan menjawab, “Ya belajar manajemen waktu dong”.

Tapi……

Kalau kenyataannya waktu kita tersita dengan berbagai tuntutan dan deadline kampus dan itu saja sudah membuat kita stress, apa Anda mau untuk sekedar mengerjakan aktivitas lain? Kalau saya pribadi, lebih memilih untuk tidur, mengisitirahatkan pikiran dan tubuh setelah beraktivitas berat menyelesaikan semua tuntutan tersebut.

Lalu kemana kita bawa tuntutan kita yang lain?

Haruskah kita melumrahkan semua itu?

Menurut saya seharusnya pendidikan itu yang memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan untuk siapapun, dengan metode yang benar dan cara belajar yang benar.

Mungkin maksud dari pembuat kurikulum mewajibkan mahasiswa menghadapi berbagai tugas dan ujian agar mahasiswa bisa “mau tidak mau harus belajar”. Mungkin ini atas dasar bahwa guru atau dosen tidak percaya dengan siswa dan mahasiswa.

Mereka mungkin beranggapan bahwa kalau tidak dikasih tugas atau quiz, kita tidak akan mau belajar.

Tapi para dosen, para guru, para pembuat kurikulum itu kadang lupa dengan batasan manusia.

Kenapa tidak membuat sebuah sistem yang menyenangkan dalam proses belajar sehingga mahasiswa bisa menyeimbangkan diri antara kuliah dan perannya yang lain, yang ringan-ringan saja, tapi efektif.

Memberi tugas dan quiz bukan cara pintas yang efektif untuk membuat siswa dan mahasiswa mau belajar.

Jangan membuat siswa dan mahasiswa itu terbeban.

Sistem pendidikan kita hanya berfokus pada kemampuan intelektual yang membuat kita tidak berkembang, padahal buruk untuk psikologis mahasiswa.

Saya kadang berpikir, apa jadinya psikologi masyarakat indonesia, kalau dari kecil saja sudah ditimpa stress, mungkin kalau indikator keberhasilan negara kita berdasarkan angka kebahagiaan, bukan dari pendapatan negara, negara kita bisa jadi negara yang paling rendah angka kebahagiaannya.

Jadi, salahkah sekarang kalau mahasiwa dan siswa mencontek? salahkah kalau sekarang guru dan dosen pun terkadang malah terlalu kaku dalam mengajar?

Ini tetap tidak dibenarkan, tapi kita harus telusuri akar penyebabnya, bukankah ini penyebabnya dari beban siswa, mahasiswa, dan guru yang terlalu berat?

Saya penganut pola hidup yang sederhana, jauh dari beban, enjoy, dan esensinya itu dapet, bukan asal jalan, lulus, trus ilmu yang didapat selama ini bingung mau diapain atau mungkin malah menghilang gak tau kemana.

Mengubah kurikulum memang tidak mudah, tapi untuk hal-hal kecil seperti intensitas pemberian tugas, kuiz, dan metode belajar masih bisa diubah dengan semanusiawi mungkin, jangan sampai kita saling menzalimi manusia.

Hidup itu harus balance, bukan berat sebelah.

Lalu, sekarang kita harus apa?

Yang selama ini saya terapkan adalah seberapa pun beratnya tuntutan kuliah saya, saya akan selalu berusaha untuk enjoy, caranya? saya tidak akan memaksakan diri, kalau pikiran saya sedang down, saya tetap akan mengerjakan hal lain yang saya nikmati selain mengerjakan tuntutan kuliah, ngeblog dan membaca buku misalnya, saya berusaha tidak terlalu pusing dengan kehidupan kampus saya. Saya akan mengerjakannya lagi saat pikiran saya sudah fresh kembali setelah saya mengerjakan hal-hal yang saya suka, ngeblog, baca buku, dsb.

Di saat orang lain berlomba-lomba untuk mengejar IP sempurna, saya mencoba menjalani semampu fisik dan mental saya. Memang alhasil nilai saya bukan di barisan nama-nama tertinggi di angkatan, tapi juga tidak bisa dibilang buruk. Kenapa? Karena saya tidak memaksakan diri, saya berusaha memposisikan mental saya berada dalam kondisi normal, tidak tertekan, otak saya menerima apa yang memang saya butuhkan dan perlukan, dan hal tersebutlah yang lebih melekat di otak saya.

Orang lain mungkin mampu menghafal berbagai materi dengan baik, saya kalah kalau dibandingkan dengan hal itu, tapi saya mungkin bisa di beberapa materi yang saya minati, pembahasan yang menarik bagi saya, dan sesuai passion saya. Di luar itu saya belajar dan eksplorasi hal lain, mendalami minat saya di blog, belajar fotografi, menambah wawasan tentang topik kesehatan, belajar ilmu agama. Intinya adalah saya berusaha agar semuanya balance, insya Allah, terus berusaha walau sekarang masih berat sebelah.

Saya tidak tau harus memberi saran bagaimana, saya hanya menceritakan apa yang saya alami dan lakukan. Jangan stress, jangan terbeban, kita hidup bukan hanya untuk mencapai hal dunia, kita punya tanggung jawab terhadap Allah SWT, kepada orang tua, menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, dan belajar banyak hal di luar materi kuliah, jangan menjadi kaku, eksplorasilah, hiduplah bahagia dan damai tanpa harus berambisi pada banyak hal di dunia ini. Hidup damai dalam rasa cukup itu sangat melegakan, tidak ada tuntutan berarti, menjalani apa yang kita inginkan dengan ikhtiar lalu menyerahkan semua hasilnya kepada Allah SWT.

Live slowly and balanced.

Mengubah sistem pendidikan itu perkara kompleks dan mungkin itu di luar kapasitas kita, tapi kita masih mampu mengubah cara kita menghadapi lingkungan itu.

Ini murni pendapat saya, saya mungkin salah, tapi untuk saat ini, pernyataan di atas itu merupakan sesuatu yang menurut saya benar, dan jikapun itu salah, semoga saya segera tercerahkan nantinya. Amin. Thanks for reading.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *