After Deleting Instagram

Light on Life’s Difficulties

Personal

Dulu, saya selalu berpikir bahwa apabila saya berbuat baik kepada orang lain, maka orang lain akan berbuat baik kembali kepada saya suatu hari nanti, atau yang sulit akan bertemu bahagia setelahnya, selalu dan pasti.

Sampai sekarang sebenarnya saya pun masih percaya hal ini, tapi ada tambahan beberapa kalimat yang melengkapi di awal dan belakangnya. Beberapa hari ini saya teringat dengan Almarhumah adik saya. Sejak kecil, almarhumah menderita sakit lumpuh permanen dimana ia hanya bisa berbaring di atas kasur, tidak bisa berbicara, sering kejang-kejang seperti gejala epilepsi, bahkan pergerakannya sangat terbatas sekali, untuk berbalik ke kanan dan ke kiri saja, harus saya, adik, atau orang tua saya yang bantu.

Kalau dipikir-pikir sekarang, rasa-rasanya hidup adik saya sangat merana, menderita, dan penuh kesakitan sejak ia bertatap muka dengan dunia ini. Ia tidak bisa mengutarakan sakitnya kepada saya, adik, ibu, dan bapak saya. Terkadang saya bisa lihat jelas jejak air mata di sudut matanya tanpa ada senggukan tangis, saya pun rasanya iba jika mengingat kembali bagaimana ia harus menahan segalanya sendiri, bertahan hidup dalam kesakitan, sendirian, tanpa bisa berharap orang lain mengerti dengan sama apa yang ia tengah rasakan.

Hingga akhir hayatnya, adik saya menjemput batas usianya dalam keadaan sakit. Saya ingat betul saat Almarhumah menghembuskan nafas terakhirnya, saya melihat benar-benar senyum kecil di bibirnya saat itu, saya tidak berlebihan, ini benar nyatanya. Diantara saya dan adik bungsu saya, almarhumah memang bisa dibilang cantik sekali, bahkan ketika nyawanya tidak lagi bersama tubuhnya, kecantikannya malah semakin bertambah. Saya akhirnya melihat sendiri apa yang orang katakan, raut wajahmu saat rohmu sudah tidak ada menggambarkan apa yang akan kau hadapi setelahnya dan apa yang telah kau tuai selama ini di dunia.

Dari situ, saya memaksakan diri untuk menyadari bahwa kebaikan yang ditanam di dunia tidak akan selalu berbuah hal yang sama di dunia ini, atau yang sulit belum pasti berbalas bahagia langsung dalam fase hidup di dunia ini, yang kata orang setiap kesusahan pasti akan menuai bahagia suatu hari nanti, saya rasa tidak selalu begitu dalam aturan dunia, tapi insya Allah ada balasan teramat baik di akhirat kelak, Sang Maha Mengadili harusnya sudah cukup menjadi motivasi manusia untuk bersabar, berbuat baik hanya karena dan untuk-Nya semata, adik saya sudah sangat cukup menjadi contohnya dalam hidup saya dan keluarga.

Saya rasa mendedikasikan diri untuk terus berbuat baik tanpa berharap balasan apapun di dunia lebih dari cukup untuk membuat hati tak menaruh harapan terlalu jauh terhadap makhluk, entah Allah membalasnya segera di dunia atau tidak, tapi melupakan segala kebaikan yang pernah dibuat dan terus menebar kebaikan sudah menjadi keharusan tanpa perlu menjadikan balasan manusia kembali sebagai motivasinya.

Almarhumah adik saya dalam 17 tahun hidupnya hidup dalam kesendirian, lebih banyak dukanya, ia tidak bisa berkutik, berbicara, menjerit pun tidak, tapi saya amat yakin balasan indahnya tengah ia rasakan saat ini di dunia yang lain.

Mungkin jika adik saya ada disini sekarang, ia akan mengatakan kepada saya untuk bersabar, terus berbuat baik, dan menunggu waktu baiknya datang, menerima setiap peristiwa yang datang menghampiri dengan manjadikan Allah sebagai obat penenangnya.

