hidup sang pemikir

Suka Duka Hidup Sang Overthinker

Personal

Seminggu yang lalu merupakan salah satu minggu yang paling membuat saya stress. Salah satu hal yang paling membuat saya ketar ketir sampai sekarang adalah saat saya akhirnya memutuskan untuk berhenti menjalani bisnis dengan beberapa teman saya dalam satu tim. Alasannya? saya tidak nyaman, saya merasa terbebani saat menjalankannya. Sejujurnya sampai saat ini saya sedang membangun bisnis saya sendiri yang memproduksi buku planner yang saya jual secara online di ig : @planme.id. Saya merasa bisnis ini merupakan bidang yang sebenarnya benar-benar saya minati. Saya senang mengorganize, saya senang ketika mendalami fase dimana saya belajar memanage diri saya agar lebih teratur, terplanning, sehingga tidak tergesa-gesa dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Walaupun itu merupakan salah satu permasalahan saya yang paling besar sampai saat ini, procrastinating atau kebiasaan menunda-nunda saya yang sangat parah.

Sejujurnya, saya pernah membaca sebuah kata bijak menarik.

Focus on one thing, make it your priority, and stick with it no matter what

Tapi di sisi lain saya pernah beberapa kali mendengar orang-orang mengatakan

Explorelah kemampuanmu sebanyak-banyaknya selagi masih muda

Ketika mendalami dua quotes bijak tersebut, saya jujur merasa bingung harus berbuat apa. Disatu sisi, quote pertama menyarankan untuk fokus dalam satu hal saja, tapi quote kedua menyarankan untuk explore segala hal selagi masih usia muda, yang bagi saya itu berarti mencoba berbagai hal berbeda sebanyak-banyaknya. Maka dari itu, dulu saya sering sekali menerima tawaran berbagai ajakan, seperti lomba dan join bisnis walaupun terkadang saya tidak berminat sama sekali di bidang tersebut. Ya, karena tadi, saya berpatokan pada quote kedua yang menganjurkan saya untuk mengexplore diri saya selagi masih muda sebanyak-banyaknya.

Namun, belakangan saya semakin stress. Sejujurnya saya tipikal orang yang mudah sekali stress, terbeban, berpikir hal-hal remeh sampai sangat mendalam. Sampai beberapa waktu lalu saya sakit cukup lama sampai beberapa bulan. Saya sering menderita sesak napas, awalnya saya mengira bahwa itu terkait dengan alergi dingin yang saya derita. Namun semakin kesini, saya merasa sesak napas yang saya alami bisa terjadi kapan saja, padahal cuaca sedang tidak dingin. Saya sampai menangis menelepon orang tua dan menyuruh orang tua untuk datang ke Bandung karena saya ketakutan. Bagi yang menderita asma pasti tau bagaimana rasanya saat sesak napas kambuh, sangat tidak nyaman. Saya betul-betul panik, saya seperti merasa napas saya habis dan takut tidak bisa berbapas lagi. Akhirnya orang tua saya menyuruh saya mengecek ke dokter. Keesokan harinya saya ditemani teman saya mengunjungi salah satu dokter spesialis penyakit dalam di RS Borromeous Bandung. Saat diperiksa, beliau mengatakan bahwa saya tidak memiliki gejala asma, karena biasanya orang yang menderita asma, saat menarik napas biasanya akan menimbulkan suara, tapi saya tidak mengalami hal itu. Lalu saya mengatakan kepada dokter bahwa saya sering sakit di dada bagian ulu hati. Dan dari situlah titik terangnya datang, rupanya maag saya kambuh, asam lambung meningkat, gasnya terperangkap di ulu hati yang menyebabkan saya sulit bernapas dan sesak di bagian tersebut. Akhirnya dokter menyarankan saya untuk makan secara teratur dan mengurangi stress serta meresepkan saya beberapa obat.

Setelah beberapa lama, sesak saya sudah mulai mendingan, namun saya heran beberapa kali sesak tersebut tetap kambuh walaupun saya sudah menjaga pola makan. Akhirnya salah satu teman saya mengatakan bahwa stress juga dapat menjadi pemicu kambuhnya maag. Dan memang benar, saya mudah sekali stress akan hal-hal kecil dan memang situasinya saat itu saya sedang tidak nyaman dengan aktivitas saya.

