Pak Buk PNS, Introspeksi Kinerja Yuk! Mari Jaga Amanah Masyarakat!

Personal
“Jangan ngaku keren kalau belum jadi PNS”, sebuah kalimat yang sering kali kita dengar, bukan hanya lelucon semata, namun makna yang tersirat didalamnya, kalimat yang menggelitik sekaligus patut menjadi renungan bagi kita semua. Profesi PNS dari dulu sampai sekarang selalu menjadi incaran banyak orang, terutama bagi mereka yang baru menyandang status sebagai sarjana, tidak peduli latar belakang bidang pendidikan mereka, baik hukum, sosial, ataupun kesehatan, mindset yang tertanam pada mereka adalah “Aku harus jadi PNS”. Menyandang status sebagai PNS terbukti menjadi kebanggaan tersendiri bagi kebanyakan orang, banyak alasan yang melatarbelakangi profesi ini paling banyak diminati, karena jaminan kesejahteraan di masa tua, bahkan alasan “konyol” seperti PNS sebagai profesi sang menantu idaman, “Bukan persoalan jika kamu adalah seorang pesuruh atau bos, pokoknya PNS!”.
Mengulik fakta-fakta yang sering muncul di berbagai berita terkait tentang “kenakalan” para PNS yang menyelewengkan tanggung jawabnya sebagai abdi masyarakat, seperti kasus PNS yang terlambat atau bahkan bolos kerja, banyak hal yang perlu direnungi disini, tentu ada alasan dibalik mereka mangkir dari tanggung jawab ini. Saya tertarik dengan sebuah kutipan yang sering kali kita dengar “jika ingin menjadi orang sukses, bekerjalah sesuai passion agar  bisa sepenuhnya menikmati apa yang dikerjakan”. Lalu apa yang dimaksud dengan passion sebenarnya? mari kita sederhanakan passionitu sebagai bakat, kesukaan, atau sesuatu yang benar-benar Anda minati
 
Lalu apa hubungannya passion dan PNS? Yang harus dipertanyakan sekarang adalah apa yang melatarbelakangi mereka ingin menjadi seorang PNS?  di luar sana ada banyak orang yang belum tahu dimana passion mereka bahkan mungkin tidak tahu apa itu passion. Mereka “terjebak” dalam sebuah rutinitas atau kegiatan yang menyebabkan mereka tidak bisa memaksimalkan diri dengan potensi yang dimilikinya. Demi alasan ekonomi, mereka mencoba bertahan hidup dan menjalani rutinitas yang sebenarnya membuat mereka tertekan. Saya tidak mengartikan tertekan disini dalam maksud kata “gila”, namun lebih kepada perasaan tidak nyaman, bosan, bekerja karena tuntutan, bekerja ogah-ogahan, tidak ada chemistry antara mereka dengan pekerjaannya, hingga buntutnya mereka bolos kerja, telat masuk, dan lainnya. Semua hanyalah tentang bagaimana mereka terlihat dari luar, bukan tentang apakah mereka nyaman dengan profesi tersebut. Mereka memilih menjadi PNS karena pertimbangan strata sosial atau status mereka di dalam masyarakat. Akan berbeda kasusnya ketika seseorang melakukan perkerjaan yang sesuai dengan minat dan kesukaan mereka, disinilah yang saya maksud dengan yang namanya passion, bekerja tanpa beban dan bisa mengeksplorasi diri dengan lebih baik.
 

Ini adalah salah satu bentuk renungan bagi Anda yang masih meresapi makna dari topi toga yang baru saja Anda lepaskan, mungkin Anda sering diberi wejangan atau nasehat dari orang tua untuk menjadi PNS saja. Nasehat orang tua ada benarnya, karena PNS mempunyai gaji yang tetap, memiliki tunjangan masa pensiun, dan tidak ada ancaman pemecatan berarti kecuali jika Anda menyalahgunakan uang negara. Namun apakah itu benar-benar keinginan Anda? Cobalah Anda renungkan beberapa alasan yang membuat Anda bertahan memilih PNS sebagai profesi Anda kedepan tanpa melibatkan tawaran “kenyamanan” yang diiming-imingi profesi tersebut. Beranikanlah diri untuk keluar dari zona nyaman dan belajar mempercayai diri sendiri bahwa Anda pasti bisa sukses dengan mengikuti passion Anda, Anda bisa mencoba memulai usaha di bidang yang Anda minati, modal bukanlah hambatan, yang penting adalah tekad dengan terus belajar dan mencari tahu.

kerja dengan passion
www.unsplash.com
Jangan hanya menyalahkan pemerintah yang seolah-olah menutup mata dan tidak memberi lapangan pekerjaan. Kita memiliki potensi yang besar dalam setiap diri masing-masing, manfaatkan bidang keilmuan kita untuk membuka usaha dan membuka lapangan kerja bagi orang lain. Tuhan menciptakan jutaan kacamata di dunia ini, perbedaan adalah pilihan untuk memilih sebuah kacamata mana yang benar-benar kita sukai. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan menjadi berbeda dan tak biasa, tidak perlu mengikuti pendapat orang lain jika memang bukan itu yang terbaik bagi Anda. Tak pernah ada kewajiban untuk berlaku persis sama seperti yang orang lain lakukan. Mari bersikap proaktif,.
 
Profesi sebagai pengusaha memang belum terkenal di mata masyarakat, kebanyakan dari mereka beranggapan profesi pengusaha identik dengan berdagang, memang tidak ada yang salah, namun sebenarnya wirausaha itu adalah  kemampuan dalam menyediakan solusi dari permasalahan yang ada untuk masyarakat,  lihat apa masalah yang ada di sekeliling kita yang perlu diselesaikan dan ambil itu sebagai peluang bisnis, semakin besar solusi yang diberikan semakin besar pula solusi tersebut diterima oleh masyarakat. Bisnis tersebut harus memberikan nilai tambah, bermanfaat bagi orang lain, sehingga tidak hanya berorientasi kepada keuntungan saja. Disinilah letak bedanya antara berdagang dan berbisnis, yaitu dari segi orientasi ke jangka panjang. Permasalahan kedua yang harus diselesaikan adalah pemikiran orang-orang bahwa untuk memulai bisnis memerlukan modal yang sangat besar, saya mengambil hipotesis ini disebabkan karena mereka yang seringkali mengaitkan bisnis dengan suatu usaha besar yang sudah memiliki gedung perusahaan yang menjulang tinggi, faktanya adalah tidak ada seorang Chairul Tanjung yang sekarang menjadi pengusaha terkenal dan terkaya di Indonesia sekaligus pernah menjabat sebagai Menko Perekonomian tanpa seorang Chairul tanjung yang dulunya mengawali karier hanya dengan berjualan kaos dan buku kuliah ketika ia masih berstatus mahasiswa. Tidak ada bisnis besar yang sukses tanpa diawali oleh bisnis yang kecil terlebih dahulu. Ada fase yang namanya “proses” yang harus dijalani bagi mereka yang berani keluar dari zona nyaman dan mulai memikirkan bagaimana cara mengeksplorasi diri dengan lebih baik yang berimbas kepada kemaslahatan masyarakat.
Saya tidak bermaksud mendiskriminasi etos kerja mereka yang berprofesi sebagai PNS, pasti ada diluar sana sosok abdi masyarakat yang beramanah dengan kewajiban mereka, namun yang ingin saya tekankan disini adalah bekerjalah dengan passion, bekerjalah dengan cinta. Tidak ada pekerjaan yang lebih baik dan tidak ada yang lebih buruk, menjadi pegawai bukan berarti lebih buruk dan membuka usaha bukan berarti lebih baik,semua ada resiko dan konsekuensi yang harus di jalani, Anda yang telah memilih menjadi PNS, bertanggung jawablah dengan apa yang telah Anda pilih dan amanah yang dibebankan kepada Anda, mengabdilah untuk masyarakat dengan sebaik-baiknya, jangan berlaku “zalim” terhadap mereka yang bahkan sangat mengidolakan profesi Anda karena mereka tidak mampu menyamai Anda.  PNS dibayar dari pajak rakyat, dan sudah sepatutnyalah Anda berbalas budi terhadap rakyat yang telah berbaik hati mempercayai Anda dengan melakukan kewajiban Anda dengan baik. 

2 thoughts on “Pak Buk PNS, Introspeksi Kinerja Yuk! Mari Jaga Amanah Masyarakat!”

  1. PNS menjadi idaman karena tuntutan, salah satunya orang tua yang menganggap PNS sebuah kesuksesan dan jaminan yang hakiki. Nyatanya PNS terikat dengan waktu dan kadang kala membuat mereka harus kehilangan kreativitas akibat rutinitas yang begitu-begitu saja. Passion banyak masyarakat kita masih sangat awam, namun bagi para millenial mulai melakukan gebrakan, mengejar passion kini telah menjadi syarat membangun masa depan tanpa harus memakai pakaian dinas dan kalo liburan harus melihat tanggal merah. Tulisan inspiratif!

    1. Apapun itu, silahkan kita berusaha terus menjadi orang yang bermanfaat bagi banyak orang sembari kita mencari nafkah dan mengisi waktu dengan hal positif yang kita minati. Terima kasih sudah berkunjung. 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *