Jangan Minum Obat Kalau Sakit!

HEALTH

Seminggu yang lalu, saya membaca salah satu buku kesehatan yang berjudul “90% Penyakit Bisa Sembuh” karya Yutaka Okamoto, M.D.

Buku tersebut banyak menjelaskan tentang berbagai tips dan trik sederhana yang dapat dilakukaan oleh para penderita berbagai penyakit agar bisa sembuh tanpa harus ketergantungan dengan obat-obatan.

Buku ini sangat menarik ketika saya baca karena sejujurnya sejak beberapa tahun lalu saya sedang membiasakan diri untuk mengurangi mengonsumsi obat-obatan ketika sakit, kecuali memang keadaan tidak memungkinkan. Pernah beberapa kali saat sedang dalam masa-masa ujian di kampus dan saya didera demam tinggi, akhirnya saya memutuskan untuk minum obat agar tidak mengganggu aktivitas kuliah saya. Namun jika memang kondisinya tidak mendesak, saya akan lebih memilih meliburkan diri dari kampus dan beristirahat di kos.

Buku ini sangat menekankan pendapat bahwa cara yang tepat untuk mengatasi penyakit adalah dengan menghilangkan sumbernya. Pada dasarnya, ketika seseorang menderita sebuah penyakit, maka akan lebih baik jika ia mengupayakan dalam meningkatkan kemampuan penyembuhan diri daripada meminum banyak resep obat. Cara yang paling bijak adalah dengan mengenali penyakit sejak dini pada tahap “setengah sakit” atau pada saat kondisi tubuh yang tidak stabil seperti biasanya, didera pusing, mual, mudah lelah, dsb. Contohnya, ketika kita merasa “masuk angin”, kita dapat meningkatkan kemampuan menyembuhkan diri dengan berhenti bekerja, mengonsumsi air putih dan makanan bergizi lebih banyak, serta beristirahat secara penuh.

Jangan tergoda untuk langsung minum obat jika Anda masih mampu menahannya dengan beristirahat, berusahalah untuk mengurangi penggunaan obat, baik dalam jangka pendek atau jangka panjang, karena efek samping obat-obatan dapat memperlemah kemampuan kita dalam menyembuhkan diri. Tidak heran, mereka yang sering mengonsumsi obat ketika sekedar menderita flu memiliki sistem kekebalan tubuh yang rendah, bahkan dosis biasa tidak mampu lagi menyembuhkan penyakit sederhana tersebut, kebanyakan mereka harus menambah dosis dua kali lipat yang harus diresepkan oleh dokter. Saya sendiri punya pengalaman tersendiri dalam hal ini, dulu saya tidak mempan hanya dengan minum obat warung ketika didera demam atau flu biasa, saya harus datang ke dokter dan dokter akan meresepkan obat dengan dosis lebih tinggi untuk meredakan penyakit yang saya derita, alhasil saya sering merasa jantung saya berdetak lebih kencang dan sering was-was. Dokter yang dengan mudah meresepkan obat kepada pasien bukanlah dokter yang bijak, begitu pula dengan pasien yang selalu meminta obat setiap kali visit ke dokter langganan mereka, karena sesungguhnya obat itu adalah racun.

Dalam buku tersebut, menjelaskan bahwa penyakit dapat dibagi menjadi tiga kategori.

  1. Penyakit yang dapat sembuh dengan atau tanpa bantuan dokter
  2. Penyakit yang harus ditangani dengan bantuan dokter
  3. Penyakit yang tidak dapat diatasi meskipun dengan bantuan dokter

Penyakit-penyakit yang tergolong dalam kategori pertama contohnya adalah  sakit kepala, sembelit, nyeri pinggang, susah tidur, tekanan darah tinggi, kencing manis, kolesterol, kegemukan, influenza, dan lainnya.

Faktanya, 70% pasien yang datang berobat setiap harinya adalah termasuk dalam kategori  pertama. Padahal, para penderita penyakit kategori pertama ini sebenarnya dapat sembuh tanpa bantuan dokter dengan syarat mereka mau bersabar, merawat diri, dan meningkatkan kemampuan untuk menyembuhkan diri, seperti jauh dari stress, menjaga pola makan, dan berolahraga. Namun sayangnya banyak orang memilih cara yang instan untuk sembuh karena tuntutan pekerjaan yang tidak bisa ditinggal atau berbagai kesibukan lainnya. Padahal kesehatan mereka malah semakin terancam oleh efek samping obat-obatan yang seringkali dikonsumsi jika penyakit tersebut kambuh.

Sharing singkat kali ini bukan dominan bersumber dari pengetahuan yang sedikit saya miliki, namun lebih banyak berasal dari sumber terpercaya, yaitu dari buku ini, yang penulisnya adalah salah satu dokter yang memutuskan untuk berhenti menjadi dokter konvensional dan memilih membangun sebuah praktek pengobatan yang berfokus pada peningkatan kemampuan penyembuhan diri pasien tanpa obat-obatan. Sudah banyak pula pasien beliau yang akhirnya bisa membuktikan bahwa tanpa obat-obatan malah kesehatan mereka semakin meningkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.