I can not Win at Everything

Kalau bisa saya bagi, aspek hidup saya yang sedang saya perbaiki pelan-pelan mungkin kalau dikelompokkan menjadi beberapa, itu bisa menjadi Work, home chores, finance, health (mind and body), finance, family, social life, spiritual life, dan personal growth.

Dari dulu, saya punya obsesi, yang saya sangat sadari sekali, untuk bisa maksimal di semua hal tersebut. Mungkin disebabkan ambisi kecil itu, hubungan saya menjadi tak begitu baik dengan time management, relationship, ataupun hubungan personal ke diri sendiri maupun orang lain.

Dalam 24 jam, sejak bertahun lalu, saya membuat pola teratur supaya bisa memetakan hari saya bisa berjalan (setidaknya) produktif. Namun, semakin kesini, saya mulai mengendorkan diri, saya tak lagi memetakan jam tertentu harus melakukan apa, misalnya jam 7 baca buku, jam 9 berangkat kantor, dll.

Saya mulai membuat itu lebih mengalir apa adanya, namun tetap dengan sistem tertentu yang lebih manusiawi dan sehat secara mental untuk diri saya. Saya tetap membuat rutinitas yang baik untuk dilakukan dan tidak terlalu wajib untuk dipenuhi semuanya dengan durasi atau target tertentu, namun ketika sedang dikerjakan saya mengusahakan untuk benar-benar fokus disana, tak menggebu memanggil memori lainnya untuk membuat daftar pekerjaan apalagi yang harus atau seharusnya saya lakukan. Saya membuat rutinitas baik tersebut dan membaginya menjadi rutinitas pagi hari, rutinitas di kantor, dan rutinitas malam hari.

Seiring dengan pemahaman sebelumnya, saya pun menyadari bahwa ambisi saya untuk membuat semuanya berjalan sempurna dan sistematis benar-benar tidak baik untuk diri saya sendiri, terutama pikiran saya.

Saya tidak akan mampu untuk terus menerus bersamaan berhasil dalam perkerjaan, mengurus urusan domestik di kos, mengurus blog saya, menyeimbangi dengan meningkatkan personal skill dengan banyak baca buku atau mengikuti event, dan bersamaan juga harus bersosialisasi dengan teman lama atau menambah teman baru. Saya benar-benar tidak ada energi dan waktu untuk menyeimbangkan semua hal tersebut. Karena saya tetap harus mempertimbangkan kesehatan mental saya sendiri.

Untuk itu, saya benar-benar sedang memahami apa yang menjadi prioritas dari hal-hal yang saya sebutkan sebelumnya, apakah aspek pekerjaan, kesehatan, kehidupan sosial, atau pengembangan diri saya pribadi. Satu per satu (butuh) saya kendorkan bahkan lepaskan dengan kesadaran penuh.

Jika saya tidak tau apa prioritas hidup saya, saya sudah barang tentu akan sangat mudah terombang ambing ketika melihat milestone orang lain. Sering sekali terjadi di hari-hari sebelumnya, saya teramat frustasi melihat rekan kerja saya lebih hebat dari saya dalam segala hal, hal ini semakin dipersulit dengan tak hanya satu dua orang yang seperti itu, namun hampir semua dari mereka yang selevel dengan saya di pekerjaan saya yang sekarang bisa dibilang lebih advanced dari segi pengetahuan dan skill ketimbang saya sendiri. Belum lagi ketika melihat teman-teman saya yang berdomisili di Jakarta, bukan perantauan seperti saya, yang bisa menabung lebih banyak tanpa harus mengeluarkan extra budget seperti saya untuk membayar kos, konsumsi, bahkan biaya untuk mudik.

the list goes on…

Saya benar-benar tidak bersahabat dengan diri dan cenderung menyalahkan diri saya sendiri karena tidak becus dan bersamaan memiliki perasaan-perasaan tidak baik tersebut kepada orang lain.

Setelah membaca dan mendengar dari banyak sumber, serta merenungkannya baik-baik. Saya memang sangat butuh untuk membuat prioritas diri, yang sangat mungkin berbeda dengan orang lain, yang barangkali bahkan tentu saja sangat mungkin menentukan di aspek mana masing-masing dari kita terlihat lebih bersinar dari kebanyakan orang.

Saya tidak tau, apakah memang ada seseorang atau banyak orang di luar sana yang mampu menyeimbangkan dan hebat di segala sisi kehidupan. Namun saya tak ingin lagi mencari tau jawabannya dan semakin memberi perspektif buruk pada diri sendiri, saya benar-benar sedang dalam perjalanan di jalur saya sendiri, perjalanan untuk bersahabat dengan diri sendiri agar bisa berkembang bersama-sama.

Dengan begitu, kecemburuan dan usaha membandingkan diri dengan teman-teman di beberapa circle kehidupan saya pun sedikit demi sedikit berkurang, belum sepenuhnya, tapi saya sadari dan pahami sekali, saya sedang ber-progress ke keadaan yang lebih baik dan beban saya sedikit berkurang dari hari-hari lalu.

Tentu bukan berarti ketika saya mengatakan saya mengendorkan dan melepaskan beberapa aspek tersebut saya menjadi benar-benar abai dengannya. Tidak sama sekali. Melainkan, ini berpengaruh dengan ekspektasi dan action yang saya lakukan pada saat itu.

Bahkan dengan memahami saja bahwa saya tidak akan bisa menang di segala hal, membuat ekspektasi saya kepada kehidupan menjadi jauh berkurang, sedikit demi sedikit, saya mulai menikmati hari-hari saya bahkan ketika itu berarti saya tidak bisa membaca lebih banyak lembar buku karena harus berangkat lebih pagi ke kantor, atau saya tidak bisa bersosialisasi dengan teman-teman saya yang sedang berkumpul bersama karena saya sedang ingin-inginnya mempelajari sesuatu di kos atau di workshop tertentu. Poin terpenting adalah rasa bersalah dan tak nyaman karena melewati satu dua hal, bahkan perasaan lebih tertinggal dari orang lain mulai berkurang.

Saya tak diburu waktu untuk mafhum segala hal sekali waktu ketika saya tau ada yang salah dengan diri saya. Kesadaran ini tak datang tiba-tiba, tapi ketika saya terus menerus merasakan hubungan tak nyaman dalam diri dan luar diri. Dengan demikian, pemahaman untuk mengetahui mana yang menjadi prioritas di hidup saya juga tak akan bersamaan langsung saya pahami sekarang, mungkin akan ada banyak pengalaman-pengalaman yang harus saya lalui terlebih dahulu untuk bisa menentukan apa yang paling penting di hidup saya. Yang pasti sisi spiritual, keluarga, kesehatan, dan pengembangan diri sudah saya pahami sekali menjadi prioritas utama saya, namun untuk aspek lainnya, I still figure it out... sampai ia benar-benar melekat pada diri saya tanpa harus secara sadar saya tentukan ‘secara manual’ mana yang lebih penting ketika sedang menghadapi satu atau dua pilihan

Untuk sekarang, saya membuat sistem yang baik untuk saya, melakukannya dengan baik, tulus dan sepenuh hati, lalu menunda, memperlambat, atau melepaskan jika itu sudah sangat membebani pikiran. dan fisik saya.

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.