predikat-tukang-galau-683x1024

Here’s the thing..

Personal

Tepat sekitar jam 6 pagi, hari ini hari minggu, saya duduk di bangku teras kosan, dengan satu cup Kopi Janji Jiwa yang saya beli kemarin saat diskon, menonton youtube sambil menyesap kopi yang nikmat, dan memutuskan menulis (lagi).

Suasana yang (harusnya) menenangkan tapi nyaris hati dan pikiran saya tidak sebegitunya dengan ritme yang serupa.

Mari saya awali cerita ini dengan sebuah pernyataan “saya bingung”.

Nyatanya mengeluarkan isi hati bagi saya tidak semudah itu, bahkan kepada orang tua sekalipun.

Perasaan tidak nyaman ini bermula akan kerisauan saya akan status posisi saya di kantor yang sekarang. Saya belum nyaman dengan kata ketidakpastian, dan saat ini saya sedang dilanda dilema tentang bagaimana jenjang karir saya kedepannya dan lebih parahnya lagi saya harus menghadapi resiko di lay off dari kantor sekarang kapan saja kedepannya.

Kontradiksi antara kenyamanan dan keinginan untuk bertahan yang semakin besar yang tak diiringi dengan kepastian saya bisa dipertahankan atau tidak. Tepat kemarin saya berkesempatan untuk mengikuti tes kenaikan posisi, atau lebih tepatnya ujian untuk mendapatkan kepastian status sebagai karyawan di kantor.

Dan jujur saja, saya tidak puas dengan apa yang sudah saya kerjakan di tes tersebut, walaupun belum ada pengumuman pastinya, tapi melihat kualitas rekan saya yang mengikuti tes yang sama dan membandingkannya dengan apa yang sudah saya kerjakan, saya terlampau minder mengakui bahwa mungkin saja saya tidak se-qualified itu.

Saya malu mengakui bahwa saya belum memberikan yang terbaik dari yang saya bisa, saya tidak maksimal dalam mempersiapkan diri untuk tes, saya menunda-nunda pekerjaan hingga batas waktu pengerjaan hampir habis.

Saya yang tau apa yang harus diprioritaskan tapi malah mengisi waktu dengan bermain hp terlebih dahulu dengan dalih ingin mencari inspirasi supaya semangat mengerjakannya, yang padahal kalau saya renungi kembali, saya takut menghadapi situasi tertekan, saya malas belajar untuk sesuatu yang dikompetisikan, saya enggan merasakan perasaan tidak nyaman akan suatu topik yang belum saya mengerti, atau rasa tertekan dikejar-kejar waktu, rasa tertekan karena harus mengerjakan sesuatu karena ada target yang harus dicapai. Saya enggan merasakan proses belajar dan membaca yang seharusnya saya senangi tapi harus dibumbui dengan kompetisi, saya ingin menikmati prosesnya, tapi nyatanya saya harus belajar dan bekerja dengan ritme yang tertekan, saya ketakutan akan ketidakpastian, saya malas menghadapi perasaan “kalau aku tidak lulus tes ini, kemungkinan jenjang karirku kedepannya akan stuck“.

Saya malu mengakui bahwa saya telah mengorbankan banyak waktu saya untuk sesuatu yang sia-sia, yang seharusnya belajar itu bisa saya nikmati jika saya mempersiapkan diri jauh-jauh hari. sehingga tidak tertekan waktu yang semakin menipis, atau tertekan melihat orang lain lebih advanced dari saya, atau seandainya saya menikmati proses bekerja selama ini dengan sebenar-benarnya untuk belajar, menambah skill, menambah pengetahuan, mungkin saya sudah memahami berbagai hal yang diujikan pada tes kemarin tanpa harus belajar penuh tekanan di akhir-akhir waktu mendekati tanggal tesnya.

