akun baru instagram

Writing With Passion and Purpose – Story Behind My New Instagram Account

Personal

Hai, apa kabar?

Hari ini hari pertama puasa ya, semoga semangatnya stabil sampai akhir ya, doa kita sama-sama semoga ramadhan ini bisa lebih baik dari ramdhan sebelumnya, penuh berkah dan produktif. 🙂

Bahas tentang produktif, saya jadi ingat beberapa waktu lalu, mungkin sekitar 3 minggu yang lalu, saya memutuskan menghapus akun lama saya di @putrinuzulil, saya buat akun baru dengan akun @putrinuzulilcom. Untuk alasan kenapa saya menghapus akun lama dan membuat akun baru sudah saya ceritakan di beberapa postingan pertama di akun baru saya.

[A New Beginning] . Sebelum akun baru ini saya buat. Saya sudah melewati banyak pertimbangan setelah beberapa lama. . Keinginan terbesar saya untuk mendalami passion saya tentang menulis membuat saya akhirnya memutuskan membuat akun baru ini. . Kenapa tidak di akun lama saja? . Bolehkah saya mengatakan saya tidak begitu percaya diri akan siapa saya yang sekarang? . Bagi saya, lingkungan saya yang dulu tidak terlalu kondusif dalam mendukung saya menjadi content creator seperti ini. . Niat saya yang ingin sharing banyak hal melalui akun pribadi saya, terus tertunda karena saya terlalu overthinking terhadap pendapat orang lain terhadap saya. . Maka saya putuskan pada akhirnya membuat akun baru. . Tidak banyak yang saya follow, hanya beberapa. . Dan harapan saya, yang memfollow akun ini benar2 orang-orang yg sama inginnya berubah menjadi lebih baik bersama saya. . Semoga kita semua dapat berbagi energi positif di akun ini satu sama lain ya. . Salam hangat dari saya. . Putri Nuzulil . #newbeginning #newaccount #consciousliving

A post shared by Putri Nuzulil (@putrinuzulilcom) on

[New Beginning Part 2] . Gak sekali dua kali saya mikir, ini hidup mau dibawa kemana? . Dari kecil, saya anak yang super ambisius dalam banyak hal, mau-nya yang pertama di bidang apapun. . Banyak hal yang melatarbelakangi kenapa bisa jadi gini. Waktu kecil saya tinggal di toko, ayah saya itu jualan di salah satu toko di Aceh, kita belum punya rumah saat itu, lagi on progress. Rupanya disini lah karakter itu kebentuk, saat itu saya belum mikir masalah gini-ginian. Ya namanya juga masih kecil. Trus belakangan ini mikir, "aku kok susah bgt ya sosialisasi sama orang, sekedar say hi ke orang kadang uda takut duluan." . Waktu masih tinggal di toko dulu, kalau uda pulang sekolah (pas masih SD), saya emang mutlak gak tau ngapain, saya bener-bener gak punya temen lain, karena lingkungan disekitar saya ya toko semua, bukan lingkungan yang kids friendly, saya sejujurnya punya adik, sudah almarhumah sekarang, almarhumah punya keterbatasan fisik, beliau gak bisa bicara, pergerakannya pun terbatas, cuma bisa tiduran aja. Mungkin hal ini juga yang membuat interaksi saya terhadap adik terbatas. . Alhasil saya larinya ke buku, saya belajar, pulang ke sekolah, belajar lagi, baca buku ini buku itu, karena saya gak ada pengalihan lain, saya gak punya teman di sekitar lingkungan tempat tinggal saya. Dulu inget banget, saya paling seneng dihadiahin buku sama siapapun, karena memang itu temen saya sehari-hari. Dulu kan belum kenal yang namanya gadget seperti sekarang, gak bisa main sosmed, main game di hp, dll. . Secara sekilas, mungkin kalau orang baca cerita ini mikirnya "ya bagus dong, jadinya kan kamu punya pengalihan ke arah positif, waktu luang digunain untuk belajar." Believe me, saya baru sadaaaar banget sekarang, masa kecil saya itulah yg ngebentuk saya yg sekarang yg susah bgt utk sosialisasi sama org. Saya salah satu anak yg susah utk cari teman, anaknya pendiam, introvert, sukanya menyendiri di kamar, gak suka berinteraksi dengan banyak org. . TO BE CONTINUED.

