Pengalaman Salah Jurusan dan Pindah Kampus ke SBM ITB

Personal
Sebelumnya, aku mau bilang dulu kalau tulisan ini bakal panjang banget ya, so brace yourself to know the whole story till you get the point.Β 
Dulu, aku orangnya super galau kalau sedang di posisi harus memilih. Aku ulas sedikit tentang bagaimana perjalanan aku di SMA dulu dalam memilih jurusan sampai sekarang hingga akhirnya nyasar di Bisnis dan Manajemen.
Dari SMP aku pengen banget jadi dokter dan itu berlanjut sampai kelas 2 SMA tanpa tau apa alasan sebenarnya pengen masuk jurusan itu.
Dulu yang aku tau jadi dokter itu keren banget, status sosial di dalam masyarakat juga tinggi.
Dokter itu merupakan profesi elit yang gak semua orang bisa ngerasain, karena mungkin seleksi masuknya yang ketat dan biaya pendidikannya yang mahal. Intinya adalah dulu aku hanya melihat dari sisi bagaimana orang akan memandang aku, bukan apakah aku akan nyaman di bidang itu atau tidak.
Pada dasarnya aku bukanlah orang yang berani untuk membedah bagian tubuh orang, bukan orang yang tahan lihat darah, aku juga super takut masuk rumah sakit, ada trauma tersendiri ketika mendengar pasien berteriak kesakitan atau melihat luka-luka parah, misalnya korban kecelakaan. Aku super gak kuat dengan semua itu, karena aku tipikal orang yang sering memposisikan diri seperti yang tengah dirasakan orang lain.
Tapi dulu aku memaksakan diri,
Gak papa deh, yang penting jadi dokter, kan keren tuh.
Ya, cuma dengan embel-embel β€œkeren”, padahal mungkin aku tidak akan sanggup menjalani prosesnya nanti. Ditambah lagi dari awal orang tuaku memang menyarankan aku menjadi dokter, orang tua mana sih yang gak seneng anaknya jadi dokter, hampir semua pemikiran orang tua pasti sama, profesi dokter itu sangatlah terhormat dan bergengsi, karena anak yang menjadi dokter terkadang bisa mengangkat status orang tua.
Singkat cerita, saat akhir semester di kelas 11 SMA dulu, akhirnya aku menyerah, aku berpikir alasan yang aku pertahankan selama ini untuk memilih kedokteran itu tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Dokter itu bukan hanya tentang gengsi semata, dokter adalah perantara Allah dalam mengangkat penyakit yang dirasakan orang lain. Bisa dibayangkan betapa mulianya profesi itu, salah satu profesi yang menurutku mendatangkan pahala yang sangat besar namun mungkin akan sia-sia ketika terbersit sedikit saja kesombongan di dalam hati. Profesi yang sangat riskan untuk membuat seseorang lupa diri.
Namun aku juga tidak serta merta menjudge kalian semua akan berakhir seperti yang aku bilang sebelumnya ya, silahkan pertahankan dan lanjutkan mimpi kalian kalau memang kalian tau alasan terkuat kenapa kalian ingin menjadi seorang dokter, insya Allah akan mendatangkan berkah dan pahala untuk kalian juga nantinya. πŸ™‚

