Tentang Pasangan Hidup

Makin hari, saya resah sendiri ketika berkaca pada diri saya apa yang telah saya lalui belakangan ini. Bukankah menentramkan menjadi orang yang mudah bahagia dengan hal-hal kecil?

Jahatnya, dengan kebahagiaan orang lain, kadang saya luput untuk merasakan suka cita yang sama, masih banyak sekali irinya.

Saya sadar betul bahwa ini salah satunya disebabkan oleh saya yang seorang diri belum mampu melihat dan menerima kelebihan dan kekurangan saya. Saya terus memupuk keyakinan bahwa saya menderita dan kehidupan orang lain begitu menyenangkan.

Ketika taraf hidup saya meningkat dari waktu ke waktu, saya sulit benar-benar bisa total bersyukur, lain waktu ada saja kekurangan dari diri yang saya notice dan melihat orang lain berkebalikan, dianugerahi dengan apa yang saya tidak punya.

Di usia saya yang sudah menginjak angka 26 tahun sekarang, dengan status saya yang masih melajang, mudah sekali merasa iri dengan teman-teman yang sudah memiliki pasangannya masing-masing, walaupun saya sadar di peran kehidupan saya yang lain, khususnya pekerjaan, saya sedang dalam stage naik.

Tapi saya tak banyak berbeda dengan orang lain, saya memiliki jiwa yang kesepian berharap ada yang mengisi kekosongan itu dan bisa menjalani kehidupan bersama.

Teman saya pernah bilang, ketika ia akhirnya menikah, “rasanya sumber kegalauan besar dalam hidup lepas begitu saja, dan hidup menjadi lebih ringan.” Kita tentu sadar betul, salah satu sumber kebimbangan dalam kehidupan manusia adalah ketika mencari pasangan hidup.

Tapi saya tak punya kontrol sama sekali kapan ‘waktu’ saya datang, bukan hanya tentang pernikahan, apapun itu. Kilas balik kehidupan saya dalam setahunan ini, rasanya banyak sekali yang terjadi, dan hampir semuanya di luar prediksi saya dan terjadi dengan proses begitu cepat, saya yang patah hati dengan kehidupan percintaan saya, masalah keluarga yang sudah sangat melelahkan saya secara fisik dan mental, kekecewaan kepada teman yang sudah saya percayai teramat sangat, hingga kenyataan bahwa tiba-tiba saya mendapatkan penawaran pekerjaan dari perusahaan lain dan sekaligus dapat promosi di kantor sekarang.

Entah bagaimana Allah menjalankan skenario-Nya untuk saya. Saya berusaha meyakinkan diri, bahwa hidup tidak terjadi dengan matematika manusia, banyak yang tidak rasional, banyak yang tidak bisa direncanakan terlebih dahulu, banyak yang mendadak terjadi, banyak yang akan berubah, banyak yang tidak bisa diprediksi.

Dengan keadaan saya sekarang, kata orang, ‘hilalnya saja belum kelihatan sama sekali’. Saya berusaha untuk menenangkan diri, walaupun tak berhasil di waktu-waktu tertentu, berpikir bahwa “kehidupan itu tidak sama dengan 1+1 = 2, setelah lampu merah, ada lampu kuning, lalu lampu hijau, tidak sama dengan jarak tempuh Jakarta bali 1 jam 45 menit”. Bisa saja alur berubah tiba-tiba, segala kejadian bisa saja terselip yang merubah kehidupan kita 180 derajat.

Semua bisa terjadi, yang kita miliki adalah hari ini, saya baru paham sekali makna itu belakangan ini, saya tidak tau besok akan ada kejutan apa, atau hidup berjalan semestinya seperti sebelumnya, tapi saya punya hari ini untuk saya pupuk banyak hal dalam diri saya, menggenggam apa yang saya masih miliki, menjalani apapun yang sedang mampir dalam hidup saya, sembari berdoa kepada Allah tentang hajat hidup saja, dan berserah kepada-Nya untuk mendapatkan ketenangan.

Saya yakin saya tidak sendiri, untuk kamu yang merasakan hal yang sama, semoga kita bisa tetap penuh merasakan bahagia diantara berbagai hal besar yang kita dambakan dalam hidup datang satu per satu.

 

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.