It’s not about you.

Personal

Pagi tadi, saya menemukan kalimat ini melalui whatsapp story teman saya.

The way people treat you is a statement about who they are as a human being. Dont take it personal. It’s not about you.

Saya langsung jleb pas bacanya, jujur sebagai seorang yang overthinker, seringkali berbagai hal yang terjadi “diluar” diri saya mempengaruhi mood saya di luar kendali saya.

Contohnya denger cerita orang, dapat kabar kurang baik, denger temen ngeluh terus, atau bukan hanya dalam bentuk cerita, sikap seseorang yang sengaja atau tak sengaja saya perhatikan, terkadang sangat cukup untuk bikin saya menggerutu, sebal, dan ujung-ujungnya menghakimi.

Marah dan pasang muka bete adalah cara tercepat yang saya bisa lakukan untuk kasih “warning” kepada sekitar kalau saya sedang “gak baik-baik aja”, begitu pun dengan bentuk emosi lainnya seperti sedih, takut, dan frustasi sekalipun.

Dan juga sebagai anak yang sedikit perasa, kadang omongan orang lain bisa jadi satu perkara besar untuk saya sendiri, saya terlalu banyak memasukkan ke dalam pikiran dan ujung-ujungnya masukin ke hati, ini penyakit saya, alhasil saya banyak menjauhi orang karena takut tersakiti oleh mereka.

Kalau dipikir-pikir, “faktor luar” itu akan selalu kita hadapi setiap saat, yang mana tidak bisa kita kontrol sama sekali, cara merespon kita mungkin perkara yang harus kita pelajari dengan lebih baik, upaya untuk kembali menenangkan pikiran yang ricuh dan hati yang gelisah merupakan proses panjang untuk mempelajari emosi kita masing-masing.

Apabila disakiti oleh orang lain, saya mulai mampu untuk mengambil alih emosi kurang baik itu dan mengalihkannya dengan ngobrol dengan diri sendiri bahwa saya sedang memiliki emosi tertentu, dan kalimat pembuka di atas bisa sangat ajaib mengubah gerutuan dan rasa marah itu menjadi prasangka yang baik untuk diri sendiri, bahwa kalimat-kalimat yang muncul di luar sana tak selamanya harus di dengar, dan satu dua kalimat menyakiti itu adalah buah perilaku orang lain yang seharusnya bukan tentang diri saya.

Mereka yang mudah menyakiti, menghakimi, dan bentuk sikap judgemental lainnya adalah mereka yang hatinya belum terpaut kepada ketenangan, ini bukan lagi tentang diri saya. Saya sangat percaya bahwa buah pikiran dan sikap mencerminkan isi hati seseorang.

Menyakiti, menghakimi, memarahi, dan bentuk emosi negatif yang dikeluarkan tersebut mutlak bukan sebuah cara yang baik untuk mengingatkan, memberitahu, atau memberi peringatan kepada orang lain, karena tujuan-tujuan baik awalnya yang terkonfrontasi dengan emosi yang gak baik ini malah membuat masalah baru untuk orang lain.

Saya juga masih sering mengeluarkan atau memperlihatkan emosi-emosi negatif ini, tapi tulisan ini sebagai kaca besar untuk menjadi cermin diri bahwa saya harus punya kendali untuk percaya pada diri saya dan fokus pada ketenangan saya sendiri walaupun hiruk pikuk di luar sana sudah sangat menyita perhatian banyak orang, termasuk kita. Yang lain mungkin gagal berdiri untuk dirinya sendiri, kita jangan sampai tidak, emosi kalau sudah dipegang oleh orang lain, sulit untuk diminta kembali.

Mereka yang marah, mengeluarkan kata-kata menyakiti, dan sikap buruk lainnya adalah permasalahan panjang yang seharusnya mereka sadari dan ubah untuk dirinya sendiri. Kita adalah diri kita berikut berbagai benar dan salah yang kita punya, memfokuskan pada perbaikan diri sendiri jauh lebih baik untuk mengambil alih energi besar tersebut agar tak terbuang sia-sia.

2 thoughts on “It’s not about you.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.