Setelah melepas kedokteran, aku pun berpikir jurusan apa yang cocok dengan kepribadianku, akhirnya aku memilih teknik karena pada dasarnya aku sangat suka dengan Matematika. Akhirnya aku memilih jurusan perminyakan pada awalnya, waktu itu aku sempat sharing dengan keluarga untuk menanyakan pendapat mereka, mereka sedikit keberatan dengan pilihanku.
Menurut mereka perminyakan itu adalah profesi yang berat dan tidak menentu, bisa saja nanti aku ditempatkan di daerah-daerah yang sangat jauh untuk dijangkau oleh keluargaku. Mereka berpendapat, tugas utama perempuan bukanlah mencari nafkah, mereka tidak ingin aku sering meninggalkan keluargaku jika harus ditempatkan kerja di daerah yang jauh. Alasan itu pun bisa aku benarkan dalam hati. Pada akhirnya aku tidak jadi memilih perminyakan.
Opsi lain yang ada di benakku waktu itu adalah arsitektur. Berawal dari saat semester 5 di SMA dulu saat aku belajar salah satu pelajaran seni di sekolah, tepatnya aku lupa nama pelajarannya apa. Namun di pelajaran itu, siswa disuruh membuat proyeksi untuk membangun sebuah ruang/kamar dan bangunan dengan desain seartistik mungkin. Dulu aku sangat menikmati tugas-tugas tersebut, tanpa pikir panjang aku pun langsung memilih arsitektur untuk jurusanku di kuliah nanti. Padahal setelah aku pikir-pikir, kemampuanku itu sangatlah mentah dan arsitektur bukan hanya mempelajari tentang pola bangunan sederhana yang aku pelajari di SMA saat itu, namun lebih kompleks. Setelah melihat kurikulum program studi arsitektur di salah satu universitas tujuanku, aku sadar arsitektur tidak sesederhana itu, aku takut keputusanku itu hanya berdasarkan keinginan sesaat, karena pada dasarnya kuliah di arsitektur itu sangatlah berat. Akhirnya, keinginan untuk masuk arsitektur pun aku lepas.
Semoga kalian gak bosen ya…karena perjalanannya masih sangat panjang :’)
belajar sbmptn salah jurusan
www.unsplash.com
Setelah arsitektur, aku menjatuhkan pilihan di teknik sipil, aku tidak tau pasti alasan apa yang mendasari aku ingin masuk jurusan itu. Mungkin karena aku melihat Om ku yang sangat sukses menjadi kontraktor atau karena kebanyakan kontraktor memiliki penghasilan yang sangat tinggi? Namun setelah melihat kurikulum teknik sipil di salah satu universitas, aku menyerah karena terlalu banyak mata kuliah yang berhubungan dengan fisika. Jujur saja aku sangat lemah di mata pelajaran itu, dulu waktu di teknik industri juga setiap mata kuliah yang berhubungan dengan fisika aku selalu mendapat nilai rendah, karena aku takut tidak akan sanggup mengikuti mata kuliah yang diwajibkan dengan baik, teknik sipil pun akhirnya aku lepas.
Pelabuhan terakhir adalah teknik industri, dimana aku sempat kuliah disana selama 2 tahun. Alasan aku memilih teknik industri adalah karena memang aku ingin belajar tentang manajemen. Hambatannya adalah dulu aku takut belajar IPS lagi dari awal jika memilih jurusan Manajemen di Fakultas Ekonomi, maka aku mencari tau jurusan IPA yang ada sangkut-paut dengan manajemen. Setelah searching di google dan menanyakan ke beberapa kakak tingkat, akhirnya aku menjatuhkan hati ke teknik industri.
Namun setelah melalui masa 2 tahun perkuliahan,ternyata ilmu manajemen di teknik industri sangat sedikit sekali dipelajari, bahkan itu hanya pembelajaran dasar saja, bukan mata kuliah utamanya.
Aku tidak pernah membayangkan aku akan mempelajari tentang permesinan, belajar mengelas, bisa dibilang teknik mesin banget, aku juga mempelajari pemrograman secara umum. Yang aku tangkap adalah perbedaan antara manajemen di teknik industri dan manajemen di fakultas ekonomi adalah manajemen TI lebih mempelajari bagaimana mengatur siklus/alur produksi seefektif/seefisien mungkin dari segi waktu, kualitas, dan biaya sehingga bisa menekan biaya produksi produk serendah mungkin. Sedangkan manajemen di fakultas ekonomi dan bisnis mempelajari siklus setelah barang jadi, bagaimana mengatur manusia/SDM/karyawan yang berhubungan dengan HRD, mengatur keuangan yang berhubungan dengan Finance, mengatur pemasaran yang berhubungan dengan Marketing, dan lainnya. Sedangkan saat di TI dulu, untuk tau cara memanfaatkan raw material (bahan mentah) seefektif mungkin, kita harus mempelajari tentang karakteristik setiap material seperti yang dipelajari oleh anak mesin, sehingga kita tau mana material yang paling memungkinkan dari segi kualitas dan biaya untuk dipakai pada produk yang akan diproduksi, atau kita harus tau dasar teknik pembuatan produk, misalnya harus pakai metode las atau bubut? Jadi kita harus mempelajari teknik pengerjaan tersebut juga, itu nantinya akan dipelajari saat di praktikum dimana aku disana belajar mengelas, membubut, dll. Itulah ekspektasi yang tidak pernah aku bayangkan dari awal, mungkin itu adalah kesalahan dari aku sendiri yang tidak pernah mencari tau tentang jurusan ini secara mendalam dulunya, akhirnya aku salah jurusan dan berniat pindah.
Tahun kedua aku pindah dan berhasil masuk di Teknologi Pangan di Unibraw, alasan aku memilih jurusan itu adalah karena aku ingin mengembangkan bisnis di bidang pengolahan hasil pertanian suatu saat nanti. Namun, rupanya orang tuaku keberatan dengan pilihan tersebut karena dalam pandangan mereka di Aceh teknologi pangan tidak memiliki prospek kerja, ditambah lagi waktu itu kondisi perekonomian keluargaku sedang sangat riskan untuk aku kuliah di luar yang menuntut pengeluaran yang banyak.