A post shared by Putri Nuzulil (@putrinuzulilcom) on

[A New Beginning Part 3] . Efeknya kerasa bgt sekarang, dgn lingkungan perkuliahan yg jauh beda dgn di Aceh, saya semakin susah utk beradaptasi. Ya gak separah dulu sih. Tapi kadang jg saya merasa tertekan sendiri ketika saya harus meniatkan diri terlebih dahulu utk menyapa org lain di saat org lain melakukan semua hal ini secara natural, gak kayak saya yg harus wanti2 sama diri sendiri dulu dalam hati, "gak boleh loh put cuek bgt kayak gini, ajak ngomong org kek, nyapa kek, dll." . Hal buruk lain yg saya dapatkan adalah saya semakin merasa bahwa saya sudah di fase sangat jenuh utk belajar. Karena saya merasa otak saya sudah diforsir terlalu banyak sejak kecil. . Dan pada fase inilah saya mulai dapat pencerahan sedikit demi sedikit tentang hidup. . Satu persatu pertanyaan terlintas di otak saya, saya mulai bertanya tentang banyak hal, yang pada akhirnya membuat saya sedikit demi sedikit tertarik mempelajari islam lebih jauh. . Saya mulai sadar bahwa lingkungan pada masa kecil saya itu kurang bersahabat dgn pembentukan mental saya, walaupun saya bisa dibilang tipikal anak yg suka belajar di waktu kecil, tapi kekurangannya adalah saya tidak punya banyak teman, sampai sekarang teman saya terbatas hanya teman lingkungan sekolah atau kampus saja, lebih dari itu bisa dihitung pakai jari, buat orang tua yang mungkin mikir salut sama anak yg suka belajar dari kecil, perlu ditinjau ulang dari sisi lain kehidupan sang anak, dia punya banyak teman kah? Karakter sifatnya bagus kah? Kalau dilihat anaknya pinter tapi di sisi lain dia cuek, gak punya banyak teman, cuma suka diem diri di rumah, seharusnya ini jadi warning bagi orang tua, bukan malah bersikap salut dgn karakter anak yg seperti ini. Saya ngerasa bgt ini berefek sampai sang anak uda gede. . Saya sampai mikir sekarang kalau anak saya nanti harus tinggal di daerah yg lingkungannya memang kids friendly, yg rata2 emg lingkungan berkeluarga, bukan sejenis tempat tinggal di apartemen atau ruko seperti itu. . TO BE CONTINUED

A post shared by Putri Nuzulil (@putrinuzulilcom) on

[A New Beginning Part 5] . Cuma ya itu, saya uda terlanjur seperti ini, gak mungkin kan ngulang jadi anak-anak lagi. Alhasil saya bisa dibilang lebih terlambat dari banyak anak seumuran saya dalam belajar menyikapi hidup dan permasalahan yg datang ke saya. . Saya mungkin agak emosional pada beberapa situasi, itu adalah sebagai wujud respon atas pribadi saya yg belum paham harus menanggapi sesuatu seperti apa dlm kondisi tertentu. . Kadang juga saya banyak diemnya, karena saya lebih banyak mikir dulu, menelaah sebenarnya apa yg sedang terjadi, apa yg salah, apa yg benar, proses diam saya ini sebenarnya proses dimana saya dealing with myself, dimana saya belajar memaafkan diri ketika saya salah dan meminta maaf kepada org lain, atau belajar menerima dan memaafkan kesalahan yg orang lain lakukan terhadap saya. . Saya benar2 blm sempurna, saya cacat karakter di berbagai sisi, saya sering bgt bikin kesalahan yg berujung penyesalan, atau sesederhana saya yg kadang bingung ini yg salah saya atau temen saya atau siapa, maka dari itu, saya pengen sekali membuat jurnal kehidupan itu yg menemani proses saya mempelajari kehidupan dri berbagai sisi. . Seperti yg sdh saya sebutkan sebelumnya, saya hanya punya sedikit teman utk berbagi, maka alternatif yg paling menenangkan bagi saya utk self healing ini adalah dgn menulis, melalui blog atau cerita singkat di sosmed. . Maka karena itu, saya berharap sosmed ini bisa jadi media positif utk saling bertukar pikiran, hehe.. mungkin awal-awalnya ya bakal saya yg cerita lebih banyak, karena kan memang akun baru ini baru saya buat, followersnya masih dikit. Ya saya gak fokus ke followers sih, saya lebih fokus ke engagement antar followers dgn saya aja. . Akun lama saya uda dihapus, jadi semoga akun baru ini bikin saya makin paham hidup ya, dgn sedikit demi sedikit menuliskan pemikiran saya yg amburadur dlm satu tulisan penuh makna, yg pada akhirnya bisa saya tarik kesimpulan baiknya. . Putri Nuzulil, Bandung, 7 Mei 2018