Saya masih sering ngeluh, menjadikan orang lain sebagai penyebab beberapa hal yang tidak saya inginkan terjadi pada diri saya, dan seringkali ada pamrih yang tak disadari menyempil dalam hati ketika orang lain melakukan sesuatu yang seharusnya tidak ia lakukan kepada saya.

Sungguh, apa yang telah adik saya lewati seumur hidupnya benar-benar menampar saya yang masih haus akan perhatian manusia, masih sering ngeluh padahal saya masih bisa berbicara, meminta perhatian ibu dan bapak, bahkan meminta disuapi ketika saya hanya bisa berbaring di atas kasur, saat lelah saya masih bisa keluar bertemu teman, sedangkan ia hanya memiliki saya, ibu, bapak, dan adik di dunia ini sebagai orang terdekatnya, ia tidak mengenal namanya “teman”, karena seumur hidupnya dihabiskan hanya di atas kasur, kebahagiaan kecilnya sesederhana disuapi beberapa sendok kopi manis ke mulutnya, atau remahan biskuit marie yang dicelupkan ke dalam air agar ia bisa mudah menelannya. Saya ingat jelas bagaimana reaksi mulutnya saat mencecap rasa kopi dan biskuit tersebut. Saat saya masih bisa memilih untuk makan apa saat pagi, siang, dan malam hari, adik saya hanya memiliki menu terbatas yang bisa ia konsumsi, tak bisa mengeluh bosan atau mengatakan pada ibu saya kalau ia ingin makanan ini atau itu hari ini atau besok seperti saya dan adik yang bisa meminta menu khsusus pada saat tertentu.

Saya mohon kebaikan teman-teman untuk mendoakan almarhumah adik saya yang sudah berpulang kepada-Nya sejak tiga tahun yang lalu untuk kebaikannya disana. Semoga tulisan ini, melalui cerita adik saya, terus menambah kebaikan hidupnya di alamnya yang baru, dan mengisi dan menerangi hati kita semua yang sedang lelah akan hidup masing-masing.

Sesekali saya sesenggukan menulis tulisan ini, tapi rasanya damai sekali, karena perasaan saya jauh lebih baik sekarang, adik saya dengan segala ketidakmampuannya bahkan mampu menyentil saya dengan caranya sendiri, ia sosok terkuat di mata saya sejauh ini, belum ada yang menggantikan. Hanya dia yang benar-benar mengajarkan saya bahwa sejak awal dan akhir, dunia ini memang hanya tentang kita sendiri masing-masing, di luar sana hanya perantara ujian dan berkah yang harus diterima dan hadapi, ujung-ujungnya kita lah yang memutuskan, menyelesaikan, dan menjalani, orang lain tak akan benar-benar mengerti, yang kita punya hanya diri kita, maka sayangi ia, terus menebar kebaikan apapun itu, dan hiduplah sebaik-baiknya.

Kebaikan dan kesulitan itu akan dibalas, insya Allah, sepenuhnya di dunia, setengahnya di dunia, atau sepenuhnya di akhirat sekalipun, porsinya tidak ada yang benar-benar tau, hanya di duniakah, dunia dan akhirat atau memang hanya di akhirat yang merupakan balasan tertinggi, begitupun saya yang penuh alpa ini, yang kita harapkan adalah jangan sampai kebaikan itu berbalas hanya di dunia, sedangkan di akhirat kita hanya nilai kosong, maka memang menjadikan segala sesuatu hanya karena dan untuk Allah akan terus menambah poin kita di akhirat, tapi lebih dari apapun, menerima dan terus menjalani memang cara bertahan yang sesungguhnya.

2 thoughts on “Light on Life’s Difficulties”

  1. Terharu bacanya, terkadang kita lupa bersyukur ya, saya yakin adikmu lebih cepat dihisab karena ngga punya dosa… Makasih shraringnya.

    Saya udah ngga mau berharap pada manusia, tempatnya kecewa. Lebih baik. Berlindung pada sang maha pencipta, kebaikan akan dibalas oleh siapa saja, tidak harus dari org yg kita beri kebaikan 😘

    1. Benar mbak sandra, mengharap sama manusia rasanya bikin hati tak tenang kalau realitanya tak seperti yang kita ekspektasikan, melupakan dan terus berbuat baik memang jauh lebih baik. 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.