kerja dari rumah, mompreneur

The True Purpose in My life

Personal

Saya pernah bercerita dalam salah satu post saya sebelumnya mengenai pengalaman saya salah jurusan di kampus saya yang dulu, sebelum akhirnya saya memantapkan hati pindah ke SBM ITB tahun lalu di saat saya sudah berada di tahun kedua di jurusan sebelumnya, dan tentunya saya harus mengulang kuliah saya kembali dari awal ketika saya pindah ke SBM sekarang. Menyesal? Tidak sama sekali. Saya begitu bersyukur dengan berbagai proses yang saya jalani selama ini dalam mencapai impian saya untuk kuliah di ITB, ada begitu banyak pembelajaran yang saya dapatkan yang sangat mengubah karakter saya saat ini. Saya salah satu orang yang sangat menghargai proses dibandingkan dengan hasil. Mungkin kesannya klise bukan? Saya pun pernah berpikir seperti itu dulu. Saya pernah bertanya-tanya seberapa penting arti sebuah proses di saat orang lain hanya melihat hasil yang kita peroleh saja, orang tidak akan bersusah payah mencari tau apa yang kita lakukan untuk mencapai keinginan kita, yang orang tau hanyalah apa yang terlihat, yaitu pencapaian itu sendiri.

Dari penjelasan saya di atas, tentu Anda bisa merasakan sendiri, betapa saya yang dulu terlalu mementingkan bagaimana pendapat orang lain terhadap diri saya. Saya menentukan pilihan saya atas dasar apakah orang-orang akan menerima saya atau tidak dengan kondisi saya saat itu, begitu banyak pertimbangan lain yang membuat saya sering ragu untuk menentukan pilihan pindah jurusan atau tidak saat itu.

Bagaimana pendapat orang-orang kalau saya pindah kampus padahal saya sudah semester empat di jurusan sebelumnya?

Pertanyaan tersebut menjadi sebuah kekhawatiran tersendiri bagi saya yang dulunya terkenal sangat plin plan ketika masih berstasus siswa SMA. Jika anda pernah membaca post saya yang ini, Anda pasti tau seberapa banyak jurusan-jurusan yang pernah mangkir di otak saya saat itu. Dari kedokteran, teknik sipil, teknik pertambangan, arsitektur, planologi, hingga teknik industri, sempat menjadi beberapa pilihan saya ketika menentukan jenjang pendidikan saya setelah SMA. Itulah yang membuat teman-teman SMA saya menjuluki saya sebagai orang yang sangat plin plan, mudah berubah pikiran, dan tidak berpikir matang. Saya memang tidak menyangkalnya, malah saya membenarkan. Tapi yang sangat saya sayangkan dan sering membuat saya sedih adalah ketika mereka melihat itu mutlak sebagai kekurangan saya, mereka langsung menghakimi saya tanpa tahu penyebab saya bisa menjadi begitu labil saat itu. Mungkin mereka bisa dengan mudahnya menentukan pilihan hidup mereka di masa depan, tapi berbeda dengan saya, saya pribadi paham betul bagaimana posisi saya saat itu yang belum mengetahui dengan pasti tujuan utama hidup saya kedepan yang susungguhnya sangat berpengaruh dengan keputusan yang saya ambil saat itu dan tentunya sekarang setelah saya tahu arti kebahagiaan bagi diri saya pribadi.

rehat sejenak
www.unsplash.com

Hingga akhirnya, saya pun memantapkan hati untuk pindah kampus dengan jurusan yang sesuai dengan impian saya ke depan, manajemen. Kalau ditanya sekarang, apa mimpi saya kedepannya? Saya ingin menjadi seorang work at home mom, dan insya Allah tidak akan berubah sampai kapan pun. Mungkin terdengar remeh ketika seorang lulusan ITB, namun memiliki cita-cita bekerja di rumah saja.  Tentu saya memiliki pertimbangan sendiri mengapa saya ingin sekali menjadi seorang ibu seutuhnya di saat orang-orang berlomba-lomba bermimpi menjadi seorang karyawan di perusahaan besar. Pada dasarnya saya adalah anak rumahan, sederhana, dan pemikir konservatif mungkin bagi sebagian orang. Saya salah satu orang yang mempercayai bahwa tugas utama seorang wanita adalah mengurus suami dan anaknya di rumah. Namun memang saya bukan tipikal orang yang menutup kemungkinan seorang perempuan untuk bekerja, tidak sama sekali. Disamping itu, saya tetap sosok gadis mandiri yang berusaha semaksimal mungkin untuk tidak terlalu bergantung dengan orang lain, mungkin ini berkaitan dengan status saya dalam keluarga sebagai anak sulung. Maka dari itu, saya ingin membangun usaha/bisnis saya sendiri yang bisa saya kontrol dimanapun dan kapanpun dengan mudah, tidak terikat oleh siapapun.

Pertimbangan menjadi pengusaha ini saya peroleh ketika saya belajar untuk mengenal kelebihan dan kekurangan saya seiring dengan saya yang ingin menjadi lebih baik lagi kedepannya. Saya bukan orang yang terjadwal, saya tidak menyukai rutinitas yang sudah ditetapkan sebelumnya, a freedom thinker, mungkin begitulah gambaran saya secara umum. Ketika saya mengaitkannya dengan tujuan hidup saya untuk menjadi ibu dan istri seutuhnya di keluarga, maka salah satu pilihannya adalah dengan menjadi seorang pebisnis. Memang sangat benar pernyataan bahwa,

Sebelum menentukan tujuan hidupmu, belajarlah untuk mengenal dirimu lebih baik agar kamu tahu bagaimana versi kebahagiaan menurut dirimu sendiri. Maka dari itu saya belajar untuk tidak menghakimi pilihan hidup orang lain, karena makna kebahagiaan setiap orang berbeda-beda yang tentunya ditentukan oleh tujuan hidup mereka dan mempengaruhi keputusan yang mereka ambil saat itu.

Sekali lagi, impian terbesar saya adalah menjadi sosok ibu yang mampu mendidik anak-anaknya menjadi sosok anak terbaik versi saya dan agama tentunya. Saya ingin bekerja, namun di satu sisi saya ingin seutuhnya menjadi ibu bagi anak dan istri bagi suami, saya selalu ada di sisi mereka, bukankah itu yang menjadi ladang pahala sesungguhnya bagi seorang wanita? Maka dari itu, saya tidak akan ragu untuk mengatakan sekarang bahwa saya ingin menjadi a work at home mom suatu saat nanti, menjadi ibu dan istri yang bijaksana sekaligus bisa diandalkan dan menjadi seorang pengusaha yang memiliki kebebasan dalam bertindak dan berpikir.

4 thoughts on “The True Purpose in My life”

  1. Ka Putri kita punya tujuan yg sama dan pemikiran yg sama bgttttt. Bersyukur banget bisa nemu blog ka Putri. Tahun depan insyaAllah aku juga mau ngambil sbm, sukses ya ka! semoga kita bisa ketemu nanti:)

  2. Inspiring post. Hopefully, you will reach your version of happiness ya En, Aamiin. Love banget dengan pernyataan “saya belajar untuk tidak menghakimi pilihan hidup orang lain”. It’s true indeed. Jadi reminder buat diri sendiri untuk selalu berusaha memahami alasan dibalik keputusan seseorang 🙂

    1. wkwkwkwk… kayaknya kita uda sering bahas itu yaaa.. kalau kita uda sering berhadapan dgn situasi yang sama, tentu tau rasanya gimana mel 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.