gaya hidup minimalist

#1 Live with Your Values – Changing Over to a Minimalist Life

Decluttering & Organizing Home & Living Personal

Suatu hari saya berpikir..

Di tengah berbagai kebimbingan yang saya rasakan..

Di tengah orang-orang, media, lingkungan, pemikiran, dan perilaku yang saling tumpang tindih menarik bahkan menuntut perhatian..

Bagaimana seharusnya cara saya dalam menyikapi semua perbedaan ini? semua informasi ini? semua sumber yang bahkan saya tidak pernah tau benar atau tidaknya. Bagaimana saya harus menjalani hidup? Bagaimana cara saya menyikapi semua bombardir ini? Bagaimana cara saya tetap pada jalan yang benar?

Saya sungguh tidak tau..

Berbagai video saya tonton, dari documentary, vlog, dan berbagai inspirational video lainnya.

Berbagai buku pun saya baca, menggali terus ketertarikan saya dalam dunia kesehatan, pengembangan diri, dan gaya hidup. Kadang saya bingung, kadang saya bimbang, si ini berbicara ini, si itu berbicara itu, mana sebenarnya yang betul?

Rupanya ketika saya menggali kembali ilmu agama saya yang masih sangat tertinggal jauh, saya semakin tau apa yang seharusnya menjadi landasan dalam hidup saya. Tentunya yang paling pertama adalah menggali terus menerus apa yang Islam perintahkan kepada saya, menerimanya, dan mempraktekkannya secara menyeluruh dalam hidup saya yang bisa dibilang belum menemukan arah ini.

Paling tidaknya, inilah yang ingin sekali saya terapkan dalam hidup.

Minimalist Lifestyle

Apakah trend harus selalu diikuti?

Saya selalu merasa minder dengan mereka yang lifestyle terasa sangat jauh dari saya. Hari ini sepatu ini, besok sepatu itu, besoknya lagi sandal ini, minggu depan flat shoes ini, bulan depan ganti lagi.

Sedangkan saya, bahkan sepatu saya hampir selalu sama sepanjang tahun, hanya berganti sekali dua kali, itupun kalau sepatu saya yang satu kotor, lantas saya memakai sepatu yang lain, nantinya ketika sepatu favorit saya tersebut sudah dicuci, saya memakainya lagi, siklus tersebut saya ulangi terus menerus sampai sepatu saya rusak dan harus diganti.

Tapi tak pernah lebih dari dua tiga pasang.

Sebelum saya mengenal gaya hidup minimalis ini, saya benar-benar dalam kondisi minder dan down. Pada saat itu perekonomian keluarga saya sedang jatuh-jatuhnya, saya dituntut untuk menekan pengeluaran saya seminimal mungkin, bahkan pada masanya dulu, ayah saya pernah berkata, “kak, kalau bisa pake pulsanya ditahan-tahan ya, kalau bisa sms aja, jangan telpon.”

Lifestyle saya berubah drastis, dari yang dulunya saya mampu beli baju baru dua-tiga kali dalam seminggu hingga sekarang saya hanya bisa mengusahakan beli baju baru saat lebaran saja.

minimalist indonesia
www.unsplash.com

Dulu saya tidak berpikir bahwa ini adalah cara hidup yang seharusnya, dulu saya berpikir bahwa hidup saya saat itu benar-benar menyedihkan, teman saya mampu beli hp blackberry (pada masanya), saya hanya mampu dibelikan hp tenot-tenot yang cuma bisa untuk telpon, sms, dan radio. Lama kelamaan saya semakin mencari tau bagaimana cara saya harus survive dengan perubahan hidup saya yang baru ini. Saya betul-betul di posisi minder dengan teman-teman saya yang lain bahkan sampai sekarang.

Dari proses pencarian tersebut, browsing, baca buku, nonton youtube, saya semakin bisa mengarahkan gaya hidup saya menjadi lebih mindful, ke arah minimalis. Saya sudah pernah membahas tentang ini di postingan saya yang Menuju Gaya Hidup Minimalist. Yang saya rasakan saat ini, saat mulai membenahi hidup saya, saya semakin merasa nyaman, saya hanya punya beberapa barang, tapi saya merasa cukup dengan itu semua. Ketika saya ingin membeli sesuatu, saya selalu menanyakan kepada diri saya :

  • Beneran butuh ini gak ya?

Nantinya ini akan mengarah kepada pertanyaan lain seperti “aku uda punya barang yang mirip-mirip kayak gini gak ya?”, saya selalu memastikan ukurannya akan pas dengan saya atau tidak, mengikuti style saya atau gak, “Ah udah lah gak usah maksain ikut trend”, karena pemikiran seperti ini adalah hampir semua barang-barang yang saya miliki adalah barang-barang basic. Kerudung dan baju saya jarang yang bermotif, walaupun sepatu wakai sekarang sudah mulai tertinggal dan digantikan trend baru, namun saya tetap membeli dan memakainya, kenapa? karena saya nyaman dan suka dengan sepatu tersebut. Untuk barang-barang tertentu, saya prefer beli offline daripada online, kalaupun harus online saya selalu memastikan webstore atau online shop yang produknya ingin saya beli itu bener-bener nyediain spesifikasi barang secara detail, makanya saya anti banget sama online shop yang foto barangnya masih kabur gak jelas, saya prefer beli barang di web atau online shop yang uda terpercaya eksistensinya, walaupun mahal saya ngerasa gak papa, daripada salah beli.

