belajar-sbmptn-salah-jurusan

Letting Go Of Being Attached To Situations In Life

Personal

Beberapa kali saya mencoba mempertanyakan, dasar dari kekhawatiran saya selama ini apa sih? Apakah saya normal memiliki kekhawatiran? Apakah porsi kekhawatiran yang saya miliki selama ini masih normal atau sudah berlebihan?

Semakin saya memikirkannya semakin saya khawatir dengan pokok masalah baru yang muncul di kepala saya, ada apa dengan saya? dan mengapa mereka biasa saja menjalani kehidupan?

Saya benar-benar mempertanyakan itu karena melihat orang-orang di sekitar saya yang kelewat entengnya beraktivitas selama ini. Sedangkan saya terkadang melambat ritmenya karena terdistraksi oleh pertanyaan-pertanyaan seputar diri sendiri yang banyak bingungnya daripada ‘jelas’-nya.

Mungkin, bisa dikatakan awal mulanya dikarenakan saya terlalu attached dengan orang lain, benda, situasi, dan berbagai hal yang di luar kontrol diri saya. Sedangkan diri saya sendiri yang sangat mampu saya genggam jika saya tidak memenuhinya dengan ‘benda tak penting’ lainnya, malah saya taruh di sudut terjauh, enggan untuk ditatap, bahkan dibawa bersama.

Saya tidak khusyu’ beribadah, saya tidak fokus ketika bekerja, saya kalap membeli sesuatu yang saya sesali ujungnya sejam kemudian, saya berjalan terlalu cepat, saya tidak sadar makanan yang tersaji dalam piring saya habis, saya tidak sadar kok chatime saya tinggal seperempat? kapan saya seruputnya? saya yang tidak sadar dua jam waktu yang habis menonton youtube dan men-scroll instagram, saya yang tak sadar ada orang lain di sebelah saya, saya yang tak sadar apa yang sudah saya baca di halaman buku sebelumnya? kok tiba-tiba sudah sampai halaman ini?

Saat bekerja, fokus saya ingin menulis, saat hari weekday fokus saya ingin weekend, saat pertengahan bulan ingin cepat-cepat akhir bulan supaya gajian, saat-saat menunggu untuk membeli buku baru padahal buku lama masih banyak yang belum terbaca.

Semua jika dirunut, mungkin berakhir dalam satu kesimpulan, saya terlalu terikat kepada ‘faktor di luar’ saya, saya tidak bisa mengontrol diri, saya takut ditinggal rekan kerja saya karena saya takut dengan ketidaknyamanan yang mungkin terjadi setelahnya, atau contoh kasus lainnya saat saya tidak menjadi diri sendiri dan tidak berdiri dibawah prinsip yang saya yakini karena takut “ditinggal”.

Saya luput menyiram sel-sel tubuh saya dengan kebermanfaatan untuk diri sendiri, padahal ia perlu untuk terus dipacu untuk tumbuh dan berbuah, sehingga bisa bermanfaat untuk sekitarnya. Saya luput menikmati aktivitas hidup saya selama ini karena keterikatan atas nafsu ingin berbelanja, nafsu ingin terlihat, nafsu ingin cepat-cepat berkembang.

Rasa takut di dalam diri saya terlampau tinggi dan rasa kontrol diri malah terlalu merosot jauh ke bawah. Akhirnya apa? krisis kepercayaan diri, tidak produktif, menganggap diri tidak punya nilai dan kalah jauh dari orang lain.

Mungkin jawaban “kontrol diri, sadar sebelum dan saat berucap dan bertindak, serta memupuk rasa percaya diri dengan apapun yang saya sedang miliki dan terus berbenah, tumbuh belajar terus menerus”, bisa jadi pembuka untuk pemahaman akan apa yang sedang dibingungkan selama ini.

Rasa terikat kepada orang lain hanya akan membuat diri saya tidak bisa berdiri dibawah kaki sendiri sehingga sangat mungkin saya bisa merasakan kesedihan mendalam ketika mereka tidak ada di samping saya lagi atau berubah sikapnya tak sesuai ekspektasi saya biasanya.

Rasa terikat pada nafsu kebendaan hanya akan membawa saya kepada grafik nafsu yang semakin tinggi melonjak, karena setelah dipikir-pikir, akan ada selalu benda yang ingin dibeli, akan ada selalu benda yang kita butuhkan, sehingga pernyataan excuse setelah berbelanja sesuatu “ini yang terakhir kok” adalah nol besar, sama sekali tidak akan ada akhir, lebih baik bersabar menunggu daripada langsung menggelontorkan pengeluaran besar-besaran di sekali waktu. Karena akan selalu muncul model baru yang mungkin lebih bermanfaat dan menarik di kemudian, atau jika sebaliknya, buah kesabaran menanti mungkin bisa memberi efek kepada situasi lain yang menguji kesabaran saya, semoga semakin mudah pengaplikasiannya disana karena banyak kontrol diri yang sudah diupayakan dibelakang.

Rasa terikat saya pada situasi membuat saya tidak bisa beradaptasi secara luwes, dimana saya selalu berupaya mengontrol, mengkritik, dan mengubah orang lain yang bukan kuasa saya, hingga saya lelah sendiri, dan luput untuk bekerja optimal saja sesuai mampunya saya.

Rasa takut saya untuk tertinggal jauh dari orang lain hanya akan membuat saya tidak nyaman menjalani aktivitas, saya tidak paham apa yang saya kerjakan, lupa sejak menit pertama buku atau laptop ditutup. Rupanya tak apa memperlihatkan bodohnya saya dan meminta mereka untuk mengajari atau belajar sendiri supaya menjadi pecut untuk berkembang, bukan hanya hidup dalam kamuflase “aku sudah bisa segalanya”.

Dan berbagai hal lain yang saya sadari telah merugikan saya terlalu banyak, ampuni saya ya Allah, semoga kali ini saya bisa sedikit demi sedikit membenahi apa yang sudah keliru sejak lama. Semoga Engkau selalu memberi ilham atas segala kealpaanku untuk memahami selama ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.