Akhirnya tahun ketiga aku tes lagi setelah memastikan kondisi finansial kami sudah membaik. Akhirnya aku berani memilih Manajemen dan belajar IPS dari nol. Disinilah tantangan baru dimulai seperti yang aku ulas di postingan sebelumnya di bawah ini.
Alasan aku memilih SBM adalah karena aku ingin belajar bisnis dari nol, mungkin banyak yang mengatakan, kalau mau jadi pengusaha gak harus kuliah kok, aku tidak 100% menyangkal statement itu. Menurutku ada beberapa hal yang membedakan antara mereka yang berpendidikan dibandingkan yang tidak (disini aku tidak bermaksud merendahkan ya, fokusku hanya kepada mereka yang tengah di posisi mempertanyakan apakah kuliah penting atau tidak). Dari pengalamanku kuliah di SBM, tahun pertama kita belajar bagaimana cara untuk berani tampil di depan orang, meningkatkan rasa percaya diri, mampu berkomunikasi dengan baik dan mampu membangkitkan rasa percaya orang lain terhadap kita. Jadi kita tidak langsung terjun mempelajari mata kuliah tentang finance, marketing, dll, karena tanpa ilmu komunikasi yang baik juga semua pembelajaran itu tidak akan berjalan dengan efektif.
Contohnya saat dihadapkan dengan client suatu saat nanti, sepintar dan sekreatif apapun ide yang kita miliki namun apabila tidak bisa tersampaikan dengan baik, maka sama saja client tidak bisa menangkap maksud dari pemikiran kita. Kita juga belajar bagaimana mengelola gesture tubuh, cara berbicara, bahkan mengatur mimik wajah saat berada di hadapan orang lain, karena ini secara tidak langsung mempengaruhi bagaimana persepsi orang terhadap kita. Mungkin ini yang tidak dipelajari dari orang-orang yang tidak berkesempatan untuk merasakan bangku kuliahan. Proses yang dijalani saat mengenyam bangku pendidikan juga secara tidak langsung berpengaruh terhadap pembentukan pola pikir dan pola perilaku seseorang, orang yang berpendidikan pemikirannya biasanya lebih terstruktur dan mereka lebih berpengalaman dalam menghadapi beberapa kondisi yang bisa saja akan mereka dapatkan ketika berada di dunia kerja nantinya. Jadi menurutku, selagi kamu memang punya kesempatan dan kemampuan untuk kuliah, tak ada salahnya untuk mengenyam pendidikan formal di universitas. πŸ™‚
menimati belajat
www.unsplash.com
Balik lagi ke topik awal, kenapa aku memiliki ketertarikan untuk memiliki bisnis sendiri? salah satu alasannya adalah karena aku merupakan salah satu orang yang menganut pemikiran konservatif dimana aku meyakini bahwa tugas utama perempuan adalah mengurus rumah tangga dan tugas lelaki adalah mencari nafkah. Dengan memiliki bisnis sendiri, aku dapat mengatur waktu kerjaku sesuai yang aku inginkan sehingga kapanpun anakku dan suamiku membutuhkanku, aku selalu ada di samping mereka. Aku juga bukanlah tipikal orang yang suka dengan rutinitas yang sama setiap harinya, karena aku orang yang mudah terjangkit rasa bosan, bisa dibayangkan sendiri bagaimana beratnya aku harus melalui rutinitas kantoran yang hampir sama setiap harinya.Β 
Sampai saat ini, aku sangat menikmati masa perkuliahanku di SBM, karena memang inilah bidang yang aku sukai dan minati pada dasarnya. Aku lebih bisa mengembangkan diri disini, semenjak masuk SBM, aku mulai berani berbicara dan tampil di muka umum tanpa harus menahan malu dan gengsi lagi, karena memang dari awal kita terlatih untuk itu.
Sedikit demi sedikit aku mulai keluar dari zona nyamanku, tidak ada penyesalan sedikitpun dengan aku merelakan masa 2 tahunku dulu kuliah di tempat yang bukan bidangku, karena semuanya adalah proses pembelajaran. Banyak hikmah yang bisa aku ambil dalam beberapa tahun ini sehingga sekarang aku menjadi pribadi yang lebih bersyukur dan lebih menghargai proses yang ada.
Selamat menentukan pilihan adik-adik, pikirkan baik-baik apa yang benar-benar kalian inginkan dalam hidup ini, jangan terpengaruh oleh perkataan atau batasan-batasan yang diberikan orang lain terhadap kalian, kembangkan skill kalian sesuai dengan bidang yang kalian suka, karena kalian yang menjalani prosesnya, bukan mereka.Β 
Silahkan share ke teman dan sosial media yang kalian punya jika kalian merasa tulisan ini bermanfaat bagi orang lain. Terima kasih. πŸ™‚

7 thoughts on “Pengalaman Salah Jurusan dan Pindah Kampus ke SBM ITB”

  1. Hallo kak,saya kiki salah satu mahasiswi di salah 1 ptn di Jakarta, salam kenal.
    Terimakasih, tulisan kakak sangat membantu dan membuka pola pikir saya.
    Saya juga merasa kalau saat ini saya salah jurusan, saya ingin mengikuti jejak kakak bljr ips dr 0 dan pindah kampus jg.
    Saya jg pengguna zenius seperti kakak.

    Sekali lagi terimakasih kak,sukses selalu ya πŸ™‚

  2. Hallo kaaak! Waah ceritanya sangat menginspirasi, aku juga merasa sedang salah jurusan rencananya tahun depan ikut sbmptn lagi. Terimakasih yaa kak sharingnya, semoga bisa menyusul di sbm itb

  3. Kak biayanya gimana kak, kan mahal dan katanya d sbm gk ada potongan ukt, org tua saya kurang mampu, mohon solusinya gmana kak?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.