jurusan IPA vs IPS

Anak IPA vs Anak IPS

Personal

Uda lama banget gak ngepost tentang masa perkuliahan saya di SBM, padahal niat awal bangun blog ini sebagai nazar saya karena berhasil lolos di SBM ITB, niatnya untuk sharing tentang seluk beluk SBM ITB yang jarang banget ada yang ngulas tuntas di blog-blog. Bismillah, semoga kedepannya saya bisa lebih banyak lagi berbagi informasi yang seringkali menjadi pertanyaan bagi adik-adik SMA di luar sana yang menjatuhkan hati di salah satu jurusan di kampus ganesha ini.

Sebenarnya SBM seringkali dianggap remeh oleh orang-orang, terutama anak Teknik di ITB, saya sering mendengarnya secara langsung, walau ada juga beberapa yang memuji kelebihan anak SBM di beberapa aspek. Dibangun dibawah salah satu institut ternama yang memang jurusan saintek mendominasi didalamnya, ditambah lagi anggapan orang-orang tentang anak hitung-hitungan (re :IPA) lebih unggul daripada anak teori (re:IPS), tidak jarang orang-orang malah mempunyai pandangan berbeda dengan anak-anak jurusan saya, bahkan cenderung meremehkan.

“Yaelah, anak SBM modal ngapal doang”

“Yaelah anak SBM modal tampang sama ngomong doang”

Sering, sering banget orang punya statement kalau anak IPA itu jago di hitung-hitungan, anak IPS jago di ngapal. Saya di jurusan manajemen juga punya mata kuliah yang dituntut untuk bisa berhitung, namun yang membedakannya adalah tentang tujuannya sendiri. Kalau anak manajemen belajar accounting yang super banyak angka itu untuk bisa menganalisis keadaan finansial sebuah perusahaan supaya bisa mengambil keputusan yang tepat agar company tersebut tidak rugi atau bahkan collapse. Sedangkan anak IPA belajar hitung-hitungan untuk aplikasi lainnya, misalnya biar bangunan gak roboh, gak salah pemetaan, dll. Tentu beda tujuan, beda juga dong kepentingannya, tidak bisa disamaratakan.

Diibaratkan sapu dibandingin sama pel lantai, sapu ya untuk membersihkan lantai dari debu, sedangkan pel digunakan untuk membuat lantai bebas cairan kotor supaya tidak menimbulkan kerak ketika mengering, beda fungsi namun saling melengkapi satu sama lain, intinya supaya lantai tersebut benar-benar bersih dari debu dan kotoran lainnya. Begitu juga dengan ilmu IPA dan IPS, beda yang dipelajari, namun saling tumpang tindih saat pengaplikasiannya.

Anak marketing tentu butuh anak design visual untuk bisa merancang advertising yang lahir dari ide kreatif mereka agar terlihat lebih menarik dilihat oleh konsumen, karena anak manajemen mungkin tidak begitu ahli di bidang desain. Begitupun sebaliknya, di berbagai korporasi, tetap harus ada bagian manajemen yang mengatur seluk beluk perusahaan agar berjalan efektif dan efisien sesuai planning awal.

Bagi saya belajar perhitungan arus listrik itu tidak penting, karena memang pada akhirnya saya tidak terjun di bidang itu. Iya, memang tidak ada salahnya kalau kita tahu dan tidak membatasi diri untuk belajar, walaupun itu bukan bidang keilmuan kita. Tetapi kemampuan manusia terbatas, setiap orang punya prioritas, mana yang harus diutamakan terlebih dahulu, tentu wajar jika mereka anak IPS tidak mau memusingkan tentang berbagai perhitungan fisika kimia, karena memang prioritas mereka bukan disitu. Begitupun sebaliknya, anak teknik mungkin bakal geleng-geleng kepala saat belajar tentang Time Value of Money, Investing, Debt, dan lain sebagainya. Bahkan mungkin mereka tidak akan mau tau tentang permasalahan tersebut. Ya sekali lagi, itu karena kita beda prioritas, beda tujuan. Seharusnya jangan sampai kita saling meremehkan satu sama lain. Setiap orang punya kapasitas dan tujuannya sendiri.

