My Relationship with Money

Topik tentang keuangan adalah salah satu yang saya minati untuk dipelajari sejak dulu, bahkan saat saya masih SMP. Praktisnya, saya mulai berminat untuk mengelola keuangan saat saya meminta Ayah saya untuk memberikan uang saku secara mingguan alih-alih harian ketika masih SMP dulu.

Walaupun keinginan itu tidak terkabul pada masanya, namun secara tidak langsung praktek mengelola keuangan ini akhirnya saya rasakan langsung semasa kuliah merantau di Bandung, karena otomatis orang tua saya menjatahkan uang bulanan kepada saya dengan alasan kepraktisan. Pada masa kuliah inilah rasanya saya semakin tertarik untuk mempelajari pengelolaan uang yang baik, bahkan minat itu tak surut sama sekali sampai saya sudah berpenghasilan sendiri seperti sekarang.

Namun, selama perjalanan membenahi cara berpikir dan bertindak terhadap uang ini, bukannya saya tak memiliki hambatan sama sekali, bahkan saya banyak sekali menempatkan cara berpikir yang salah tentang hakikat harta, materi, uang, dan hal-hal yang berkaitan dengannya.

Ada perasaan khawatir berlebih dalam diri saya tentang masa depan yang erat hubungannya dengan aspek finansial ini.

Saya sedikit malu mengakuinya. Tapi kesadaran diri bahwa saya tidak memiliki hubungan yang baik dengan keuangan semakin diperkuat dengan kasus Jouska yang terkuak beberapa waktu ini. Saya tidak ingin banyak membahas tentang salah satu perusahaan konsultan keuangan pribadi ini, bahkan saya tidak ingin memperdebatkan apakah isu yang merebak belakangan ini benar atau tidak.

Namun, saya amat paham bahwa saya mengambil perspektif yang sangat negatif di balik berbagai konten-konten keuangan yang diberikan oleh mereka, walaupun sebenarnya mungkin banyak yang positifnya, namun tanpa saya sadari saya mengintepretasikan konten-konten keuangan di luar sana dengan cara yang buruk, yang membuat saya melihat uang begitu duniawi sekali.

Semejak itu, saya mulai menanamkan pemahaman diri untuk tidak mentah-mentah menerima dan membenarkan informasi, alih-alih menyaringnya dulu, menyamakannya dengan apa yang diajarkan oleh agama sebagai dasar kehidupan saya, apakah align atau tidak, serta memperhatikan betul-betul apakah saya mampu atau tidak untuk mempraktikannya.

Saya terlalu banyak memikirkan masa depan sehingga saya tidak begitu menikmati apa yang saya jalani sekarang. Saya memiliki mindset dari dulu, saya harus punya tabungan yang cukup agar saya bisa ‘aman’ di masa depan, atau entah itu tujuan finansial yang saya tetapkan maknanya baik sekalipun, seperti bisa membeli rumah tanpa KPR. Tapi saya terlalu banyak mengorbankan masa kini dengan alih saya bisa sejahtera suatu hari nanti, kata cukup yang saya maknai rupanya jauh dari makna sebenarnya.

Setelah dijalani, saya pun mengakui bahwa sampai kapanpun, entah saya sudah berpenghasilan setinggi apapun, saya akan tetap memiliki hubungan tak baik dengan uang, karena di mata saya, uang yang saya miliki sekarang adalah milik masa depan saya, bukan untuk hari ini. Pada praktiknya, saya seperti ‘menimbun’ harta dan harus sesedikit mungkin dikeluarkan, untuk hal apapun, lalu memperbesar untuk tabungan.

Saya memang cukup berhemat dalam banyak hal selama ini. Sering pula saya membanding-bandingkan diri saya dengan sejawat saya yang hidup tanpa pengeluaran rutin untuk kos, konsumsi rumah tangga bulanan dan harian karena bisa nebeng orang tua, serta kebutuhan/keinginan untuk mudik beberapa kali setahun.

Perasaan tidak puas karena tidak bisa menikmati hasil kerja keras sendiri, perasaan iri-iri kecil kepada orang lain yang muncul tanpa saya sadari, hingga perasaan tak nyaman setiap kali mengeluarkan uang, membuat saya akhirnya semakin sadar bahwa pasti ada yang salah dengan cara berpikir saya tentang uang sejauh ini.

Saya pun berbenah dan mencari tau lebih banyak, saya tetap rutin membaca konten ataupun artikel-artikel seperti dari The Financial Diet dan mendengarkan banyak podcast tentang keuangan pribadi, saya pun mulai bisa menyaring dan membentuk cara berpikir yang lebih baik tentang uang.

Saya mengupayakan untuk menyelaraskannya dengan perintah agama, tentu saja Islam mengatur pula tentang pengelolaan uang pribadi. Sampai pada kesimpulan bahwa setidaknya dengan materi yang dititipkan kepada saya saat ini, saya memang butuh untuk memporsikannya untuk masa sekarang dan masa depan. Kilas balik ke masa dulu, rasanya saya terlalu banyak menempatkan diri di lingkaran masa depan dibandingkan menikmati apa yang saya hasilkan untuk hari ini.

Dan pula, saya semakin sadar bahwa saya harus benar-benar melepaskan rasa berat hati atau bertanya berlebihan pada diri untuk mengeluarkan uang untuk kebaikan, terkhusus yang diajarkan oleh agama, dimulai dari sedekah, infaq, zakat, qurban, bantu orang tua, tabungan haji, dll. Tentunya ada porsi dari apa yang saya miliki sekarang untuk hal-hal ini.

