Life at 25

Ketika tekanan dan masalah datang, ditambah lagi ketidakpastian yang akan kita hadapi di waktu mendatang. Kita cenderung untuk membuat tenggat waktu tak kasat mata yang secara tidak langsung membuat kita tergesa-gesa menyelesaikan permasalahan dan tekanan tersebut dalam waktu yang kita tentukan, secepatnya, yang sering kali hanya didorong energi sesaat dan tanpa upaya untuk berpikir lebih matang dan bijak.

Ketika tekanan di kantor semakin signifikan, saya seperti memburu diri untuk mengerti segala hal secepat mungkin agar saya bisa sesuai standar yang diekspektasikan orang lain. Pun dengan itu, saya memaksa diri untuk mematok waktu agar bisa mencapainya. Saya terus diburu waktu, saya takut gagal, saya takut kehilangan kesempatan saat ini.

Tekanan yang saya hadapi semakin besar karena saya menambah tekanan yang tak perlu pada diri saya. Saya melihat kehidupan adalah perjalanan untuk menang terus menerus. Sudut pandang yang saya ambil dalam melihat dunia seringkali berlandaskan ego, bukan kebaikan jangka panjang, baik untuk saya pribadi ataupun orang sekitar saya.

Sering kali saya mendorong diri untuk memperlihatkan daya juang dan kemampuan saya kepada orang lain, agar setidaknya kesungguhan saya di apresiasi yang nantinya akan membuahkan sanjungan yang lebih besar ketika saya berhasil pada akhirnya.

Ketika menggali lebih jauh, mencoba melihat sisi pikiran bawah sadar saya sendiri, saya tak sadar telah melihat dunia sebagai tempat yang harus selalu nyaman untuk saya tinggali. Saya menolak berbicara kebenaran, saya meredam suara saya ketika saya ingin beropini, saya terus mengikuti alur cerita dalam percakapan orang lain yang hati nurani saya tidak menyetujuinya, atas dasar agar saya tidak ditolak lingkungan, agar saya bisa diterima, tidak dianggap berbeda, dan bisa berbaur.

Saya memahami bahwa terkadang manusia, saya pun, punya sisi dalam dirinya dimana ia takut akan kesepian dan kesendirian. Kita terus mencari cara untuk menjadi bagian dari sesuatu. Karena terkadang sendiri dianggap aneh dan berbeda. Karena akan banyak muncul pertanyaan dari orang lain mengapa kita tak melakukan, tak memikirkan, dan tak merasakan dengan cara yang sama seperti mereka.

Kadang saya bertanya, apakah memang semua dari mereka selalu memiliki sudut pandang yang sama terus menerus? Ataukan mereka juga sedang memerankan skenario yang sudah dihafal di luar kepala mengikuti alur yang sudah lumrah yang diciptakan oleh society.

Stigma sosial seperti anti sosial, introvert, aneh, tidak jelas, cenderung menempeli saya dari kecil. Dan ketika dewasa, saya sempat berada di fase menyalahkan diri sendiri karena memiliki karakter tersebut dan lanjut menyalahkan masa kecil saya yang gagal dalam bersosialisasi, bahkan walaupun saya sadar, saya tak akan mengerti konsep kebaikan dan pengembangan diri secara menyeluruh ketika masih di usia dini.

Adakah anak SD yang sudah mengerti untuk terus memberi kebaikan pada diri sendiri dan lingkungannya untuk mendapatkan ketenangan hati? Adakah dari mereka yang sudah mengerti untuk tidak terus berdiam diri di rumah dan berbaur agar kelak di masa dewasa mereka tidak memiliki kekhawatiran akan sosial? Apakah sesiapun dari anak kecil tersebut pernah menangisi hal-hal mengenai kepribadian mereka?

