Having a Family and Kids

Saya termasuk seseorang yang menyukai anak-anak. Setahun ke belakang perasaan senang bercengkerama bahkan melihat mereka hanya sekedar di layar TV pun saya bisa senang sekali.

Tontonan bertema family pun menjadi salah satu series favorit saya belakangan ini. Sejak dulu memang saya sesekali merasakan keinginan untuk memiliki mereka untuk diri saya sendiri. Harapan besar untuk bisa memiliki anak semakin menjadi saat saya benar-benar hidup sendiri di perantauan.

Sesekali ada bayangan dalam pikiran di tengah rutinitas pekerjaan saya yang rumit dan sulit, bagaimana jika situasinya bertambah dengan saya memiliki keluarga sendiri dan anak. Akankah saya benar-benar bisa melepaskan keinginan saya untuk juga memiliki sebuah pekerjaan dan hanyut dalam rutinitas seperti sebelumnya?

Tapi keinginan untuk hidup disekitar anak kecil pun tak pernah surut untuk saya bayangkan, bahkan setiap hari. Saya pun mulai mengikuti akun-akun parenting dan memiliki keinginan untuk mendalami dunia mereka lebih jauh.

Ada hasrat tak kasat mata yang muncul untuk mencari tau mengapa mereka bisa tertawa lepas, menangis, takut, dan perasaan spontan lainnya. Akan semembuncah apa perasaan seorang ibu ketika berhadapan pertama kali dengan anak mereka, melihat rupa wajah baru perpaduannya dengan pasangan? Akan serumit apa pikiran sang ibu untuk belajar memahami makhluk kecil yang sedikitpun tidak paham dirinya dan sekitaranya? Akan selelah apa kehidupannya dengan tambahan tanggung jawab yang mereka pilih tersebut?

Saya terus membayangkan semembuncah apa perasaan saya ketika memegang tangan mereka yang mungil, melihat mata mereka yang jernih, rasa terikat untuk meminta perhatian dan perlindungan. Namun terus saja saya pun dihinggapi pertanyaan-pertanyaan lain, apakah saya sudah mampu menghimpun tanggung jawab tersebut sebagai ibu? seperti di postingan sebelumnya, terkadang saya pun sering menghela nafas dengan kehidupan saya sendiri, apakah saya akan mampu memiliki mereka dengan sehimpun perasaan utuh menghadapi mereka tanpa ketakutan dari dalam diri?

Terlebih jika memikirkan pihak kedua, yaitu pasangan, apakah ia akan cukup suportif dan terbuka untuk sama-sama belajar membina keluarga? Apakah ia memiliki cukup keberanian untuk memimpin keluarganya nanti? Apakah ia akan melibatkan saya dalam mencari solusi bersama saat satu dua hal terjadi? Akankan mudah untuk menjalin komunikasi yang benar, baik, dan dua arah diantara kami nantinya?

Memiliki anak yang saya pahami tak sekedar tentang mereka dan saya, namun juga tentang ayah dan ibunya. Apakah mereka akan satu paham dan suara dalam mengarahkan dan memberi petunjuk satu sama lain. Saya masih sangat banyak luput akan banyak hal, tapi tetap saja, keinginan untuk memiliki seseorang yang tumbuh di dalam tubuh saya sejak awal tidak pernah pudar sampai hari ini.

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.