Saya menyesal tidak bekerja dengan sebenar-benarnya, tidak sepenuh hati, saya menyesal mengkonversi segala tindakan saya dengan umpan pendapatan yang kemungkinan akan saya dapatkan, saya mengotori makna harfiah “belajar” dengan ambisi untuk naik pangkat dan mendapatkan gaji yang lebih besar. Saya sedih mengakui bahwa saya terlalu merisaukan sesuatu yang sebenarnya Allah sudah tetapkan jauh sebelum saya ada di bumi ini; rezeki. Saya risau dengan masa depan pekerjaan saya, apakah kedepannya saya masih bisa membayar kos sendiri, apakah memungkinkan saya menyisihkan gaji untuk membawa orang tua dan adik saya jalan-jalan tanpa membebankan mereka lagi, apakah saya bisa memiliki kesempatan untuk meng-upgrade kehidupan saya lebih baik kedepannya dengan tambahan gaji didepan mata, walau saya mengakui gaji saya sekarang masih cukup untuk bertahan hidup, namun semua itu dinodai dengan ego saya yang terluka melihat orang lain bisa memiliki hidup lebih baik dengan pendapatan yang dimilikinya, atau kenyataan saya lulusan kampus ternama namun tidak sebegitu kompetitifnya dengan rekan saya yang lain.

Saya mengakui ini salah, tapi tetap saja resahnya masih kian terasa walaupun saya terus mengenyahkannya, saya takut tidak mampu sepenuhnya memurnikan niat kembali nantinya saat bekerja karena semakin tidak adanya kepastian akan status saya di kantor tersebut kedepannya.

Saya ingin menjalani hidup saya sebaik-baiknya kembali, tidak merisaukan rezeki, bekerja sepenuh hati dengan niat ibadah dan menambah pengetahuan serta kemampuan, dan mau mengakui kesalahan, menyesal dengan porsinya, dan belajar dari kesalahan tersebut untuk bangkit kembali walaupun situasi kedepannya tidak bisa terprediksi, atau mungkin bisa, dan kemungkinan jawaban yang menyakitkan sekalipun.

Menerima konsekuensi dari masa lalu yang dimana saya salah dalam mengambil langkah dan menerima konsekuensinya dengan ikhlas dan terus bangkit memperbaiki diri dan menunjukkan kepada Allah bahwa saya ingin berubah, bukan untuk ditunjukkan kepada manager saya atau senior saya yang lain, tapi kepada Sang Pemilik Skenario Kehidupan, karena pada dasarnya hati manusia mudah sekali dibolak balikkan oleh Allah SWT.

Saya miskin rasa syukur, sabar, dan ikhlas. Bahkan dengan kenyataan bahwa masih banyak di luar sana yang belum mendapatkan pekerjaan sekalipun, saya malu mengakui kenapa saya meresahkan sesuatu yang sebenarnya saya harus banyak syukuri. Saya sudah menuangkan penyesalan saya belakangan ini, semua sedikit demi sedikit menjadi jelas.

Ego saya yang terluka, saya menodai kehidupan saya dengan status sosial, pride, kesombongan, keriyaan, dan mengemis pengakuan orang lain. Alangkah menyenangkannya memang menjalani hari-hari dengan niat murni dan menghadapi kehidupan tanpa bumbu-bumbu ego yang memiskinkan nilai baiknya.

Sesekali kalah dan berada di baris belakang, sesekali menang dengan syukur dan mawas diri untuk tidak berpikir paling hebat dari yang lain, karena bagi saya hasil adalah bukan kuasa kita, prosesnya lah yang penting.

Saya harus paham bahwa walaupun saya sudah mencurahkan hidup saya sebaik-baiknya yang saya mampu sekalipun, hasil tidak menyenangkan pun akan sangat mungkin saya dapatkan, karena itu kuasa Allah, ia yang Maha Menentukan apa yang baik bagi saya, dan nilai kehidupan apa yang sedang Ia ingin ajarkan kepada saya, mungkin tentang kemurnian niat, kerendahan hati, dan lain sebagainya, tapi yang pasti kalau semua diartikan untuk beribadah, Allah sungguh akan menjamin penghidupan yang lebih baik di dunia dan akhirat nanti. Pemahaman yang sulit diakui benarnya karena merasa diri paling pantas atau benar dalam menentukan arah hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.