menghindari hutang

Debt Trap Experience – How to Stay Out of Debt

Personal

“Saya tidak mau berhutang”

Saya tidak mengatakan seperti itu, saya lebih memilih untuk menggunakan kalimat “Saya ingin menghindari hutang”.

Kenapa?

Karena sesungguhnya di dalam agama pun tidak ada larangan secara mutlak bahwa kita semua tidak boleh berhutang ketika memang kondisi sedang sangat genting dan sebisa mungkin menjauhi riba. Mungkin saja suatu saat saya harus berhutang karena kondisi tertentu. Saya sendiri sadar bahwa saya masih berstatus mahasiswa yang memang tuntutan, peran, dan kewajibannya tidak setinggi mereka yang sudah bekerja atau berumah tangga.

Untuk sekarang memang tuntutan saya hanya menyelesaikan studi saya dan mulai merintis bisnis yang sedang saya jalani.

Sekali lagi, mungkin saja suatu saat nanti saya harus berhutang di saat kondisi tertentu. Saya tidak tau.

Tapi untuk sekarang dan insya Allah nantinya, saya berusaha untuk menghindari hutang sebisa mungkin, atau jika saya berhutang, sebisa mungkin berusaha melunasinya sesegera mungkin. Insya Allah.

Saya teringat masa SMA saya dulu, saat-saat dimana saya memiliki keinginan untuk kuliah di luar Aceh namun kondisi keuangan orang tua saya sedang kritis-kritisnya.

Saat itu ayah saya terjebak hutang bank dengan nominal yang tidak sedikit.

Alhasil penghasilan dari usaha ayah saya lebih banyak digunakan untuk menutup hutang bank, bahkan hanya bunganya saja, belum hutang pokoknya.

Saat itu, saya bertanya, kenapa harus di saat saya memiliki mimpi untuk melanjutkan kuliah saya di luar? kenapa di saat saya memerlukan banyak uang untuk kuliah saya malah ayah saya bangkrut? Saya banyak menyalahkan kondisi saya saat itu walaupun pada akhirnya saya bisa memetik hikmahnya dari masalah tersebut.

Salah satu hikmahnya adalah saya akhirnya bisa mengambil pelajaran dari orang tua saya.

Kesalahan ayah saya saat itu adalah ayah saya meminjam uang bank bukan untuk sesuatu hal yang produktif atau bisa menghasilkan uang lagi, melainkan ayah saya menggunakan uang tersebut untuk sesuatu yang konsumtif yang nilai barangnya terus berkurang dari waktu ke waktu.

Alhasil, saat itu ayah saya menyadari bahwa kemampuan ayah saya untuk mencicil hutang dari penghasilan yang ia miliki jauh dibawah cicilan bulanan wajib yang harus ia bayar ke bank.

Pada akhirnya, barang yang ia beli dari pinjaman bank tersebut akhirnya terpaksa dijual, dan uangnya digunakan untuk menutup hutang bank. Seperti yang saya katakan tadi, karena nilai jualnya menurun, hutang tersebut tidak bisa tercover semua. Kalau dipikir-pikir sekarang malah lucu, pinjam uang bank untuk membeli barang tapi akhirnya barang tersebut dijual kembali untuk menutup hutang bank, bahkan tidak tertutup seluruhnya.

Mungkin pelajaran lain yang bisa saya ambil adalah jangan mengikuti lifestyle orang jika memang kita tidak mampu. Bersyukur dengan apa yang ada dan jangan terlalu mengikuti nafsu.

Dari situ, kehidupan kami berubah, dari yang dulu saya merupakan pribadi yang sangat boros, lambat laun saya mulai mengerti kondisi orang tua saya dan belajar untuk mengendalikan diri agar tidak terlalu konsumtif, salah satunya dengan mengelola keuangan saya.

Saya tertarik dengan salah satu tulisan dari seorang blogger bernama Ola Aswandi, Anda bisa membacanya disini. Ia merupakan salah satu orang yang sangat menghindari hutang dan berbagai cicilan kredit lainnya.

Saya pun sadar, terikat dengan bank sungguh tidak mengenakkan, tidak berkah, dan masalahnya tidak kunjung selesai, terus berakar dan menyebar.

Dari hutang, keluarga jadi bermasalah.

Dari hutang, kehidupan ekonomi keluarga tidak tercukupi.

Dari hutang, pendidikan anak harus terkorbankan.

Dan berbagai hal lainnya.

Saya belajar banyak dari kesalahan orang tua saya.

Maka dari itu, saya berusaha tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Jika memang saya harus berhutang nantinya, saya akan memikirkan beberapa hal terlebih dahulu.

  1. Saya akan berhutang jika memang saya sudah sangat kepepet atau tidak memiliki pilihan lain untuk memenuhi kebutuhan tertentu.
  2. Saya akan berhutang, jika tujuan saya berhutang memang untuk sesuatu yang produktif yang bisa mendatangkan penghasilan kembali kepada saya.
  3. Saya akan berhutang, setelah memastikan bahwa penghasilan yang saya dapatkan bisa cukup untuk membayar cicilan hutang saya dan bisa tetap memenuhi kebutuhan keluarga saya nantinya.
  4. Saya berusaha untuk menghindari riba dengan mencari alternatif berhutang yang lebih aman dunia dan akhirat.
  5. Bismillah, terus berusaha untuk mensederhanakan diri dengan belajar mengendalikan diri terus menerus agar bisa terhindari dari besar pasak daripada tiang (besar pengeluaran daripada pendapatan).
  6. Sekecil apapun hutang, segera dibayar kembali.

Itu saja sharing saya kali ini, semoga bermanfaat untuk pembaca semua. 🙂

1 thought on “Debt Trap Experience – How to Stay Out of Debt”

  1. Alasan terbesar begitu orang berhutang karena malas dan melebihi kapasitasnya. Saya pribadi tak pernah berhutang, lebih baik tak mampu dibandingkan beli namun harus hutang dan kebutuhan lain tak tercukupi dan prinsip itu terus terjaga. Tulisannya menginspirasi termasuk saya yang membacanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *