memahami hidup

My Scattered, Tired, Worn Out Thoughts and Update!

Personal

Tulisan ini dimulai tanpa satupun judul yang terlintas di pikiran saya.

Saya sedang lelah, dan ingin mengeluarkan rasa-rasa yang sedang berkecamuk di dalam hati saya, dan semoga tak perlu menambah aura negatif kepada teman-teman yang membaca tulisan ini.

Seperti tulisan lain yang hampir selalu disertai kesimpulan akhir, penutup bijak, atau point pembelajaran yang bisa diambil, saya tidak yakin tulisan ini akan berakhir dengan plot yang sama.

Saya hanya ingin menulis, menyelami dunia dimana saya sudah vakum terlampau lama. Dan saya kangen perasaan-perasaan damai menulis dengan senang, bercerita dengan kepala jernih dan hati yang bersih dari keresahan.

Saya belum menemukan obatnya, tapi semoga menulis ini bisa menjadi sedikit pereda untuk segala kebutuhan akan menyepi, merenung, melihat, dan istirahat.

Saya kosong dan hampa.

Saya berkali-kali menolak diri mengakui bahwa saya kenapa-kenapa. “Apa sih, jangan lebay!“, kata saya. Tapi nyatanya saya terlampau kesepian di satu sisi dan terlampau ramai di sisi yang lain.

Saat-saat ini, rasanya saya begitu sendirian dalam menghadapi berbagai fase baru yang saya sedang hadapi ini. Saya tidak lagi punya teman untuk saya ketuk kamarnya, saya ganggu kegiatannya, lalu ia akan bertanya, “kenapa?”, dan mengalir segala cerita tanpa sensor tanpa jeda yang hampir selalu berakhir dengan hati yang damai karena didengarkan, walaupun tak selalu ada konklusi yang memuaskan.

Bagian tubuh saya yang lain, sedang ramai-ramainya bekerja untuk mencari tau kesalahan, untuk membandingkan, untuk terus mencari celah kesalahan orang lain, untuk mencari obat dari segala masalah-masalah tersebut. Mereka saling berperang mendahului, jangan sampai yang buruk terlampaui dengan pikiran baik yang terus saya coba pupuk bata per bata agar pikiran-pikiran buruk itu terus tertinggal di belakang.

Saya bingung harus mengambil jeda atau memaksakan diri melanjutkan yang tertunda. Saya ingin seperti orang lain yang begitu bergairahnya menghadapi kehidupan, yang bagi saya mulai menyeramkan ini. Saya jauh dari sandaran utama saya, orang tua, sahabat, dan saya terlampau surut untuk bertukar cerita melalui suara atau chat saja tanpa bercengkerama bertemu fisik ke fisik.

Remeh sekali, tapi saya ingin sekali dikuatkan oleh orang lain, karena terus menerus menguatkan diri di saat jelmaan musuh menghantam satu per satu, sungguh sulit untuk mempertahankan tanpa tumbang langsung di kali pertama melihat serbuan tersebut.

Segala yang saya butuhkan adalah beristirahat, dan itu pun saya sulit menjangkaunya. Terjebak dalam sistem yang sangat tidak mungkin untuk menarik diri untuk saat ini, memperkeruh upaya saya untuk meredupkan diri sejenak dan membangkang aturan untuk terus produktif, lalu beristirahat dengan selimut, teh hangat, buku cerita, dan berdoa agar hari itu langit mendung menumpahkan jutaan liter hujan, mendengar suara alam tanpa senandung musik buatan manusia mengiringi.

Saya rindu senin rasa minggu, selasa rasa sabtu, rabu, kamis, dan jumat dengan semangat hari senin, dan hari-hari saya selama ini diawali dengan semangat, di pertengahan meredup, di akhir malam terkapar di atas tempat tidur tanpa satu dua renungan penutup hari yang berarti. Saya terlampau kalah lebih dahulu dari penatnya pikiran dan lelahnya fisik seharian. Esok hari dengan ritme yang sama, sesekali full energy, sesekali terisi setengah, seperampat, bahkan nol persen sampai saya tidak mau menghadapi hari tersebut.

Saya rindu menjadi putri yang melankolis, yang punya “rasa”, yang punya passion untuk digeluti walau tak menjadi yang utama untuk diprioritaskan sehari-hari, saya kangen suasana bandung, saya rindu rumah, saya rindu bercengkerama dengan diri sendiri lewat tulisan, bacaan, isapan kopi atau teh hangat, dan suasana sendu untuk mengenang.

Saya benar-benar rindu bertemu kembali dengan saya yang lepas dan selalu memberi makna untuk kehidupan saya, selelah dan seberat apapun itu.

Untuk saat ini, saya memilih mengalah dengan hati dan pikiran saya, untuk tidak terus memaksakan diri melanjutkan, tentu saja dengan porsinya sendiri, karena tanggung jawab akan selalu ada, keinginan tidak akan selalu perlu di beri makan, tapi kebutuhan akan selalu menuntut diri untuk terpenuhi, dan saya rasa Tuhan sudah Maha Baik untuk merumuskannya sedemikian rupa untuk memberi jawaban kepada fisik-fisik yang mulai melemah dan pikiran-pikiran yang mulai menguap, akan hadir sebentar lagi hari agung itu, pulang ke kampung halaman sejenak, mengisi dan mengganti rasa-rasa yang bercokol selama ini, dan semoga lebaran nanti kita bisa sepenuhnya menghadirkan diri, hati, dan pikiran secara sadar untuk mereka yang tercinta, menyerap energi baik dari mereka yang saling memberi cinta.

Ah, rupanya ada jawaban penutup dari tulisan ini, Alhamdulillah, terima kasih sudah membaca, semoga kamu punya cara tersendiri untuk memahami dan menikmati hidupmu beriringan dengan dirimu sendiri setelah ini. Ramadhan sudah akan berakhir, untuk satu ini, memaksakan diri untuk beribadah sebaik-baiknya memang adalah keharusan,yang lain mungkin bukan dulu prioritas, nanti kita susun lagi setelah beristirahat dan mengisi jiwa kembali.

4 thoughts on “My Scattered, Tired, Worn Out Thoughts and Update!”

  1. Peeen, my heart is scattered too when reading this, tenaang en, itu semua karna kita sedang dalam proses menuju keseimbangan, gapapa kalau sekarang belum tau jawabannya karna semua ada saatnya, ketika satu per satu jawaban yg peen cari akhirnya diungkap semesta. Yg terpenting, terus jalan dan selesaikan apa yg harus kita selesaikan. Hoping to see you, soon. Cheers!

    NB: if you need to talk, I am only a line away 🙂

    1. Iya meeeelllll, emang ambil jeda untuk pikiran, hati, bahkan fisik bikin recharge kali ya, rasanya ngikutin flow orang lain emang bakal kesendat, karena batu-batunya emang letaknya beda-beda, gak bisa dipaksain diterima dengan energi yang sama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.