mencari motivasi

Things to Remember When Our Motivation is at ZERO

Personal

Bukan hal yang jarang ditemui ketika saya tiba-tiba dihinggapi rasa bosan, muak dengan segala perkerjaan, tidak termotivasi, hingga akhirnya sepanjang hari saya tidak menghasilkan apa-apa. Akan ada hari dimana saya hanya ingin menonton film, menonton TV, bermain game, atau membaca novel kesukaan saya, tanpa ingin menyentuh sedikitpun tugas-tugas yang menanti untuk dikerjakan.

Alhasil terkadang saya merasa cemas dan was-was karena berbagai deadline yang belum dikerjakan, intinya sama saja, saya melakukan hal lain di luar pekerjaan saya namun tetap saja saya masih kurang menikmatinya karena dihinggapi rasa takut karena tugas-tugas yang belum tersentuh sama sekali, itu terkadang menjadi beban tersendiri bagi saya karena belum menyelesaikan tanggung jawab saya dengan baik berikut berbagai konsekuensi yang harus saya terima jika tugas tersebut tidak diselesaikan.

Namun belakangan ini saya mulai sadar, setelah membaca berbagai artikel atau opini tentang bagaimana orang-orang cenderung mengendalikan moodnya, saya tersadarkan oleh fakta bahwa

It is literally not possible to be 100% motivated, productive, and excited to work 5 or even 6 or 7 days a week 52 weeks each year.

Manusia adalah makhluk yang terbatas dari segi apapun, kemampuan, pikiran, atau bahkan menyangkut dengan mood atau perasaan. Itu hanya akan menjadi mimpi ketika kita beranda-andai untuk melakukan segala sesuatu dengan baik dan terstruktur tanpa ada hambatan sedikitpun. Akan ada dimana kita tidak pernah ingin melihat berbagai planning  yang sudah tersusun dengan rapi di agenda, mematikan notifikasi handphone dan email, atau bahkan hanya ingin tidur di atas tempat tidur tanpa ada yang mengganggu.

buku planner
www.unsplash.com

Kabar baiknya adalah itu hal yang sangat wajar, karena pada dasarnya fungsi dasar sebuah planning adalah sebagai guide saja untuk mengetahui pekerjaan apa saja yang harus diselesaikan berikut waktunya untuk mencapai tujuan kita. Jika memang pekerjaan tersebut tidak terselesaikan, dari planning-planning yang kita buat kita bisa mengatur kembali kapan akan mengerjakan pekerjaan tersebut di waktu yang memungkinkan di hari berikutnya tanpa merusak tujuan awal kita, misalnya ketika saya telah membuat weekly planner saya selama seminggu, namun ternyata salah satu pekerjaan saya di hari senin belum terselesaikan dan deadline nya adalah hari sabtu, saya melihat di hari rabu jadwal saya tidak terlalu padat, jadi saya bisa menyelesaikan tugas tersebut di hari rabu. Planner hanya sebagai guidelines saja untuk mengatur pekerjaan kita agar lebih terorganisasi dengan baik, sehingga kita tidak mudah panik dan dikejar deadline, kita tidak dituntut 100% untuk menyelesaikannya.

Namun bagaimana jika pekerjaan yang menanti kita adalah pekerjaan pribadi yang tidak bisa didelegasikan ke anggota tim yang lain atau bahkan berbagai pekerjaan yang sangat menuntut kekreativan kita sehingga kita dituntut untuk berpikir keras? Bagaimana jika memang kita adalah inti dari pekerjaan-pekerjaan tersebut dimana orang lain menanti pekerjaan kita untuk segera diselesaikan? Tentu ini menjadi masalah baru pada akhirnya.

Bahkan memang hampir 95% pekerjaan yang kita geluti adalah pekerjaan yang menuntut kekreatifan, tak jarang inilah yang memicu orang-orang mudah lelah, bosan, dan penat pada waktunya. Saya pribadi sangat sering berada di posisi seperti ini, hingga akhirnya saya lebih sering stress ketimbang merasa termotivasi. Bahkan jika saya paksakan pun, pada akhirnya kekreatifan itu tidak muncul hingga ujung-ujungnya saya tidak menyelesaikan apapun, dan lagi setelah itu saya berpikir “mending aku nonton film aja daritadi kalo ujung-ujungnya gak ada yang bisa dikelarin”.

Apakah Anda pernah merasakan hal yang sama?