Akhirnya saat itu saya benar-benar mengeliminasi berbagai hal yang membuat saya stress dan belajar mengelola stress dengan lebih baik. Salah satunya dengan fokus ke hal positif dan tidak terlalu memikirkan pemikiran orang lain terhadap saya. Dan sejujurnya sampai sekarang itu masih sulit saya lakukan, saat saya berhenti dari bisnis teman saya, sampai sekarang saya masih merasa worry jika memang bisnis itu berhasil dan pada akhirnya saya menyesal karena membuang-buang kesempatan. Namun, saya mencoba untuk realistis dan mendalami quote awal lagi, fokus ke satu hal saja. Saya memang masih muda, namun saya berpikir, di umur saya yang sekarang, saat setahun lagi saya sudah akan selesai dari kuliah saya, seharusnya saya sudah bisa menentukan akan dibawa kemana karir saya nanti, dan mendalami dua bisnis di awal itu sangat berat, sejujurnya saya sangat ingin mengembangkan bisnis saya pribadi yang sekarang sangat terbengkalai.

Bismillah, akhirnya saya memutuskan untuk berhenti, saya yakin startup yang dibangun teman saya merupakan ide yang out of the box yang sangat berpeluang untuk berkembang jika diseriusi. Tapi minat saya di bidang lain, bukan di bidang yang mereka geluti.

Saya mencoba untuk mendalami minat saya untuk sekarang ini, blogging dan membangun serta mengembangkan bisnis saya, sehingga saat saya lulus kuliah nanti, saya sudah berpenghasilan dan tidak ragu lagi untuk memilih bekerja di kantoran atau berbisnis. Selain itu, saya ingin benar-benar fokus ke kesehatan saya dengan menjaga pola makan, pola pikir, dan lingkungan saya, saya tidak ingin sakit-sakitan lagi, saya ingin tubuh saya kuat, fokus menjalani aktivitas yang membuat saya bahagia.

Tinggal di kota besar memang rentan akan tekanan dari lingkungan. Kompetisi yang menjadi-jadi, lingkungan yang tidak kondusif dan supportif, tak urung menjadi pemicu banyak orang menjadi tidak bahagia dengan hidup mereka, karena terlalu ingin mensejajarkan diri dengan orang lain, achievement oriented bukan process oriented. Ini bahaya, saya merasakan sendiri saat pikiran terlalu menggebu-gebu, otak penuh dengan berbagai pemikiran-pemikiran dan angan-angan untuk menjadi nomor satu, maka saat itulah hati dan pikiran tidak tenang, karena terlalu mengejar kesempurnaan. Maka seimbangkanlah hidup kita, jangan terlalu lamban dan jangan juga terlalu cepat yang menyebabkan kita terlalu dikuasai oleh nafsu untuk mengejar kesempurnaan. Selagi masih muda explorelah diri di bidang yang kita minati, tak perlu mengikuti orang jika memang minat kita dan mereka berbeda. Berkembanglah untuk hal yang kita ingin fokuskan, tutup mata, tutup telinga terhadap hal-hal negatif.

Sejujurnya setiap menulis kata-kata ini, seiring dengan doa-doa yang saya panjatkan untuk diri saya sendiri untuk terus belajar tentang konsep hidup yang sebenarnya. Bukan untuk menggurui, saya sedang menyemangati diri saya dan pembaca sekalian supaya kita sama-sama terus berbenah. Saya tidak sempurna, tolong jangan menghakimi saya, masih banyak pertanyaan-pertanyaan kehidupan yang sampai saat ini sering membuat saya bingung dan sulit mengerti ketika harus mengambil keputusan, dan pada saat itulah saya menggunakan kata hati, karena berpikir pun tidak membawa jalan keluar, mengikuti kata hati memang tidak selalu benar, bahkan terlampau sering apa yang saya putuskan berakhir salah, sedih? pasti, tapi saya sadar, hidup itu memang belajar, saya tidak mengenal istilah berbuat salahlah sebanyak-banyaknya di waktu muda agar saat tua kita tidak berbuat kesalahan lagi, karena kamu umur 20, umur 30, 40 atau 60 tahun pun masalah akan selalu datang, setua apapun seseorang, mereka belum pasti bisa mengerti hidup ini dengan sempurna, saya yakin, sangat yakin malah, karena setiap hari ada saja kejadian-kejadian menarik, sedih, senang, yang membawa hikmah atau sekedar menjadi pengingat setiap saat kepada kita untuk selalu berubah ke arah lebih baik walaupun kita sudah tau teorinya seperti apa. 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.