Iya, saya uda ngebelok jauh banget dari topik awal, cuma mau ngeluarin unek-unek ketika saya bisa melihat gimana skeptisnya orang-orang diluar sana tentang jurusan IPS. Jujur saya juga pernah berpikir “Anak IPA itu pinter ya, jago matematik, jago ngitung.” Namun, perlahan pemikiran saya terus berubah seiring saya yang mulai tertarik dan melihat bahwa ilmu IPS cenderung lebih aplikatif secara langsung dalam dunia sehari-hari saya. Sehingga sampailah saya di kubu netral seperti sekarang.

Maksud saya seperti saat mempelajari tentang Opportunity Cost di mata pelajaran ekonomi di SMA dulu, akhirnya saya tau, ketika kita dihadapkan diantara beberapa pilihan, kita harus memilih pilihan mana yang value yang akan didapatkan akan lebih tinggi dibandingkan pilihan lainnya. Mungkin ini remeh kalau untuk kasus kecil, tapi untuk masalah pelik dan kompleks, tentu mengambil keputusan yang paling benar itu perlu berpikir matang bahkan perlu melewati berbagai proses hitung-hitungan terlebih dahulu, baru bisa mengambil keputusan yang paling tepat, nah ini membuktikan lagi kalau jurusan IPS tidak hanya belajar teori saja.

Saya juga tidak bermaksud mengatakan kalau ilmu IPA itu tidak aplikatif, tapi mungkin terlalu spesifik untuk bidang keahlian tertentu. Memang ada beberapa yang membuat saya langsung paham aplikasinya ketika saya sudah mempelajari materi tersebut. Misalnya saat saya belajar bab Genetika di SMA dulu, ketika mempelajari mengenai pembahasan buta warna yang merupakan salah satu penyakit genetik, alhasil saya pun mengetahui bahwa ketika ayah saya yang memang mengidap buta warna menikah dengan ibu saya yang bergen normal, maka otomatis saya mewarisi gen pembawa sifat buta warna (carrier) dari ayah saya, sehingga apabila saya menikah dengan seseorang yang mengidap buta warna, maka otomatis salah satu anak saya sudah pasti ada yang buta warna.

Ribet ya, hehe, tapi memang kalau kita benar-benar mau belajar dengan niat yang benar supaya paham mengenai apa yang kita pelajari, bukan hanya untuk mengejar nilai semata, maka banyak sekali ilmu-ilmu yang sebenarnya sangat aplikatif di keseharian kita. Pada intinya yang ingin saya katakan adalah semua ilmu itu penting, semua ilmu itu berguna, tinggal kita mencocokkannya saja dengan prioritas, kepentingan, dan tujuan kita. Maka dari itu, setiap orang akan unggul dibidang keilmuan masing-masing, dan seharusnya ilmu tersebut diaplikasikan sebaik-baiknya agar apa yang dipelajari tidak berakhir sia-sia.

Seperti tujuan awal dibangun SBM itu karena awalnya banyak sekali produk-produk yang dibuat oleh mahasiswa teknik yang bahkan tidak dikomersialkan kepada masyarakat, padahal produk-produk yang dibuat oleh mereka sebenarnya sangat berguna untuk masyarakat jika masyarakat bisa memanfaatkannya, karena memang bisa menjadi problem solver di tengah permasalahan di era sekarang. Maka dari itu dibangunlah SBM supaya produk yang dibuat oleh mahasiswa teknik setelah melewati berbagai penelitian dan percobaan dengan susah payah bisa dikomersilkan dan sampai di tangan masyarakat, masyarakat bisa memanfaatkan fungsi produk tersebut secara optimal. Lahirlah ide-ide kreatif untuk memasarkannya dari para mahasiswa SBM yang memang pembelajaran utamanya mengenai hal tersebut.

Intinya adalah, setiap ilmu itu saling melengkapi, tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk. Mari kita fokus ke hal positif, menggali bidang yang menjadi tujuan kita sedalam-dalamnya agar ilmu yang kita pelajari bisa diaplikasikan ke kehidupan yang bisa membawa manfaat kepada orang lain pada akhirnya. Semoga sharing kali ini bisa membuka sudut pandang kita agar lebih luas dalam memandang sesuatu. Be wise 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.