Saya yakin iya, karena itu adalah fitrah manusia. Belajarlah untuk menerima bahwa kita tidak sempurna, kita hanya bisa berencana, namun bukan berarti semuanya harus berjalan dengan lancar sesuai yang diharapkan, karena manusia memiliki pikiran dan perasaan yang perlu diistirahatkan sebentar ketika penat yang menjadi sumber motivasi kita untuk mengerjakan sesuatu. Learn to be OK with that guys.

Lalu bagaimana cara menyelesaikan masalah ini?

Treat Yourself When you are being Unmotivated

Lakukan segala sesuatu yang membuatmu bahagia dan tidak terbebani. Melakukan hobimu adalah pilihan yang bagus untuk menghilangkan kejenuhan atau mungkin berkumpul dengan teman, tertawa bersama sehingga energimu terisi kembali dengan segera. Saya biasanya mengalihkan rasa jenuh saya dengan menonton film romance kesukaan saya atau sekedar menonton video-video youtube yang terkadang membuat saya termotivasi kembali untuk bekerja. Melakukan hobi adalah jalan keluar saat motivasi kita benar-benar berada di level nol.

Make Plan B or Backup Plan

belajar sambil mendengarkan musik

Karena kita tidak pernah bisa menebak bagaimana mood kita dalam beberapa hari kedepan, akan lebih bijak bagi kita untuk mulai mengatur strategi agar kita tidak dikejar oleh berbagai tugas. Saya pribadi memiliki rencana akan mengupload minimal satu postingan setiap minggu di blog saya. Saya sadar terkadang itu menjadi hambatan ketika saya dituntut dengan berbagai tugas lain di kampus. Saya mensiasatinya dengan membuat konten-konten sebanyak mungkin ketika saya sedang dalam level totally motivated. Konten-konten itu nantinya akan menjadi stok untuk beberapa minggu ketika saya tidak mampu membuat satu tulisan pun pada hari tertentu. Kamu bisa belajar mengatur strategi yang sesuai dengan tuntutan pekerjaanmu, tidak harus sama dengan cara saya, karena kasus kita berbeda-beda.

Pada akhirnya saya selalu mengingatkan diri saya bahwa itu “hal yang normal jika saya tidak termotivasi, merasa berbagai tugas-tugas tersebut menjadi bom yang sewaktu-waktu bisa saja meledak,  atau perasaan untuk menunda pekerjaan itu sampai esok, sedangkan saat ini saya hanya ingin menikmati “me time” saya. Sometimes It’s ok to be a deadliner“.

Berhentilah untuk membandingkan dirimu dengan orang lain. Tentu kita sering bertanya-tanya saat melihat salah satu teman kita sangat ambisius, termotivasi selalu, dan mampu menghandle segala urusan dengan baik. Percayalah kamu hanya melihat dia selama beberapa jam saat kamu berada dengannya saja, kamu baru bisa mengambil kesimpulan sendiri ketika kamu selalu bersamanya selama 24 jam, karena terkadang kita tidak tahu apakah orang-orang tersebut benar-benar memiliki karakter seperti itu atau hanya sebuah pencitraan saja, terkadang orang-orang pintar dalam menyembunyikan masalah dan emosinya. Jadi, belajarlah untuk menerima kekurangan diri sendiri dan sistem kerja tubuhmu.

Sembari kita terus berusaha berbenah, bisa membedakan mana kondisi kita yang malas dan mana kondisi kita yang sedang jenuh. Jika sudah tau membedakan ini, maka kita tau harus menghadapinya seperti apa. Jika malas, paksakan untuk bergerak, buka buku, buka laptop, dan kerjakan semua deadline yang menanti. Namun jika jenuh, jeda sejenak, alihkan ke aktivitas positif lain yang kita nikmati, isi lagi energi kita, dan hadapi semua pekerjaan di depan mata yang belum terselesaikan, jangan pernah berpikir tentang deadline ketika kamu sedang melakukan pengalihan ini, nikmati saja momen sesaat ini, pikirkan bahwa saya akan mengerjakan itu semua setelah ini, setelah saya relax kembali.

Tak perlu terlalu keras pada diri sendiri, Anda perlu bahagia dan tenang, jauh dari khawatir, belajar manajemen waktu dan belajar menerima ketidaksempurnaan pula, jangan terlalu muluk.

Semoga tulisan kali ini bermanfaat ya. 🙂

2 thoughts on “Things to Remember When Our Motivation is at ZERO”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.