  • Beneran suka gak nih sama ini barang?

Ini sesuai dengan referensi dari buku marie kondo yang saya baca sebelumnya. Segala sesuatu yang saya beli harus punya nilai dan membangkitkan rasa senang bagi saya. Makanya walaupun ada alternatif barang yang lebih murah, saya tetep prefer beli yang harganya agak mahal kalau barang tersebut bener-bener bikin saya seneng, karena menurut saya rasa suka pada sesuatu itu bikin kita pengen jauh lebih lama nge-keep hal tersebut dalam hidup kita, jadi gak mudah bosen lantas beli baru lagi.

  • Kualitasnya beneran bagus gak? longlasting gak?

Saya bener-bener yang memastikan banget barang yang saya punya itu kualitasnya bagus, saya cuma punya barang sedikit, tapi kualitasnya hampir bisa dipastikan bagus semua, saya yang emang gak papa banget beli payung harganya bisa 150 rb-200 rb asalkan itu bisa bertahan lama, saya juga yang gak papa banget beli wadah makan yang harganya ratusan ribu asalkan itu bisa bertahan lama, saya perefer quality > quantity. Tapi saya gak juga yang nge-claim kalau produk bagus itu selalu mahal ya, tapi mostly selama ini menurut pengalaman saya emang harga menjamin kualitas terkadang. 🙂

Karena berbagai pertimbang tersebut, saya bener-bener yang punya barang dikit banget, kalau ada duit saya lebih mentingin dialihin ke beli buku, join workshop berbayar, pergi ke suatu tempat baru, beli taneman, dan hal-hal bermanfaat lainnya yang memperkaya experiences dalam diri saya.

Spend money on Experiences, Not Stuffs

Namun, dari semua hal yang saya jelaskan diatas, bukan berarti segala hal harus dimiliki dalam jumlah sedikit.

Minimalist is not about letting go of everything. It is about letting go of things that bring you stress and no longer serves you.

Kalau saya emang butuh dua tas backpack untuk menunjang aktivitas kita, ya gak papa, yang penting itu bener-bener saya butuh dan saya suka. Sebaliknya, kalau saya cuma butuh satu moisturizer untuk produk skin care saya, kenapa harus beli dua? Sayang kan kalau expired duluan.

Dan begitu seterusnya.

Highlight!

Zaman sekarang, consumerism emang sedang gila-gilanya dan prediksi saya bakal terus gila-gilaan, makanya saya pribadi harus bijak banget menyikapinya, kalau gak, duit orang tua bisa habis gak tau kemana (saya mahasiswa yang masih tanggungan orang tua), perilaku menahan diri ini harus dibiasain dari sekarang, kalau gak bisa berabe sih kalau sampai masih jadi habits saat sudah berkeluarga nanti, insya Allah. Sebelum saya beli sesuatu, saya sering kasih jeda pada diri saya, setiap ada ketertarikan dengan suatu barang, saya akan berpikir dua bahkan tiga kali bahkan lebih, saya akan berpikir tiga hal yang saya sebutkan sebelumnya, dari sini saya mulai mengenal nafsu saya, dan terus berusaha mengendalikannya, serta berteman dengannya.

Sering kali ketika saya pada akhirnya gak jadi beli barang tersebut, saya merasa overwhelming sendiri, tapi sering juga hal ini berlangsung satu dua minggu saja, kebiasaannya perasaan tersebut akan hilang, namun jika saya masih mengingatnya dan memang saya menyadari barang tersebut bener-bener saya butuhkan dan suka, maka saya cenderung akan membelinya. Kalau barangnya uda sold out gimana dong? hey, tenang, zaman sekarang semua serba cepat, selalu ada pengganti untuk hal-hal baru, bahkan sangat mungkin kita akan menemukan produk pengganti yang lebih bagus dari sebelumnya. Jadi jangan panik! (nasehat diri) 🙂

Tulisan mengenail live with your values ini mungkin akan makan dua atau tiga post ya karena saya baru sadar baru nulis tentang minimalist ini aja uda makan 1100 kata (kalau uda passionate sama sesuatu emang susah banget di rem ya 😀 ), biar gak kepanjangan, saya pisah-pisahin aja ya. Terakhir, terima kasih sudah membaca tulisan saya ya, yang saya gak tau berguna apa gak sebenarnya untuk dishare, tapi kadang ketika menulis itu bentuk dari terapi diri untuk menstrukturkan kembali pemikiran-pemikiran saya sebelumnya yang masih berantakan. Jadi apapun itu, saya akan tetep nulis. hehe 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.