Redefining Vision

Personal

Beberapa tahun terakhir, mungkin kalau saya gak salah, di mulai dari tahun 2015 lalu, saya mulai banyak bertanya tentang apapun yang saya alami, lihat, dengar, dan tangkap dengan panca indra saya sendiri. Saya mulai banyak berpikir secara detail apa saja yang sedang saya hadapi dan rasakan dalam diri saya.

Beberapa hal banyak yang saya sadari salah, beberapa yang lain masih banyak bingungnya, dan beberapa yang lain lagi saya mulai sadar bahwa saya sudah mulai cukup banyak melalui fase hidup yang tidak lurus-lurus saja sejauh ini, dimana saya mulai berani mengambil beberapa resiko yang bagi remaja seusia saya saat itu mungkin dianggap cukup riskan.

Sebagai seorang observer, saya senang mendengar dan mengamati, banyak sekali hal-hal kecil yang saya bingungkan yang mengubah pandangan saya akan sesuatu. Dimulai dari mencoba untuk keluar batas yang orang lain gariskan kepada saya, saat saya memutuskan untuk tinggal di lain kota dengan ibu, bapak, adik, dan keluarga besar saya, disitulah sedikit demi sedikit saya belajar mengenal diri saya sendiri dengan jauh lebih baik.

Sampai sekarang pun rasanya ego saya masih sering menang dibandingkan kontrol diri yang seharusnya saya alihkan segera, tapi yang setidaknya saya syukuri sekarang, lebih mudah bagi saya untuk memperoleh tenangnya kembali, dibandingkan dulu dimana satu kejadian bisa mempengaruhi mood saya berminggu-minggu, banyak efek buruk yang saya rasakan pada akhirnya, dimulai pertemanan yang tidak baik, resah, dan kekhawatiran-kekhawatiran yang seharusnya tidak perlu diprioritaskan sama sekali.

Alhamdulillah, sedikit banyak kesalahan-kesalahan yang dulu saya lakukan sudah mau saya akui dan ubah. Bagi saya, mengakui kesalahan diri butuh energi ekstra, tidak mudah melakukan itu, karena ego saya terlampau tinggi sebagai seorang remaja yang sejak dulu kemauannya seringkali harus dipenuhi.

Perjalanan itu sedikit demi sedikit saya tuangkan dalam blog ini, saya menjadikan blog ini sebagai media untuk saya menuangkan asumsi, nasehat, berikut pikiran baik, dan buruk untuk diterjemahkan dalam paragraf-paragraf runtun untuk ditarik kesimpulan akhirnya.

Awal dulu, saya sedikit berambisi dengan blog ini, saya ingin menjadikannya sebagai ladang karir saya, tapi setelah beberapa tahun saya lewati, dan menulis terus menerus, walau kadang senyap kadang ramai, pada akhirnya saya memutuskan untuk tidak terlalu ambisius mengejar itu semua.

Saya senang menulis, dan saya ingin terus menulis dengan perasaan senang tersebut, tanpa tertekan target tertentu. Kadang saya butuh rehat dan waktu untuk mengerti, saat itu saya mungkin akan absen, setelahnya, segala pengertian pun moga-moga selalu tersampaikan dengan murni melalui tulisan-tulisan yang coba saya uraikan disini.

Karena semuanya tentang sudut pandang saya dalam melihat dan mengerti, saya sedikit meminta perhatian teman-teman untuk tidak mengambil kesimpulan benar 100% dari apapun yang saya tulis. Kadang setuju, kadang tidak, saya anggap wajar, tapi semoga dengan membaca apa yang saya curahkan melalui tulisan-tulisan di blog ini bisa membersamai kita semua dalam niat baik untuk terus merubah diri kita. Tak usah urung untuk saling memberi kabar, menasihati, saya akan sangat senang menerimanya, namun tentu dengan tutur yang baik murni dari hati tanpa campur tangan ego.

Sekali lagi, blog ini sebagai media saya belajar, saya senang jika sedikit banyak membawa pengaruh baik untuk teman-teman, saya teramat senang sekali. Terima kasih ya. Semoga perjalanan kita, sedih kah itu, senang kah itu, penuh khawatir, takut, atau gelisah, semoga tetap ada porsi baiknya sendiri untuk dinikmati.

6 thoughts on “Redefining Vision”

  1. Good to see you always in the positive minds, Put. Berpikir dan berperilaku baik itu memang sudah kewajaran kita sebagai manusia, tapi jangan cuma berpikir positif saja karena dunia/kehidupan gak terbuat cuma dari hal-hal yang positif. Mau gak mau kita mesti juga punya pemikiran negatif sebagai tameng diri biar gak melekat ke sesuatu di kehidupan ini atau kaget saat sesuatu negatif itu terjadi. Ceritanya diingatin lagi nih aku dari buku yang lagi ku baca, namun worth to be shared!

    1. It’s not always easy to be in good vibes every day ndraa…but we try to realise, receive, without overanalyzed them all kan, kadang emang banyak numpukin otak dengan perintilan bikin yang besar2 susah hinggap, taruhannya hati gak tenang kan. Thank you for sharing sejauh ini di blogku indraaaaa..

      1. Setuju banget makanya aku stated gpp berpikir negatif tapi bersolusi. Terima kasih kembali, Put. Tulisanmu bagus dan setipe dengan seleraku jadi senang bacanya haha.

  2. Yup blogging is stress release. Saya dulu pengen banget di endorse kek artis, alhamdulillah 2th kemarin kesampean ampe cape sendiri dan sekarang pilih2 job aja n pengen lebih santai aja sih mba heheh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.