Jeda Sejenak.

Personal

Selamat hari senin!

Pagi ini saya sampai lebih cepat di kantor, akhirnya memutuskan untuk menulis sedikit, lebih kepada jurnal pribadi yang ingin saya bagikan kepada teman-teman.

Saya bangun pagi lebih cepat hari ini, Alhamdulillah, solat subuh dengan tenang, duduk sejenak, membaca al-quran, lanjut ke kasur, scrolling media sosial sebentar, turun ke bawah untuk mencuci beberapa baju kotor, lanjut membuat sarapan dan bekal ke kantor, mandi, bersiap, dan akhirnya berangkat ke kantor.

Sebulanan ini saya merasakan ritme berbeda dalam hidup saya, menyesuaikan diri dengan rutinitas dan lingkungan baru lagi, kadang saya terhambat dalam beradaptasi dengan waktu dan pola hidup di Jakarta. Seringkali saya mengeluh, dan akhirnya hari-hari saya berjalan monoton tanpa menghadirkan hati disitu.

Saya coba menelaah kembali, ngobrol kembali kepada diri sendiri, “Apa yang sedang saya rasakan”, “saya sedang mengeluh apa”, dan “kenapa saya harus mengeluh”.

Akhirnya saya tau kalau aktivitas yang saya jalani belakangan ini bukan pilihan terbaik atau bukan pola hidup terbaik yang saya inginkan. Saya mulai makan tidak sehat, menggerutu dengan lingkungan baru yang cukup sulit untuk saya beradaptasi, dan saya merasa berat hati karena harus bertanggung jawab pada diri sendiri, secara waktu, finansial, dan hidup secara menyeluruh mulai saat ini.

Saat-saat itu saya memilih berhenti sejenak, berhenti menyebar CV (karena status saya di kantor sekarang belum karyawan tetap), berhenti berekspektasi tentang nasib saya setelah ini, berhubung saya sudah 100% terlepas dari tanggung jawab orang tua dari sisi finansial, hingga berhenti mempertanyakan beberapa hal yang sebenarnya lebih mudah untuk dijalani saja tanpa harus menganalisa terlalu jauh, lebih ringan rupanya.

Kalau lelah, istirahat. Saya mulai banyak membaca lagi belakangan ini, sabtu dan minggu kemarin saya habis membaca buku, artikel, dan mengisi waktu bersama keponakan. Mencoba mengenal lebih jauh rutinitas yang sebelumnya saya anggap membosankan, terkekang, dan “bukan diri saya”.

Tapi rupanya kalau kita menghadirkan hati di setiap apapun yang kita lakukan, nikmatnya akan datang dengan sendirinya, tenangnya hadir.

Terakhir, jangan lupa memberi waktu setiap pagi untuk “berdekatan” dengan Allah, sujud lebih panjang di tengah rasa kantuk dan gerutu kenapa pagi datang sangat cepat, menghadirkan hati dan pikiran disitu, meminta agar hari tersebut berjalan penuh khidmat, damai, dan produktif. Insya Allah, Allah berikan jalan untuk kita memaknai hari dengan lebih baik.

Selamat beraktivitas.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.