A post shared by Putri Nuzulil (@putrinuzulilcom) on

Singkat cerita, setelah beberapa lama saya punya instagram baru, saya jadi rajin menuangkan cerita dan pemikiran saya dalam satu postingan di feed atau sekedar story. Efeknya rupanya banyak banget, saya jadi gak terlalu overwhelming dengan pendapat orang tentang apa yang saya tulis, saya juga lebih bisa menjadi diri sendiri, saya benar-benar merasa bisa positif 100% dengan akun saya yang sekarang, saat nulis itu rasanya saya bisa benar-benar pakai hati dan sadar banget dengan apa yang sedang saya tulis.

Orang-orang yang saya follow juga sedikit, hanya mereka yang saya anggap bisa memberikan value tertentu pada hidup saya. Sampai saat ini, saya hanya follow satu orang teman saja yang saya kenal dan dia pun mengenal saya, selebihnya followers dan following benar-benar orang baru. Mungkin ini bisa sedikit menggambarkan sebanyak apa akun-akun di instagram lama saya yang tidak banyak memberi pengaruh yang baik kepada diri saya.

Yang saya harapkan, melalui akun ini, saya bisa lebih ekspresif dalam menuangkan pemikiran, karya, atau tulisan-tulisan penuh makna yang mengiringi fase saya dalam mempelajari dan memahami hidup. Saya juga berharap yang memfollow akun ini juga sama-sama yang berniat untuk saling memberikan masukan positif atau cerita-cerita bermakna lainnya.

Selain itu, saya juga pengen belajar fotografi lebih dalam lagi, berhubung saya emang pada dasarnya punya kamera tapi keseringan nganggur di lemari, padahal dulu nabungnya nahan diri banget buat bisa beli.

Di akun baru ini, saya mungkin bakal banyak bahas tentang topik serupa yang ada di blog ini, tapi dengan versi lebih singkat, lebih up to date, dan gak yang terplanning banget kayak nulis di blog.

Oh iya, awal-awal hapus akun lama, saya sempat merasa menyesal, karena saya gak bisa lihat kabar atau up date kegiatan teman-teman saya melalui instagram lagi, tapi semakin kesini, perasaan itu semakin hilang seiring dengan rasa bahagia saya yang bisa menyalurkan hobby saya di bidang menulis dengan lebih spontan, dan semoga bisa bermanfaat untuk orang lain juga. Rasa ingin mebandingi diri sendiri dengan orang lain juga semakin berkurang.

Kalau sekarang tuh, tiap buka instagram rasanya positif banget, otak jadi gak terlalu mikir aneh-aneh terhadap orang lain, karena yang saya follow kebanyakan emang orang-orang yang sama-sama suka sharing berbagai hal sesederhana apapun melalui socmed nya, dan tentunya di bidang yang sama-sama saya suka, minimalist, conscious living, healthy lifestyle, personal thought, religion, passion, dan lain sebagainya, bukan yang berbau pamer, atau unfaedah. Kalau dulu saya anti buka story lama-lama, karena emang isinya gak terfilter sama sekali, sekarang rasanya tiap saya buka story, saya bisa lihat sampai story di instagram saya habis, sangking senengnya baca konten orang sama sangking sedikitnya orang-orang yang saya follow.

Kebayang gak sih, lagi capek dengan berbagai kerjaan trus rehat sejenak sambil buka instagram, lihat konten-konten singkat, sederhana, penuh makna kayak gini rasanya moodbooster banget.

Duh beneran, saya sesenang itu pada akhirnya dengan akun baru ini, ya walaupun followersnya masih dikit, tapi gak masalah, saya gak terlalu fokus kesitu, saya fokusnya ke quality nya aja, saya seneng kalau ada yang mau berbagi dengan saya, ya walaupun keseringan kalau ada yang DM atau email ke saya, saya gak langsung bales, kerena emang saya titipikal orang yang harus nemu dulu apa yang harus dijawab ketimbang jawab langsung asal-asalan yang gak menggugah emosi apapun kepada orang yang bercerita atau bertanya sama saya.

Oke, itu dulu ya cerita kali ini, semoga kita bisa saling bermanfaat satu sama lain ya. 🙂

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *