Kemelakatan Pada Manusia, Benda, dan Keadaan

Personal

Pernah tidak, kita berdoa, ya Allah, semoga di pekerjaan/project selanjutnya, aku digabungkan dengan mereka yang sefrekuensi denganku, dengan mereka yang tidak menganggap remeh diriku, dengan mereka yang mau membimbing, melibatkanku, sehingga aku bisa belajar dan berkembang disana.

Atau doa lain seperti ya Allah tolong loloskan aku di perusahaan ini, kampus ini, atau lomba ini.

Saya sering.

Kamu bagaimana?

Hingga menit-menit sebelum tulisan ini saya tulis, saya masih menganggap itu hal yang wajar, lumrah, bahkan baik untuk dilakukan.

Bukan berarti berdoa itu tidak baik, menggantungkan hidup kepada Tuhan kita adalah keharusan bahkan kebutuhan, karena manusia itu awal dan ujungnya adalah sendiri. Maka sewajarnya kita membutuhkan Ia untuk membimbing dan mengarahkan kita dengan masa depan yang belum bisa kita prediksi sama sekali.

Tapi pemahaman tentang ‘kemelakatan’ itu muncul seiring rasa khawatir, resah, dan lelah yang saya rasakan karena orang lain bersikap tak sesuai dengan yang saya inginkan, atau keadaan yang menuntut saya untuk memindahkan haluan kemudi tak seperti awal mula saya merencanakan akan kemana dan dengan kecepatan berapa.

Atau hasrat kebendaan dimana ketika saya belum mendapatkannya, maka kegiatan lain harus di stop/ditunda terlebih dahulu, sampai benda itu saya dapatkan dan bisa menyempurnakan kegiatan yang saya idam-idamkan lakukan sesempurna mungkin.

Pikir saya, ini tidak akan baik.

Saya kehilangan momen untuk menikmati setiap proses hidup yang sedang saya jalani. Saya sering resah bukan kepalang memprediksi kehidupan setelah ini akan sesuai dengan yang saya inginkan atau tidak.

Saya tak merangkul diri sendiri untuk berjalan bersama tanpa harus memperdulikan orang akan menyanjung apa yang saya lakukan atau tidak, tak perlu menunggu laptop baru sehingga saya bisa berproduktif bekerja, tak perlu menunggu ruang kamar saya 100% kondusif nyaman dengan segala aksesori bantal empuk, meja dan kursi yanng nyaman, atau aromaterapi yang tercium lembut yang menambah konsentrasi berkerja.

Karena beberapa kali setelah dilalui, duduk diatas lantai tanpa karpet dengan meja kayu sederhana dan laptop lama yang masih berfungsi dengan baik walupun lambat sesekali, tapi bisa diselingin dengan menghirup kopi atau teh panas sambil menunggu laptop itu berfungsi kembali, sudah sangat cukup untuk menghadirkan rasa puas dalam jiwa.

Karena faktor luar; situasi, benda, dan manusia, adalah terlalu banyak perihalnya. Ketika lilin aromaterapi sudah didapat, bagaimana kalau menambahan aksen lampu temaram untuk menambah kesyahduan kamar? atau ketika sudah mendapatkan pujian atasan, ada saja lagi keinginan-keinginan baru untuk giat bekerja menanti pujian-pujian berikutnya, karena kita tau, hal tersebut bisa membuat kita senang dan bersamangat, tapi sekali lagi, faktor luar itu ada banyak sekali, dan kita tidak bisa mengontrolnya sama sekali, terlalu sulit untuk menggenggam semuanya bersama.

Sayangnya faktor luar berjalan sendiri di luar kontrol diri. Manusia kadang lupa untuk berterima kasih atau berucap maaf ketika melakukan kesalahan. Atau akan datang barang-barang lain yang mengikat nafsu untuk terus memilikinya, atau ada banyak situasi-situasi tak terduga yang ketika berbeda dengan asumsi awal, bisa sangat menghambat untuk berfokus kembali menyelesaikan apa yang sudah dimulai.

Ada banyak sekali faktor di luar sana yang seharunya tak usah ditebak-tebak, diterima saja, dijalani saja. Kembali kepada awal paragraf tulisan ini dimulai, mungkin doa-doa baik yang jauh lebih menghangatkan dan meneduhkan hati untuk diutarakan adalah “Ya Allah, apapun yang engkau gariskan, tolong kuatkan Aku selalu menghadapinya, skenario hidupku Engkaulah yang menuliskannya, dan Aku tinggal menjalankan”.

Lalu apakah keinginan untuk “memiliki” itu tidak harus dituruti? Bagi saya ada yang benar-benar lumrah untuk dinanti, ada yang baiknya dijalani saja. Dua-duanya sama-sama bisa dinikmati tanpa harus merasakan perasaan tak sabar atau rasa kecewa karena harus ditunda atau dipendam tak dituruti.

Contohnya menanti seorang pasangan atau pekerjaan dalam/untuk hidup, lumrah sekali menurut saya, bentuk-bentuk penantian itu kalau pikiran kita sedang waras juga bisa sangat dinikmati tanpa tuntutan harus terealisasikan sesegera mungkin.

Entah itu dengan menikmati setiap usaha untuk memperbaiki dan mengembangkan kepribadian dan skill dalam penantian tersebut, atau kenikmatan ketika percaya saja skenario hidup kita sudah digariskan Allah, karena terlalu banyak faktor X yang tidak kita pahami, yang justru Allah tau, yang sedang dicobakan satu per satu pada kita, sehingga pada akhir kita berdiri sejajar dengan keinginan tersebut, kita bisa merasa siap dan memeluknya seerat mungkin untuk mengisi kehidupan bersama yang sedemikian bermakna.

Faktor luar seperti senior yang tak bisa memahami kita, kondisi keuangan yang belum cukup untuk berlibur ke tempat yang luar biasa kita dambakan sejak dulu, atau teman kerja yang kerap menyinggung perasaan, adalah jika sudah dari awal menanamkan pemahaman pada diri bahwa mereka dan itu semua adalah kesekian fase hidup yang selayaknya dijalani saja, mengharapkan ‘sesuatu’ itu datang dalam ketidaksabaran dan berharap mereka untuk berubah dan respect terhadap kita malah semakin menambah kegundahan dalam diri sehingga kita berhenti terlalu lama.

Kita yang akan merugi terlalu banyak, maka berdamilah dengan hasrat diri sehingga kita bisa sadar sepenuhnya mengapa ‘sesuatu’ datang atau belum sesuai dengan apa yang kita hasratkan.

Mempercayakan timing Allah sudah sangat cukup. Sabar, ikhlas, dan terus mencintai dan merangkul diri sendiri untuk terus berjalan bersama di atas aspal, tanah, jalan berlubang, naik, dan turun adalah selayaknya yang kita lakukan. Bahagia adalah sering kali menjadi faktor yang dikejar, namun sepengalaman saya sendiri, merasa damai adalah cukup, karena dalam sedih karena tersakiti pun kita masih bisa merasakan kedamaian itu. Damai adalah kunci untuk terus melanjutkan hidup, maka ciptakan ia dengan tidak banyak berekspektasi dengan masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.