mencintai hidup

What Does It Mean to “Love Your Life”?

Personal

Beberapa waktu lalu, saat saya sedang mencari info tentang salah satu brand organik dan natural dari Indonesia, yaitu javara, untuk tugas kuliah saya. Saya menemukan satu artikel menarik yang dirangkum dari hasil wawancara dengan pendiri brand ini, yaitu Helianti Hilman.

Ketika ditanya, Apa arti kehidupan bagi Anda?

Lantas beliau menjawab,

Sebenarnya saya tidak pernah memikirkan konsep mencintai kehidupan, karena sifatnya yang fana, tidak abadi. Saya hanya berusaha menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya untuk mencoba mengejar cinta sejati, after life.

Dalam menjalani kehidupan, saya berusaha berpegang pada “tali” Allah. Saya hanya menjalani saja apa opportunity yang Allah sediakan untuk saya.

http://www.astralife.co.id/ilovelife/membawa-warisan-pangan-lokal-ke-pasar-dunia-lewat-javara/

Bagi saya, seorang pemeluk agama Islam, Allah sendiri yang mengatakan bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara, sedangkan akhirat adalah selamanya atau abadi. Maka dari itu, kita semua umat islam, diwajibkan untuk terus mengumpulkan amal kebaikan di dunia ini untuk keselamatan akhirat kelak, untuk mencapai kebahagiaan yang abadi.

Saya sendiri sangat setuju denga perkataann Helianti Hilman tersebut.

Selama ini, memang saya selalu mencari sumber kebahagiaan saya di dunia ini, saya terus mengejar kebahagiaan. Hingga saya kadang lupa kebahagiaan yang hakiki adalah di akhirat kelak, di surga Allah.

Saya terus mengejar kebahagiaan dengan cara berprestasi, namun sayangnya kebahagiaan itu tidak pernah saya dapatkan dalam jangka waktu lama, hanya sebenatar, setelah itu, digantikan dengan ambisi lainnya, hidup tidak pernah tenang, karena mata, hati, dan pikiran kita sudah tertutup dengan kejaran dunia.

Berbeda ketika kita menargetkan segala sesuatu untuk akhirat, ketika kita bisa mencapai sesuatu, kita akan bersyukur dan menyadari segala nikmat itu berasal dari Allah sehingga kita tidak menutup mata akan kuasa Allah, ketika kita gagal, kita sadar bahwa kegagalan tersebut merupakan kehendak Allah yang mana mungkin apa yang kita kejar bukan sesuatu yang baik untuk kita, Allah Maha Tahu Segalanya yang baik untuk umatnya. Dari situ, ketika gagal pun, kita masih bisa berprasangka positif, hati dan pikiran lebih tenteram, karena Sang Segala-Galanyalah yang memutuskan hal tersebut.

Sampai pada akhirnya saya ditegur dan akhirnya sedikit paham mengenai tujuan hidup saya kedepan.

Untuk mencapai kebahagiaan akhirat, kita tentu harus berjuang terlebih dahulu di dunia ini melakukan berbagai kebaikan. Terkadang, dalam perjuangan itu, tidak sedikit rasa sedih, kecewa, gelisah, khawatir, dan ketakutan yang kita rasakan. Kita takut karena memang kita adalah hamba yang kecil yang tidak ada apa-apanya dibandingkan kuasa Allah.

Ketika perjuangan itu tidak mulus, maka saya percaya sebuah petuah bahwa nkimatilah setiap prosesnya, bukan dengan mencintai hidup ini, tapi dengan menyadari dan meresapi nikmat Allah di tengah kenegatifan pikiran kita saat itu. Insya Allah, Bismillah, tubuh kita menjadi positif kembali.

Allah sendiri yang mengatakan

Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?  Qs. Al-An’am (6): 32

Maka dari itu, nikmatilah proses ketika kita berikhtiyar mengerjakan kebaikan-kebaikan dan bertawakallah kepada Allah untuk hasilnya, Insya Allah, ketenangan hati dan ketenteraman jiwa akan mengiringi kita.

Jangan kita jadikan dunia sebagai tujuan, kerjakanlah berbagai hal dengan niat untuk mendapatkan pahala dari Allah.

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud [11] : 15-16)

Mari kita sama-sama mengaplikasikan setiap kebaikan yang kita lakukan hanya untuk mendapat ridha Allah.

Ketika kita berusaha untuk menjalani hidup sehat, niatkanlah hal tersebut sebagai bentuk rasa syukur yang Allah berikan untuk tubuh yang Ia amanahkan kepada kita, bukan semata-mata untuk melangsingkan tubuh. Niscaya pada akhirnya, tubuh yang proporsional menjadi bonus akan usaha kita untuk hidup sehat.

Ketika kita ingin menjadi pengusaha, niatkanlah pekerjaan dan apa yang kita usahakan ini untuk membuka lapangan kerja bagi orang lain dan berakhir untuk mendapat pahala dari Allah, karena sesungguhnya sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.

Ketika kita belajar di sekolah atau kampus dengan menuntut ilmu duniawi, berniatkanlah bahwa ilmu yang didapatkan bisa untuk diajarkan kepada orang lain dan ketika diaplikasikan akan menuai manfaat kepada orang lain, dengan niat akhir mendapatkan pahala Allah.

Apapun yang kita lakukan, hendaklah diniatkan untuk Allah, jangan hanya untuk kepentingan diri sendiri.

Hendaknya kita tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir, namun tempat untuk memanen pahala sebanyak-banyaknya. Jalani kehidupan sebaik-baiknya, manfaatkan kesempatan dan nikmat yang Allah berikan kepada kita untuk meraih cinta sejati, yaitu akhirat, after life.

Tulisan ini bukan berarti saya adalah seseorang yang lebih baik daripada orang lain, melainkan akan lebih baik jika kita sama-sama menebar kebaikan ditengah keterbatasan yang kita miliki. Bismillah, semoga kita terus istiqamah di jalan Allah. Amin ya Rabb.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *