She’s Confused

Personal

Setahunan belakangan ini, saya mulai dihinggapi stress berat dengan kehidupan, bahkan pernah terpikir bahwa saya sudah dalam tahap depresi. Cukup sulit untuk merasa tenang, apalagi bahagia. Wajah saya murung, mata saya bingung, berat badan saya naik karena tidak diasupi hal baik, wajah saya mulai berjerawat, kulit saya kusam, diperparah dengan gundah hati yang saya rasakan yang semakin mengacaukan kehidupan pribadi saya.

Bertahun-tahun saya mempelajari diri, membaca banyak buku, mengenal diri lewat tulisan, video, pengalaman hidup. Namun rasanya, ini yang tersulit. Segala sisi kehidupaan saya menikam saya tanpa ampun. Saya semakin menyakiti diri sendiri dan orang lain, dan orang lain pun terus menyakiti diri saya karena saya kunjung tak becus menyelesaikan diri sendiri yang secara tidak langsung mempengaruhi kinerja dan mood orang lain.

Saya sekian lama menanggung lelah yang teramat panjang. Benar-benar lelah.

Saya kesepian di ibukota, saya kesulitan beradaptasi dengan ritme kehidupan baru, dengan orang-orang baru, dengan jam kerja baru, dengan rutinitas baru yang harus saya sesuaikan kembali dengan ritme diri sendiri.

Rasa-rasanya sedikit sekali yang beres, banyak yang berantakan. Saya kebingungan untuk menelaah mana yang benar dan yang salah. Kapan saya harus speak up ketika saya merasakan luka akibat orang lain dan kapan saya harus diam saja mengakui bahwa kali itu memang adalah porsi kesalahan saya. Kadang itu terlalu bias untuk terlihat. Tak jarang, di saat saya seharusnya berbicara, malah saya salah mengambil sikap, rupanya lebih banyak porsi kesalahan saya disana daripada orang lain. Di lain sisi, di saat saya harusnya maju untuk menyelamatkan harga diri, saya malah diam menganggap bahwa itu adalah kesalahan saya, saya yang baperan, saya yang memang bodoh, sehingga orang lain akhirnya terus semena-mena berperilaku pada diri saya, tanpa meletakkan nilai manusiawi disana.

Saya lelah menyimpan sendiri. Saya lelah dengan mereka yang tak mengerti perasaan saya. Saya lelah dengan mereka yang membandingkan diri saya dengan orang lain. Saya lelah dengan pikiran dan perasaan saya sendiri. Saya lelah dengan lingkungan saya. Saya tak kunjung menikmati kehidupan saya sebagaimana orang lain.

Saya lelah hingga akhirnya memutuskan tak peduli dan fokus pada perjalanan saya sendiri. Saya lelah untuk melihat orang lain yang maju di depan saya dan memutuskan untuk mendorong kaki ini melangkah melaju bersama. Saya lelah dengan segala asumsi yang saya buat sendiri dan memilih mendengar suara-suara yang bercokol di benak saya dan menyimaknya dari awal sampai akhir.

Saya lelah berekspektasi dengan orang lain dan memilih mengerjakan apa yang saya mampu ketimbang menekan diri terlalu dalam dan memperkeruh suasana hati. Saya lelah mengejar masa depan dan memilih mengejar perbaikan yang perlahan.

Bahagia ada disana, bahagia ada disana ketika saya merangkul segala ketakutan, kesedihan, kekhawatiran yang berkelana di pikiran dan perasaan saya tanpa berusaha mengenyahkannya. Hingga saya tau seberapa banyak kurang yang saya miliki , hingga saya mampu berjalan bersamanya tanpa minder dan sungkan karena terlambat dan tertinggal dari orang lain. Sampai saya nyaman dengan tubuh, pikiran, dan perasaan saya sendiri, serta berbagai hal yang melekat pada diri saya tanpa terus berhenti belajar dan memahami.

Saya lelah, sampai berhenti berusaha meyakinkan orang lain tentang saya, melainkan saya yang akan terus meyakinkan diri agar bisa melewati setiap kesulitan itu dan bahagia dengan proses tersebut.

4 thoughts on “She’s Confused”

  1. halo ka, salam kenal ya…
    tau ga ka aku suka banget sama tulisan-tulisan kakak, sekitar awal 2018 aku nemu blog ini, aku mau ngucapin terimakasih, ntah kenapa setiap baca aku ngerasa semangat, tenang dan vibe positivenya nyampe ke aku. Aku cukup kagum sama kk seriusan:’). Tapi kenapa di tulisan ini aku ngerasa sedih, aku harap secepatnya akan membaik ya semangat ka, aku tau kk mampu, aku tunggu tulisan selanjutnya…

    1. Hai Daisza, baca komentarmu rasanya bikin aku tenang kembali, terima kasih juga sudah tergerak hatinya untuk membuat komentar di tulisanku yang memang betul sedang di vibes desperated ini. Dan satu lagi, terima kasih sekali sudah mengikuti cerita personalku dari awal dulu. 🙂

  2. halo ka putri! kebetulan aku juga termasuk silent reader dari blog kakak selama ini, banyak banget hal baik yang aku terapin dari tulisan-tulisan kakak selama ini! bahkan aku jadi terinspirasi buat belajar menulis juga, aku mau ngucapin terima kasih untuk itu 🙂 semoga kondisi kakak bisa kembali baik lagi, semangat kak insya allah usaha nggak mengkhianati hasil! 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.