Photo by fotografierende on Unsplash

How Would an Ideal Life Be?

Personal

Berapa kali saya mengingatkan diri untuk tidak berekspektasi terlalu jauh tentang masa depan.

Versi hidup ideal bagi setiap orang tentunya beda-beda, saya pun punya, bahkan hidup saya yang sekarang masih jauh dari yang saya jadikan standar untuk sebuah kenyamanan satu dua tahun lalu.

Apalagi semenjak merantau, hak milik saya terhadap sesuatu rasanya saya sudah tidak lagi punya, segalanya selalu diembeli “sementara”, contohnya “rumah ini hanya sementara saya tinggali, sehingga saya tidak bebas untuk memberi sentuhan ‘karakter saya’ disitu”.

Di salah satu postingan di instagram, saya juga pernah cerita, kalau saya rindu yang namanya “rumah”.

View this post on Instagram

Tentang Kondisi Ideal Dulu, kali pertama tempat pulang akhirnya sementara berubah, dan beberapa lama setelahnya kembali, ada yang berbeda, ruang kecil yang pernah diisi barang-barang pribadi akhirnya beralih milik, ada sentuhan lain disana Belakangan, keinginan kecil untuk merasakan tempat yang namanya "rumah" kembali hadir, kamar kecil, dapur bersih, ruang rehat nyaman, sekedar menjadi tempat pulang yang hangat untuk mengumpulkan energi kembali, berkreativitas, berkarya, atau sekedar bengong menatap jendela,senyap pun kadang ku rindukan Bukan berarti yang dulu bukan rumah, yang satu itu tetap punya ruang sendiri, kadang yang kurindukan adalah terlentang diatas kasur, atau mencoba resep baru, sesederhana kegiatan tanpa ekspektasi, tanpa ambisi, hanya untuk tenang kembali Selamat bagi yang telah menemukan.

A post shared by Putri Nuzulil (@putrinuzulil) on

Saya selalu bertanya, hidup ideal apakah benar-benar ada?

Hidup ideal versi saya yang berumur 17 tahun adalah, kuliah di kampus prestige, tinggal di kosan dengan kamar sendiri, saya punya “ruang dan kuasa” untuk menjadi dan memiliki diri saya sendiri, untuk melakukan apapun yang saya senangi.

Di umur saya yang sudah 23 tahun ini, apakah keinginan kecil 6 tahun lalu tersebut tercapai? Beberapa iya, saya bisa kuliah di tempat yang saya inginkan, hidup sendiri, menjalani bidang yang benar-benar saya minati, tapi apa selesai sampai disitu? tidak, nyatanya saat dijalani, saya masih mempertanyakan hidup ideal saya. Masih ada yang kurang, pikir saya. Tapi apa? dan Oh, tak semua yang saya idealkan 6 tahun lalu tercapai tentu saja.

Setelah dijalani, pada akhirnya saya mengambil satu kesimpulan bahwa hidup ideal versi saya penuh dengan upgrade-an, versi ideal saya 5 tahun yang lalu nyatanya berbeda dengan hari ini, mungkin berbeda lagi beberapa tahun nantinya, saya tidak tau.

Saya pun mewanti diri untuk “sudahlah, jalani saja”, dengan tidak terlalu memikirkan konsep ideal itu sendiri, bagi saya mematok masa depan sebagai hidup ideal menunda diri untuk menikmati hidup masa ini, seperti ada pembanding bahwa “hidup kali ini tidaklah ideal”, dan sesuatu harus dikejar jika saya mau sebuah kondisi disebut dikatakan “ideal”.

Masa depan tak pernah pasti menjadi milik kita, dan sudah sepantasnya saya lebih “hidup” pada momen sekarang, menjalani dengan sepenuh hati, menciptakan nyamannya sendiri.

Apa mematok masa depan tidak boleh?

Masih kok, jelas, saya ingin punya kehidupan yang lebih baik setiap harinya, siapapun itu pasti punya keinginan yang sama.

Tapi bagi saya, yang namanya hidup ideal penuh kenyamanan dan kebahagiaan 100% tidak pernah menjadi milik manusia di bumi ini.

Punya masalah, apakah berarti kata ideal itu bergeser?

Rupanya di simpang jalan, alur hidup harus diubah, bergeserkah hidup ideal kita? apakah titel ideal itu harus dilepaskan dan dikejar kembali?

Atau memang kata “ideal” itu hanya sementara? letupan kebahagiaan pada titik tertentu setelah dicapai, lalu sekejap mata sedikit demi sedikit atau terlonjak jatuh berubah alur, berbelok, atau mundur lagi, atau keinginan untuk naik lagi, siapa yang tau selain Yang Maha Kuasa.

Tak harus semua sepaham dengan pemikiran saya ini, saya hanya sedang mencoba menjalani dengan penuh syukur apa yang saya punya saat ini, terlepas dari semua materi, tapi juga masalah yang memberi pemahaman, ketidaknyaman yang harus dijalani dengan sabar, dan ikhlas terus memberi walau penerimaan dalam bentuk apapun masih ditunda oleh Allah, atau berbagai karunia lain sebagai pengganti yang lupa atau saya acuhkan semudah saya terus berucap berbagai keinginan-keinginan baru tanpa melihat jejak saya dibelakang yang kadang atau mungkin saja menjadi “keinginan besar atau kecil” bagi seseorang yang lain.

Sabar, Ikhlas, Syukur. Ujian semua orang, strata apapun yang diciptakan manusia.

Hidup ideal bagi saya mungkin bisa diganti dengan Hidup penuh sabar, ikhlas, syukur, “Hidup yang lebih baik”. Hati yang baik, insya Allah membawa sejuknya sendiri untuk sang pemiliknya. Mencari hidup ideal tidak masalah, di upgrade pun setiap beberapa lama juga tidak masalah, tapi hari ini juga harus “hidup”, semoga sedikit banyak dari beberapa parameter ideal itu akhirnya bisa dicapai, karena 100% bukan miliknya manusia.

Sedih, senang, khawatir,marah, malu, adalah bagian dari emosi manusia. Sepaket tidak bisa dipilih, tapi kalau dicoba sadari, semuanya bisa dinikmati dan diberi arti menurut porsi baiknya.

2 thoughts on “How Would an Ideal Life Be?”

  1. Setuju sekali Put sama pendapat kamu di atas. Menurutku hidup itu sementara, ya walaupun ambisi itu perlu, tapi mensyukuri apa yang sudah dimiliki, mencoba berpikir positif akan suatu hal, dan living in the moment juga perlu sebagai teman hidup yang ngebuat ‘sementara’ ini bisa berarti. Trims Put sudah mengingatkan lagi lewat tulisan ini. Sukses selalu, ditunggu tulisan berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.