Memang ada porsi orang lain disana yang bisa menuntun dan membentuk kita, terutama orang tua. Tapi saat ini pun ketika menyadarinya, kita tak bisa lagi mempertanyakan apa yang sudah terjadi dan terbentuk pada diri kita. Pun mungkin jalannya sudah seperti ini, kita sudah berada disini dengan paket lengkap diri kita dengan beberapa karakter yang sudah mendarah daging, beberapa yang baik, beberapa yang buruk, dan beberapa (mungkin) cukup diterima, dipeluk erat untuk hidup bersama tubuh ini.

PR besarnya adalah memilih mana yang harus dibenah, mana yang harus terus ditingkatkan, dan mana yang harus dirangkul, bukannya ditekan mati-matian agar ia tidak terlihat dan noticed oleh orang lain. Dan sepertinya memang sedikit demi sedikit kita mulai paham bukan? Walaupun tidak mengapa pun jika kita masih banyak bingungnya.

Bagi saya saat ini, di umur saya yang akhirnya menginjak angka 25, bulanan yang lalu, saya akhirnya menyadari bahwa kita benar-benar sedang menjalani skenario Tuhan yang resepnya hanya satu, jalani saja. Bukan kita yang mencipatkan masa depan walau kita sudah berusaha sekeras apapun. Kita hanya perlu mencari cara untuk meminjam payung atau bahkan menerobos hujan jikalau hujan tiba-tiba datang saat kita hendak ke halte ketika pulang kerja. Beberapa resiko mungkin bisa terprediksi, tapi tak ada yang 100% presisi, entah itu kita akan berujung sakit jika menerobos, entah kita akan tertinggal bus tercepat jika meminjam payung terlebih dahulu, tapi tak ada yang tau pasti apa yang terjadi setelahnya.

Tentu ada keinginan-keinginan yang saya tanamkan dalam diri tentang kehidupan saya. Tapi biar itu jadi pacu untuk terus berjuang dalam kehidupan, tapi bukan untuk menjatuhkan ekspektasi akan sebuah kepastian akan hal tersebut. Kita seringkali menaruh tenggat waktu bahkan sudah meprediksikan akan sebahagia apa kehidupan jika saatnya tiba. Namun tetap saja, perihal masa depan, 100% bukan didesain untuk menjadi karakter manusia.

Dan perihal rintangan apapun yang kita hadapi, sudah saatnya mungkin kita benar-benar menanamkan pengertian pada diri, bahwa itu adalah skenario Allah, bukan hanya datang karena kita melakukan kesalahan kemarin, bukan hanya karena salah seorang yang sedang berniat buruk kepada kita, bukan karena sebuah tiba-tiba. Dengan itu, kita paham betul untuk meredakan diri dalam menerka dan menghidupkan energi negatif dalam diri. Sebaliknya, kita akan sadar bahwa ini adalah pemberian Allah dan percaya saja pada-Nya dan jalani.

Kita dihadapkan pada pilihan, yang benar-benar mampu untuk kita kontrol, tentang bagaimana cara kita menjalaninya, dengan energi positif atau negatif. Dengan itu, kita akan tetap baik pada siapapun, pada apapun, dan tak terus merutuki keadaan.

Rasanya memang kita akan benar-benar sadar akan adanya kuasa Tuhan ketika masalah itu datang. Karena pencerahan akan kebingungan, pun penyelesaian akan sebuah masalah, bisa datang dengan sangat tiba-tiba. Walaupun kehidupan di luar diri sungguh menghimpit, namun di dalam diri, rasanya kita amat dekat dengan Tuhan, berbicara dengannya, mengeluh, bertanya, sampai kita akhirnya diberikan ilham untuk memahami yang kadang sulit untuk diterka, mengapa kita bisa sampai pada kesimpulan dan pencerahan seperti itu.

Walaupun begitu, ketika kita sudah paham tentang konsep skenario Allah ini, kita harus terus mengupayakan apapun yang bisa kita kontrol untuk berjalan sebagaimana seharusnya, dan juga berdoa agar Allah terus menguatkan dan membimbing kita yang tentu saja masih banyak bingung ini.

Terakhir, Selamat berulang tahun untuk diriku, dengan pemahaman ini, mari tetap kuat untuk terus hidup dan melakukan sesuatu.

Related Post

2 Replies to “Life at 25”

  1. Aku udah lama sebetulnya ngikutin tulisan mbak putri tapi gak pernah tinggalin jejak hehe, wahh happy 25 mbak 1 setengah tahun lagi aku nyusul nihh huhu kadang hidup suka gitu melintas gitu aja di depan mata. Boleh curhat mbak sebetulnya saya dikelilingi rekan-rekan ambisius, punya tekad kuat dan juga bakat kadang saya minder dibuatnya kadang semangat mereka justru menginspirasi saya hidup di 20 tahun itu bener-bener buat diri jadi terombang ambing walaupun yang selalu muter-muter di kepala adalah “aku harus jadi lebih baik lagi dari ini gak boleh ngulang kesalahan yang sama aku harus maju” apakah itu juga merupakan ambisi ? Karena sampai sekarang ini saya masih belum tahu apa yang saya mau dari hidup ini, karena siklusnya setiap hari mengikuti skenario yang ada dan ketakutan suatu saat akan jatuh. Saya cuma pingin berhenti memutar-mutar kalimat itu di kepala saya dan melakukan yang terbaik tapi kadang juga muncul pertanyaan “apa benar langkah yang saya lakukan ini baik?” Saya harap kedepannya bisa membaca tulisan-tulisan mbak putri yang lainnya karena sewaktu saya membaca tulisan mbak, kesannya tidak ada yang membuat saya merasa kesal paling cuma batin “oh iya juga ya” selalu semangat dan semoga tetap sehat dalam kondisi bumi sekarang ini.

    1. Hai JE, Terima kasih untuk ucapannya ya. Kata “harus” itu emang agak mengerikan buatku sendiri kalo sedang ngasih afirmasi saat energi terlalu down atau ketika sedang tinggi-tingginya. Karena yang ku alami, seringkali keseharianku bertarung diantara kondisi tengahnya, yaitu kadang sedang in a good mood di beberapa kegiatan lain, dan selebihnya saya kadang gak mau mikir, gak mau lihat, dan gak mau denger berbagai tugas, aktivitas, atau kegiatan yang saya sedang tidak passionate untuk melakukannya. Caraku sendiri untuk menanggulanginya adalah untuk tidak membuat janji apa-apa pada diriku yang ku tau pada kesehariannya itu belum tentu terwujud, namun bagiku sendiri yang lebih berefek adalah dengan tidak banyak mikir dan jalani saja apa yang seharusnya kulakukan. Mungkin tebakanku (karena aku juga merasakan hal yang hampir sama seperti yang kamu ceritakan diatas) adalah karena energi yang kamu miliki lebih banyak dikendalikan/dipengaruhi orang lain, kamu mungkin belum menemukan sumber semangat dari dirimu sendiri. Saat ini, terkadang kalau sedang ‘waras’, saya benar-benar bahagia dan tenang ketika bangun pagi karena saya ingin melakukan segala sesuatu untuk kebaikan saya sendiri, belajar karena saya suka, bekerja sungguh-sungguh karena itu bisa menambah skill saya, dll. Dengan itu, pendorong untuk melakukan sesuatu karena situasi ekternal diluar saya sedikit mulai berkurang, belum sepenuhnya memang, tapi sedang saya latih dan usahakan teruss. Semangat ya JE. Tanpa bermaksud menggurui, jika memang kita memiliki issue yang sama, semoga kamu bisa relate ya, kadang bingung itu lumrah kok, dan stop berpikir jika itu sudah membuatmu menunda segala hal dan memperburuk suasana hatimu, lakukan saja, entah itu selesai dalam kondisi kamu puas atau tidak, setidaknya kamu berprogress dalam kegiatan dan dirimu sendiri setiap hari 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.