Saya memang sempat membatasi diri untuk hal-hal tersebut karena meyakini diri bahwa saya belum pantas untuk memikirkan hal-hal tersebut. Memang saya sudah memiliki budget sendiri setiap bulan untuk infaq, namun selebihnya terkait qurban, bahkan tabungan untuk haji saya benar-benar tak memprioritaskannya karena merasa itu masih ‘jauh’ dari saya.

Kesempatan untuk berqurban di idul adha bulan lalu membuka mata saya bahwa saya memiliki tabungan namun tak sedikitpun terpikirkan untuk membuat budget khusus untuk pengeluaran agama seperti ini. Saya memiliki tabungan namun mengapa tak terpikirkan untuk menyisihkan setiap bulannya untuk pengeluaran-pengeluaran tersebut, jika itu berjumlah kecil sekalipun, tapi setidaknaya saya mengusahakannya. Sedih sekali jika memikirkan dahulu saya takut tabungan saya terkuras untuk pengeluaran-pengeluaran seperti ini, saya benar-benar sadar bahwa saya tak memprioritaskannya sama sekali. Saya benar-benar telah sangat duniawi dalam melihat keuangan.

Hingga kesadaran itu muncul, saya pun mulai berbenah dan memperbaiki hubungan saya dengan uang, saya mulai menikmati apa yang saya hasilkan untuk diri saya sendiri setiap harinya, tak terlalu membatasi diri namun tetap dengan kontrol yang baik, saya juga tak berlebih-lebihan dalam menyisihkan untuk masa depan, saya mulai lebih banyak menyisihkan untuk pengeluaran sosial dan agama.

Saya senang akhirnya perasaan-perasaan tak nyaman yang kerap kali datang ketika saya mengeluarkan uang mulai hilang. Saya menikmatinya sekaligus memiliki kontrol yang manusiawi terhadap keuangan saya dengan harapan tak berlebih-berlebihan untuk hari ini dan pula tak berlebih-lebihan untuk masa depan, semua ada porsinya sendiri, terus diusahakan, disyukuri, dan dinikmati.

Perasaan tak nyaman melihat orang lain pun jauh berkurang jika dibandingkan dulu, saya tak lagi membanding-bandingkan keuangan saya dengan orang lain, walaupun tabungan saya hanya sedikit sekalipun, tapi jika menyadari saya memanfaatkannya dengan baik dan berkesadaran, saya pun bisa menikmatinya dengan cara yang berbeda.

Dengan cara berpikir seperti ini, entah saya ada di tahap finanasial apapun nantinya di kehidupan, saya berharap akan tetap memiliki hubungan yang baik dengan keuangan, saya menyadari itu titipan Allah yang harus diupayakan dan dimanfaatkan dengan baik, selalu ada porsi-porsinya sendiri, tak berlebihan, disyukuri, dan terus merasa cukup dengan apapun itu

Bahkan keinginan untuk naik ke tahap berikutnya dalam pekerjaan pun mulai bergeser dari yang dulunya untuk mendapatkan gaji yang lebih tinggi, secara tidak langsung tergantikan, saya benar-benar melihatnya sebagai kesempatan yang bisa didapatkan jika saya mampu secara intelektual dalam pekerjaan saya. Dengan itu saya mulai lebih baik dalam bekerja, tak berat hati jika pun saya masih jauh dari dipromosikan sekalipun, karena saya percaya bahwa kapabilitas tak akan menipu, saya percaya dengan atasan saya di kantor, terlebih saya percaya Allah akan terus mencukupkan rezeki saya sampai kapan pun.

Hubungan yang lebih baik dengan uang rupanya memberikan dampai baik dalam banyak hal, saya tak khawatir lagi jika budget saya minus jika memang saya mindful dan sadar betul ketika mengeluarkannya, saya membelanjakannya dengan baik, saya hidup dengan baik dengan uang tersebut, membeli makanan-makanan sehat, menghadiahi teman, orang tua dan adik, membeli jajanan bapak-bapak tua di pinggir jalan saat pulang kantor, memberi tip untuk driver ojol, berlibur dengan teman, mudik tanpa rasa berat hati karena telah mengeluarkan uang cukup banyak untuk itu, membeli pakaian yang saya sukai, membeli buku yang saya senangi, mengikuti workshop yang sesuai dengan hobby dan minat saya, saya benar-benar senang akhirnya bisa mengerti dengan lebih baik bagaimana seharusnya saya memanfaatkannya.

Karena jika suatu saat harta saya hilang sekalipun, dengan berbagai tabungan yang telah saya usahakan sebelumnya, saya sadar betul, di hari-hari sebelumnya saya benar-benar menikmati dan memanfaatkannya dengan baik, setidaknya saya tidak merana sepanjang hidup karena tak sempat menikmati ‘rezeki’ itu dari awal sampai akhir. Memanfaatkannya dengan baik berarti menikmatinya dengan baik, bahkan membelanjakannya untuk hal-hal sosial bisa memberikan kenikmatan tersendiri, jauh sekali nikmatnya dibandingkan rasa khawatir berlebih pada hal yang belum tentu milik saya atau terjadi sekalipun.

Related Post

One Reply to “My Relationship with Money”

  1. Hai, Putri! Saya lagi nih yang komen. Gapapa ya. Hihi
    Beberapa waktu lalu, saya juga ngerasa lumayan worry tentang gimana ya di masa depan nanti, apalagi kalau misalkan udah ngga sendiri. Bisa ga ya ngatur keuangan dan sebagainya. Kebalikan dari Putri, saya malah susah saving, seringnya ‘bocor alus’ entah di jajan makanan atau beli perintilan yang sebenarnya mungkin ngga butuh” banget. Kasih tau dong tipsnya supaya mindful dan bisa ngatur finansial. Apa masih sama seperti tulisan kamu 3 tahun yang lalu? Makasih ya..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.